
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Perguruan tinggi di Sumatera Selatan diminta tidak berhenti pada fungsi pendidikan, tetapi memperkuat kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah dan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang saat memberikan sambutan dalam Sidang Khusus Senat Terbuka Wisuda ke-8 Universitas Sumatera Selatan di Palembang, Kamis (8/10/2026). Ia menilai pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong kemajuan daerah.
Perguruan Tinggi Punya Peran Strategis
Menurut Cik Ujang, keberadaan perguruan tinggi harus dipandang lebih luas daripada sekadar lembaga yang menghasilkan lulusan. Kampus memiliki sumber daya manusia, pengetahuan, serta kapasitas akademik yang dapat diarahkan untuk menjawab berbagai kebutuhan pembangunan.
“Terlebih lagi di dalam pembangunan daerah,” kata Cik Ujang dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut menempatkan perguruan tinggi pada posisi yang lebih strategis dalam pembangunan Sumatera Selatan. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.
Pendidikan dan Pembangunan Daerah
Hubungan antara pendidikan tinggi dan pembangunan daerah menjadi penting karena pembangunan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami persoalan sekaligus menawarkan solusi berbasis pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, kampus dapat berperan melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga fungsi itu menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi manfaat yang lebih konkret.
Bagi pemerintah daerah, keterlibatan perguruan tinggi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia. Sementara bagi masyarakat, keberadaan kampus idealnya menghadirkan dampak yang dapat dirasakan di luar lingkungan akademik.
Wisuda Bukan Sekadar Seremoni
Sidang Khusus Senat Terbuka Wisuda ke-8 Universitas Sumatera Selatan juga menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk melihat kembali tanggung jawab mereka setelah menyelesaikan pendidikan.
Wisuda secara formal menandai berakhirnya satu tahapan pendidikan. Namun, dari perspektif pembangunan, kelulusan justru dapat menjadi awal dari kontribusi baru ketika para lulusan memasuki dunia kerja, dunia usaha, pemerintahan maupun lingkungan sosial.
Karena itu, pesan mengenai kontribusi perguruan tinggi memiliki relevansi langsung dengan masa depan para wisudawan. Kompetensi yang diperoleh selama berada di kampus akan memiliki nilai lebih ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Tantangan Kampus di Tengah Perubahan
Peran tersebut semakin penting di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu memastikan lulusannya memiliki kemampuan beradaptasi.
Kampus juga dituntut mampu membaca kebutuhan daerah. Pengembangan riset dan kegiatan pengabdian, misalnya, dapat diarahkan pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat sehingga hasilnya tidak berhenti sebagai kajian akademik.
Di sisi lain, pemerintah daerah membutuhkan mitra yang memiliki kapasitas pengetahuan untuk membantu membaca persoalan secara lebih objektif. Perguruan tinggi dapat mengambil ruang tersebut melalui kolaborasi yang terukur dan berbasis kebutuhan.
tKontribusi Kampus Perlu Diukur dari Dampaknya
Pesan Cik Ujang mengandung tantangan yang lebih besar daripada sekadar ajakan agar kampus berkontribusi. Persoalan utamanya adalah bagaimana kontribusi tersebut dapat diterjemahkan menjadi program yang memiliki hasil dan dampak yang jelas.
Dalam jangka pendek, keterlibatan perguruan tinggi dapat diarahkan pada peningkatan kompetensi masyarakat, pendampingan usaha, riset kebijakan serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam jangka panjang, hubungan yang lebih erat antara pemerintah, kampus dan masyarakat berpotensi menghasilkan ekosistem pembangunan yang lebih berbasis pengetahuan.
Namun, kolaborasi tersebut membutuhkan arah yang jelas. Perguruan tinggi perlu memahami persoalan daerah, sementara pemerintah membutuhkan mekanisme agar hasil riset dan rekomendasi akademik dapat dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan.
Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Jumlah Lulusan
Satu hal yang penting dari pesan tersebut adalah perubahan cara melihat keberhasilan pendidikan tinggi. Ukuran keberhasilan kampus tidak semata-mata terletak pada jumlah mahasiswa yang lulus, tetapi juga sejauh mana ilmu dan kompetensi yang dihasilkan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dengan pendekatan itu, wisuda bukan menjadi titik akhir perjalanan pendidikan, melainkan pintu masuk menuju kontribusi sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Bagi Sumatera Selatan, hubungan antara perguruan tinggi dan pembangunan daerah dapat menjadi modal penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. Tantangannya adalah memastikan hubungan tersebut berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya dalam bentuk kegiatan seremonial.
Membangun Sumsel melalui Sumber Daya Manusia
Pernyataan Wakil Gubernur Sumsel tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik. Kualitas manusia yang mengelola, mengembangkan dan memanfaatkan hasil pembangunan memiliki peran yang sama pentingnya.
Karena itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan ke tengah masyarakat. Pemerintah, dunia pendidikan dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama untuk memastikan pendidikan menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Pada akhirnya, kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah akan ditentukan oleh kemampuan kampus membangun keterhubungan antara ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah. Pesan tersebut menjadi relevan bagi Sumatera Selatan yang terus membutuhkan sumber daya manusia berkualitas untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan. (Poerba)

















