Beranda Palembang Banjir Palembang Dibahas Lagi, Namun Warga Mengaku Belum Tenang

Banjir Palembang Dibahas Lagi, Namun Warga Mengaku Belum Tenang

9
0
Wali Kota Palembang menerima audiensi Sumsel Bersih terkait persoalan banjir dan sampah kota.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id — Banjir kembali menjadi sorotan di Kota Palembang.

Meski berbagai pembahasan dan program penanganan terus digaungkan, sejumlah warga mengaku genangan air masih rutin terjadi di beberapa kawasan saat hujan deras turun bersamaan dengan air pasang Sungai Musi.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat persoalan banjir di Palembang seolah belum benar-benar selesai?

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa menerima audiensi komunitas Sumsel Bersih di rumah dinasnya, Jumat (17/4/2026).

Pertemuan tersebut membahas tiga persoalan utama perkotaan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar, yakni banjir, sampah dan kemacetan.

Ketua Sumsel Bersih, Boni Bangun mengungkapkan hasil analisis pihaknya sejak 2024 terkait kondisi banjir di Palembang.

Menurutnya, persoalan banjir tidak hanya soal hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi sedimentasi Sungai Musi yang terus terjadi.

“Akibat pendangkalan, luapan air sungai kini masuk ke permukiman warga saat pasang,” ujar Boni.

Ia menjelaskan, kondisi akan semakin parah ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan pasang air sungai.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan banjir di Palembang diduga bukan hanya dipicu faktor alam semata.

Berdasarkan temuan di lapangan, alih fungsi rawa menjadi kawasan permukiman tanpa kolam retensi yang memadai dinilai ikut memperburuk genangan air di sejumlah wilayah.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan warga yang tinggal di kawasan rawan banjir. Sejumlah warga mengaku air masih kerap menggenangi jalan hingga masuk ke rumah ketika intensitas hujan tinggi.

“Kalau hujan malam dan air sungai lagi pasang, biasanya cepat naik. Kadang surutnya lama,” ujar salah satu warga kawasan Plaju yang enggan disebutkan namanya.

Tak hanya itu, persoalan sampah juga disebut masih menjadi masalah klasik.

Baca juga  Palembang Raih Penghargaan Penanggulangan Kemiskinan Terendah 2025 dari Kemendagri

Saluran drainase yang tersumbat sampah domestik diduga memperlambat aliran air sehingga memperparah genangan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana pengawasan tata ruang dan pengelolaan drainase selama ini benar-benar berjalan efektif?

Wali Kota Ratu Dewa menyambut baik rencana Forum Group Discussion (FGD) lintas sektor yang akan digelar pada Mei 2026 mendatang.

Menurutnya, penanggulangan banjir membutuhkan sinergi banyak pihak dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.

“Ini akan menjadi rekomendasi konkret bagi pemerintah. Penanggulangan banjir butuh sinergi multi-stakeholder,” tegasnya.

Namun sejumlah pengamat perkotaan menilai, forum diskusi saja belum cukup jika tidak dibarengi langkah nyata di lapangan.

Mulai dari normalisasi sungai, pengawasan pembangunan kawasan rawa, hingga edukasi pengelolaan sampah dinilai menjadi faktor penting yang harus berjalan bersamaan.

Hingga kini, belum semua kawasan rawan banjir di Palembang mengalami penanganan yang merata.

Jika persoalan sedimentasi, tata ruang dan drainase tidak segera dibenahi secara menyeluruh, banjir musiman diduga akan terus berulang setiap tahun.

Apakah FGD lintas sektor nanti benar-benar mampu melahirkan solusi konkret, atau persoalan banjir Palembang kembali hanya berhenti di meja pembahasan? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here