
BEKASI, cimutnews.co.id – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mendorong Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat memperkuat peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperluas kolaborasi usaha, serta meningkatkan daya saing pelaku bisnis di tengah peluang ekonomi daerah.
Dorongan tersebut disampaikan Herman saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah HIPPI Provinsi Jawa Barat masa bakti 2025–2030 di Hotel Horison, Kota Bekasi, Senin (28/9/2026) sore. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,73 persen pada triwulan II 2026 menjadi momentum bagi pengusaha untuk memperluas usaha, meningkatkan kapasitas, dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Herman Suryatman Tekankan Pentingnya Ekonomi Inklusif
Dalam pembukaan Rakerda, Herman mengapresiasi kiprah HIPPI dalam mengembangkan dunia usaha di Jawa Barat. Namun, ia menegaskan bahwa kontribusi organisasi pengusaha tidak cukup diukur dari aktivitas kelembagaan, melainkan juga dari karya nyata yang mampu membuka kesempatan bagi berbagai kalangan.
Menurut Herman, prinsip inklusivitas perlu menjadi landasan dalam membangun hubungan antarpelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi juga memberikan kesempatan kepada lebih banyak pelaku usaha untuk berkembang.
“Saya apresiasi HIPPI. Tentu kami berharap HIPPI bisa membuktikan dengan karya yang inklusif. Human relationship kan harus inklusif,” kata Herman.
Ia juga berharap HIPPI mampu menghasilkan prestasi yang mendorong anggotanya naik kelas, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi daerah.
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat 5,73 Persen Buka Peluang Ekspansi
Pemerintah dorong pengusaha manfaatkan momentum ekonomi
Herman menyampaikan bahwa perekonomian Jawa Barat menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data yang dipaparkannya dalam Rakerda, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II 2026.
Pertumbuhan tersebut didukung sejumlah komponen ekonomi, antara lain belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi, serta aktivitas ekspor dan impor. Perkembangan berbagai sektor tersebut dinilai membuka ruang bagi dunia usaha untuk memperluas kegiatan bisnis dan menjajaki peluang pasar baru.
Herman meminta para pengusaha HIPPI tidak melewatkan momentum tersebut, terutama dengan mengidentifikasi sektor yang memiliki potensi pertumbuhan dan memperkuat kemampuan perusahaan dalam merespons perubahan pasar.
“Silakan teman-teman pengusaha ambil peluang, opportunity, baik di sektor government, konsumsi, investasi, bahkan di ekspor-impor. Ruang sangat terbuka,” tuturnya.
Menurut Herman, pertumbuhan ekonomi yang positif dapat menjadi pijakan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan skala bisnis. Meski demikian, pemanfaatan peluang tersebut membutuhkan kesiapan, inovasi, serta kemampuan membangun kemitraan yang berkelanjutan.
Ekspansi usaha perlu diikuti peningkatan kapasitas
Dorongan ekspansi yang disampaikan Herman juga berkaitan dengan pentingnya peningkatan kapasitas pengusaha. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menjamin seluruh pelaku usaha memperoleh manfaat yang sama, sehingga diperlukan strategi bisnis yang mampu menjawab kebutuhan pasar dan perubahan kondisi ekonomi.
Pengusaha dituntut tidak hanya mempertahankan kegiatan usaha yang sudah berjalan, tetapi juga mengembangkan produk, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memanfaatkan peluang investasi.
“Ekonomi Jawa Barat sekarang bertumbuh. Ini adalah waktu yang tepat untuk ekspansi, waktu yang tepat untuk naik kelas,” kata Herman.
Bonus Demografi 2025–2030 Jadi Momentum Strategis
Selain pertumbuhan ekonomi, Herman menyoroti periode bonus demografi 2025–2030 sebagai peluang penting bagi pembangunan daerah. Menurutnya, momentum tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan produktivitas dan keterlibatan generasi usia produktif dalam kegiatan ekonomi.
Bagi dunia usaha, ketersediaan tenaga kerja produktif dapat menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas layanan, dan mendorong inovasi. Namun, potensi tersebut memerlukan dukungan berupa peningkatan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Herman mengingatkan bahwa peluang bonus demografi memiliki batas waktu. Karena itu, pengusaha dan pemangku kepentingan perlu menyusun langkah strategis agar potensi sumber daya manusia dapat memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
“Mumpung kita juga ada momentum bonus demografi 2025-2030. Kalau lepas dari itu, momentumnya sudah hilang. Jadi manfaatkan waktu lima tahun ke depan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Rakerda HIPPI Diharapkan Hasilkan Program Kerja Konkret
Rakerda HIPPI Jawa Barat masa bakti 2025–2030 diharapkan tidak hanya menjadi agenda konsolidasi organisasi, tetapi juga menghasilkan program kerja yang relevan dengan tantangan dan peluang ekonomi daerah.
Ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam arah pengembangan dunia usaha, yakni penguatan kapasitas anggota, perluasan jejaring kemitraan, peningkatan daya saing, serta penciptaan peluang usaha yang lebih terbuka.
Dari sisi pembangunan ekonomi, kolaborasi pemerintah dan pengusaha berpotensi memperkuat hubungan antara kebijakan publik dengan kebutuhan dunia usaha. Sinergi tersebut dapat membantu mengidentifikasi hambatan bisnis, memperluas akses pasar, serta mendorong investasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kolaborasi menjadi kunci memperluas manfaat pertumbuhan
Pesan utama Herman dalam Rakerda tersebut adalah pentingnya mengubah momentum pertumbuhan ekonomi menjadi capaian nyata. Pertumbuhan 5,73 persen merupakan indikator makro yang menggambarkan perkembangan perekonomian, tetapi dampaknya terhadap pelaku usaha tetap bergantung pada kemampuan masing-masing sektor dalam menangkap peluang.
Di sinilah peran organisasi pengusaha menjadi penting, terutama dalam mempertemukan anggota dengan mitra strategis, memperkuat pertukaran informasi, dan mendorong peningkatan kualitas usaha. Pendekatan inklusif juga dapat membuka ruang partisipasi bagi pelaku usaha yang sedang berkembang agar tidak tertinggal dalam persaingan.
Secara khusus, perpaduan antara pertumbuhan ekonomi dan bonus demografi menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Apabila didukung peningkatan keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan, inovasi, dan iklim usaha yang kondusif, momentum tersebut berpotensi memperkuat fondasi ekonomi Jawa Barat dalam jangka panjang.
Herman optimistis HIPPI Jawa Barat dapat mengambil bagian dalam proses tersebut melalui karya, prestasi, dan kontribusi yang lebih luas. Ia berharap Rakerda mampu merumuskan langkah konkret yang memberikan manfaat bagi anggota organisasi sekaligus mendukung pembangunan daerah.
“Saya yakin keluarga besar HIPPI akan sukses,” ujar Herman. (Surya)

















