Beranda Banyuasin Pelatihan Eco Print Digelar, Namun UMKM Rumahan Masih Kesulitan Pasar

Pelatihan Eco Print Digelar, Namun UMKM Rumahan Masih Kesulitan Pasar

8
0
Sekda Banyuasin Erwin Ibrahim saat membuka pelatihan eco print dan kerajinan souvenir pouch di Hotel Emilia Palembang.(Foto:Noto/cimutnews.co.id)

BANYUASIN, cimutnews.co.id — Pelatihan eco print dan pembuatan souvenir pouch berbahan kain batik Banyuasin resmi digelar di Hotel Emilia Palembang, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyuasin itu diikuti 40 peserta dari pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) tingkat kabupaten hingga kecamatan.

Pelatihan berlangsung selama dua hari dengan fokus pada teknik pewarnaan eco print, steam coloring hingga keterampilan membuat produk kerajinan tangan.

Namun di balik antusiasme pelatihan tersebut, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan pelaku usaha kecil. Apakah pelatihan seperti ini benar-benar mampu membantu UMKM lokal berkembang, atau hanya berhenti pada agenda rutin tahunan?

Sekretaris Daerah Banyuasin Ir. Erwin Ibrahim yang membuka langsung kegiatan tersebut menilai produk lokal Banyuasin sebenarnya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk ternama.

Menurutnya, bahan baku melimpah dan tenaga kerja yang tersedia menjadi modal besar bagi pengembangan industri kreatif daerah.

“Produk pouch seperti ini kualitasnya sudah sangat bagus. Kita memiliki bahan baku yang melimpah dan tenaga kerja yang banyak,” ujar Erwin Ibrahim.

Ia juga mengingatkan agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

Peserta diminta menjadi penggerak UMKM di lingkungan masing-masing agar hasil pelatihan dapat memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Namun fakta di lapangan menunjukkan tantangan UMKM rumahan di Banyuasin tidak hanya soal keterampilan produksi.

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian pelaku usaha kecil justru masih kesulitan memasarkan produk mereka secara luas.

Beberapa UMKM mengaku produk kerajinan lokal sering kalah bersaing karena minim promosi, keterbatasan akses digital, hingga belum adanya pendampingan usaha yang berkelanjutan.

“Pelatihan memang penting, tapi biasanya habis kegiatan kami bingung mau jual ke mana,” ujar salah satu pelaku UMKM di Banyuasin.

Baca juga  Street Boxing Banyuasin Dihentikan Polisi karena Risiko Keselamatan dan Tanpa Izin Resmi

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pelaku usaha yang sudah memiliki akses marketplace dan jaringan pemasaran digital.

Produk mereka cenderung lebih cepat berkembang dibanding UMKM rumahan yang masih mengandalkan penjualan manual dari lingkungan sekitar.

Kondisi ini memunculkan gap yang cukup terasa antara semangat pelatihan dan realita pemasaran di lapangan.

Tidak sedikit produk lokal yang kualitasnya dinilai baik, namun akhirnya hanya diproduksi dalam jumlah kecil karena keterbatasan pasar.

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah program pelatihan pemerintah selama ini sudah benar-benar terintegrasi dengan akses pemasaran dan pendampingan usaha jangka panjang.

Pengamat UMKM di Sumatera Selatan menilai persoalan utama usaha kecil saat ini bukan lagi sekadar kemampuan produksi.

Namun lebih kepada kesinambungan pasar, branding produk, serta kemampuan pelaku usaha bertahan menghadapi persaingan digital.

Apalagi tren kerajinan eco print dan produk handmade kini mulai bersaing dengan produk pabrikan yang dijual lebih murah secara online.

Meski demikian, pelatihan seperti ini tetap dianggap membuka peluang baru bagi ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga.

Hingga kini, belum semua pelaku UMKM di Banyuasin memiliki akses pembinaan dan pemasaran yang merata.

Ke depan, publik menunggu apakah pelatihan tersebut benar-benar melahirkan pelaku usaha baru yang mandiri, atau hanya menjadi kegiatan yang ramai saat acara berlangsung saja. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here