
OGAN ILIR, cimutnews.co.id — Program bedah rumah kembali digelar di Kabupaten Ogan Ilir.
Kali ini, Polda Sumatera Selatan bersama BAZNAS Ogan Ilir melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah layak huni milik Mawarni (63), warga Desa Talang Pangeran Ulu, Kecamatan Pemulutan Barat, Selasa (12/5/2026).
Program tersebut disebut sebagai bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus bentuk dukungan terhadap pengentasan kemiskinan ekstrem.
Namun di balik program yang mendapat sambutan positif itu, muncul pertanyaan yang masih menjadi perhatian masyarakat. Apakah bantuan seperti ini mampu menjawab persoalan kemiskinan yang lebih luas di wilayah pedesaan?
Kegiatan dipimpin Wakapolres Ogan Ilir Kompol Georgie Absalom Sakul mewakili Kapolres Ogan Ilir AKBP Bagus Suryo Wibowo.
Turut hadir Ketua BAZNAS Ogan Ilir Drs. H. Sidharta, perangkat desa serta masyarakat sekitar.
Selain pembangunan rumah, sebanyak 60 paket sembako juga dibagikan kepada warga prasejahtera di sekitar lokasi kegiatan.
Dalam keterangannya, Wakapolres Ogan Ilir menegaskan program tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Program bedah rumah ini bukan hanya pembangunan fisik semata, tetapi bagian dari upaya bersama menghadirkan harapan,” ujar Kompol Georgie.
Polda Sumsel juga menegaskan komitmennya untuk memperluas program sosial serupa di berbagai daerah.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menyebut pendekatan humanis menjadi bagian dari penguatan pelayanan publik.
Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan rumah tidak layak huni di sejumlah desa di Ogan Ilir masih cukup banyak ditemukan.
Berdasarkan temuan di lapangan dan pengakuan sejumlah warga, masih ada masyarakat lanjut usia maupun keluarga berpenghasilan rendah yang tinggal di rumah semi permanen dengan kondisi memprihatinkan.
Sebagian warga mengaku bantuan renovasi rumah belum merata menyentuh seluruh masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau ada bantuan seperti ini tentu kami senang. Tapi di kampung ini masih banyak rumah yang kondisinya juga memerlukan perhatian,” ujar salah satu warga sekitar.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan masyarakat yang tinggal di wilayah dekat pusat kecamatan yang dinilai lebih mudah mendapatkan akses bantuan sosial maupun program pembangunan.
Kesenjangan inilah yang perlahan menjadi sorotan warga desa.
Apalagi program bedah rumah selama ini sering dianggap hanya menyentuh sebagian kecil penerima manfaat, sementara daftar warga kurang mampu di tingkat desa masih cukup panjang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah program sosial berbasis kolaborasi seperti ini nantinya bisa berjalan berkelanjutan atau hanya ramai saat momentum tertentu.
Pengamat sosial di wilayah Sumsel menilai program bedah rumah memang memiliki dampak positif langsung bagi penerima bantuan.
Namun tanpa pendataan yang kuat dan pengawasan berkelanjutan, program serupa diduga belum sepenuhnya mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.
Selain faktor ekonomi, kondisi infrastruktur desa dan keterbatasan lapangan kerja juga disebut menjadi penyebab utama masyarakat sulit keluar dari garis kemiskinan.
Meski demikian, langkah kolaboratif antara kepolisian dan BAZNAS tetap dinilai memberi harapan baru bagi warga kecil yang selama ini kesulitan mendapatkan hunian layak.
Hingga kini, belum semua masyarakat prasejahtera di wilayah pedesaan merasakan bantuan serupa.
Ke depan, publik tentu menunggu apakah program kemanusiaan seperti ini benar-benar bisa diperluas secara merata, atau hanya menjadi kegiatan simbolis yang muncul pada momentum tertentu saja. (Sandi)

















