Beranda OKI Mandira Aksi Bergizi OKI Digencarkan di Sekolah, Cegah Anemia dan Tekan Risiko Stunting...

Aksi Bergizi OKI Digencarkan di Sekolah, Cegah Anemia dan Tekan Risiko Stunting Remaja

14
0
1. Siswa SMP Negeri 6 Kayuagung mengikuti kegiatan senam sehat dalam program Aksi Bergizi yang digelar Pemkab OKI. (foto: Asep/cimutnews.co.id)

OKI, cimutnews.co.id – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai memperkuat upaya pencegahan anemia dan stunting dari lingkungan sekolah melalui program Aksi Bergizi yang digelar di SMP Negeri 6 Kayuagung, Kamis (7/5).

Kegiatan yang melibatkan ratusan pelajar itu tidak hanya berisi pembagian tablet tambah darah (TTD), tetapi juga edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Program ini dinilai penting karena kasus anemia pada remaja putri masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu stunting pada generasi berikutnya.

Aksi Bergizi Jadi Strategi Pencegahan Stunting dari Hulu

Program Aksi Bergizi diawali dengan senam sehat bersama di halaman sekolah. Setelah itu, para siswa mengikuti sarapan sehat dengan menu gizi seimbang sebelum mengonsumsi tablet tambah darah yang didampingi tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKI.

Fokus pada Remaja Putri

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten OKI, Ike Muchendi, mengatakan pembiasaan hidup sehat sejak usia sekolah menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda.

Menurut dia, persoalan stunting tidak bisa hanya ditangani saat anak sudah lahir atau berada pada usia balita. Pencegahan harus dimulai sejak remaja, terutama pada remaja putri yang kelak menjadi calon ibu.

“Anak-anak harus dibiasakan memahami pentingnya sarapan sehat, rutin berolahraga, dan menjaga asupan gizi sejak usia remaja. Ini menjadi fondasi untuk menciptakan generasi yang sehat dan produktif,” ujar Ike.

Ia menambahkan, anemia pada remaja putri dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi stunting di masa mendatang.

Dinas Kesehatan Soroti Ancaman Anemia pada Remaja

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI, Muhammad Lubis, menyebut anemia pada usia remaja masih menjadi tantangan kesehatan yang memerlukan intervensi berkelanjutan.

Baca juga  ‘Memarketing’ Kemudahan Berusaha, Mendulang Investasi

Edukasi Dinilai Sama Pentingnya dengan Intervensi

Menurut Lubis, program pembagian tablet tambah darah tidak akan efektif tanpa edukasi yang konsisten di sekolah maupun lingkungan keluarga.

“Melalui Aksi Bergizi, kami ingin membangun kesadaran siswa bahwa menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan saat sakit, tetapi harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.

Ia menjelaskan, konsumsi tablet tambah darah secara rutin merupakan salah satu langkah efektif menekan prevalensi anemia pada remaja putri. Jika kondisi tersebut dapat dicegah sejak dini, maka potensi lahirnya generasi stunting juga dapat ditekan.

Pemerintah Kabupaten OKI berencana memperluas program serupa ke sekolah-sekolah lain sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan kesehatan masyarakat.

Mengapa Anemia Remaja Menjadi Perhatian Nasional?

Secara nasional, pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir memang mendorong program pencegahan stunting berbasis keluarga dan sekolah. Salah satu fokusnya adalah penanganan anemia pada remaja putri melalui pemberian tablet tambah darah rutin.

Berdasarkan berbagai kajian kesehatan, anemia dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, menurunkan konsentrasi belajar, hingga memengaruhi kesehatan reproduksi perempuan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko memengaruhi kualitas kehamilan ketika remaja memasuki usia dewasa.

Sekolah Jadi Titik Intervensi Paling Efektif

Lingkungan sekolah dinilai menjadi tempat paling strategis untuk membangun kebiasaan hidup sehat karena melibatkan pola makan, aktivitas fisik, hingga pengawasan kesehatan secara kolektif.

Micro-insight yang mulai terlihat dari pola program seperti ini adalah perubahan pendekatan pemerintah daerah dalam menangani stunting. Jika sebelumnya fokus hanya tertuju pada balita dan ibu hamil, kini intervensi mulai digeser lebih awal ke usia remaja.

Pendekatan tersebut penting karena banyak kasus stunting berakar dari kurangnya kesiapan kesehatan calon ibu jauh sebelum masa kehamilan terjadi. Dengan kata lain, pencegahan dimulai dari generasi sekolah saat ini.

Baca juga  BPS: Angka Kemiskinan Penduduk OKI Turun 3 Tahun Terakhir

Dampak Sosial dan Tantangan Pelaksanaan

Program Aksi Bergizi juga membawa dampak sosial yang lebih luas. Selain meningkatkan kesadaran kesehatan, kegiatan semacam ini perlahan membentuk budaya sekolah yang lebih peduli pada pola hidup sehat.

Namun tantangan terbesar tetap berada pada konsistensi pelaksanaan. Distribusi tablet tambah darah dan edukasi gizi membutuhkan pengawasan rutin agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Di sejumlah daerah, program serupa kerap menghadapi kendala rendahnya kepatuhan remaja dalam mengonsumsi tablet tambah darah karena minimnya pemahaman mengenai manfaatnya. Karena itu, pendekatan edukatif dinilai menjadi kunci utama keberhasilan program.

Harapan Pemkab OKI untuk Generasi Mendatang

Pemerintah Kabupaten OKI berharap kegiatan Aksi Bergizi mampu membentuk budaya hidup sehat di lingkungan sekolah sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya gizi seimbang, aktivitas fisik, dan kebersihan diri.

Dalam jangka panjang, langkah tersebut tidak hanya menekan angka anemia dan stunting, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas sumber daya manusia yang lebih sehat, aktif, dan berdaya saing. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here