Beranda Palembang Maulid Nabi di Palembang, Ratu Dewa Ajak Warga Berdoa Minta Hujan dan...

Maulid Nabi di Palembang, Ratu Dewa Ajak Warga Berdoa Minta Hujan dan Cegah Karhutla

14
0
Caption Foto 1: Wali Kota Palembang Ratu Dewa menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama masyarakat dan organisasi kemasyarakatan di Jalan Musi Raya, Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Selasa (8/9/2026) malam.(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengajak masyarakat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan di tengah kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah bersama warga Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, di Jalan Musi Raya, Selasa malam, 8 September 2026.

Kegiatan yang dihadiri tokoh agama, masyarakat, dan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) itu juga diisi dengan doa bersama memohon turunnya hujan. Momentum keagamaan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial dan mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif menjaga lingkungan.

Maulid Nabi Jadi Momentum Mempererat Silaturahmi

Ratu Dewa mengatakan, peringatan Maulid Nabi tidak semata-mata menjadi kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mengandung nilai persatuan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Menurut dia, kegiatan keagamaan seperti ini memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Melalui kebersamaan tersebut, berbagai persoalan yang dihadapi kota dapat menjadi perhatian bersama, termasuk kondisi cuaca kering dan dampak karhutla.

“Pada acara ini, kita bersama Habib Amak Shahab telah bermunajat kepada Allah SWT agar diturunkan hujan, mengingat sudah lama hujan tidak turun,” kata Ratu Dewa.

Doa bersama tersebut mencerminkan harapan masyarakat agar kondisi cuaca segera membaik. Selain sebagai ikhtiar spiritual, kegiatan itu juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga lingkungan di tengah musim kemarau.

Kemarau dan Karhutla Menjadi Perhatian Bersama

Asap dan risiko lingkungan membutuhkan penanganan terpadu

Ratu Dewa mengungkapkan, kemarau panjang yang melanda Palembang turut diikuti persoalan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran dapat menimbulkan gangguan terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat, serta lingkungan hidup.

Baca juga  Komandan Kodim 0418/Palembang Tinjau Pelaksanaan TMMD Ke-123 di Desa Talang Kepuh

Ia mengingatkan bahwa menjaga kelestarian alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan kepedulian terhadap potensi kebakaran menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Wali kota juga mengajak masyarakat bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mencegah kerusakan lingkungan.

“Mari kita bersama-sama menjaga alam agar tidak dirusak. Pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat harus bersatu dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

Ajakan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menghadapi ancaman karhutla. Penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul, tetapi juga perlu disertai langkah pencegahan, pengawasan wilayah rawan, dan partisipasi masyarakat.

Solidaritas untuk Korban Erupsi Gunung Anak Krakatau

Selain bermunajat memohon hujan, masyarakat yang hadir juga mendoakan saudara-saudara yang terdampak musibah akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau agar diberikan ketabahan dan kesabaran.

Perhatian terhadap bencana tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan di tingkat lokal dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian melampaui batas wilayah. Nilai solidaritas dan kemanusiaan menjadi bagian dari pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi.

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas erupsi menerus, dengan status Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Pemerintah melalui Badan Geologi mengimbau masyarakat mengikuti informasi dan rekomendasi resmi terkait aktivitas gunung tersebut.

Konteks ini menunjukkan bahwa doa dan solidaritas masyarakat berjalan berdampingan dengan pentingnya kesiapsiagaan bencana serta kepatuhan terhadap informasi dari instansi berwenang.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat untuk Palembang

Kolaborasi lintas elemen menjadi kunci

Baca juga  Meredam Stunting, Menyemaikan Asa: Langkah Nyata PT TSM Menuju Generasi Emas Sumatera Selatan

Ratu Dewa menegaskan, persoalan lingkungan dan sosial tidak dapat diselesaikan pemerintah secara mandiri. Diperlukan kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah daerah, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh lapisan warga.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut penting untuk membangun kesadaran bersama sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Sinergi pemerintah, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, majelis taklim, dan seluruh elemen masyarakat harus terus kita perkuat untuk mewujudkan Palembang yang religius, harmonis, dan penuh semangat gotong royong,” pungkasnya.

Dari perspektif pembangunan daerah, keterlibatan tokoh agama dan organisasi masyarakat dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga. Jaringan sosial yang kuat juga berpotensi membantu penyebaran informasi pencegahan kebakaran, penguatan kepedulian lingkungan, dan mobilisasi gotong royong di tingkat kelurahan.

Pencegahan Karhutla Perlu Berlanjut Setelah Doa Bersama

Peringatan Maulid Nabi di Lebong Gajah memperlihatkan bagaimana kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan sosial dan lingkungan. Di tengah kemarau, harapan agar hujan segera turun perlu berjalan seiring dengan tindakan nyata untuk mengurangi risiko kebakaran dan menjaga kualitas lingkungan.

Dalam jangka pendek, kewaspadaan terhadap titik api, pelaporan dini, serta koordinasi dengan petugas menjadi langkah penting untuk mengantisipasi kebakaran. Sementara dalam jangka panjang, edukasi lingkungan dan keterlibatan masyarakat secara konsisten diperlukan agar upaya pencegahan tidak berhenti ketika musim kemarau berakhir.

Insight: Kekuatan kegiatan seperti ini terletak pada kemampuannya mempertemukan nilai keagamaan dengan kepedulian publik. Ketika pesan menjaga alam disampaikan melalui tokoh yang dipercaya masyarakat, peluang untuk membangun partisipasi warga dalam pencegahan karhutla dapat semakin terbuka.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus menjaga sinergi tersebut melalui langkah konkret, mulai dari meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hingga memperkuat budaya gotong royong. Dengan demikian, semangat Maulid Nabi tidak hanya tercermin dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dalam kepedulian dan tindakan nyata untuk mewujudkan Palembang yang religius, harmonis, aman, dan berkelanjutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here