
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Musyawarah Provinsi (Musprov) Asprov PSSI Sumatera Selatan baru akan digelar November 2026.
Namun atmosfer persaingan mulai terasa lebih awal.
Sejumlah nama mulai disebut-sebut bakal maju sebagai calon Ketua Umum baru. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Hendri Zainuddin atau HZ. (1/5/26)
Di tengah harapan perubahan sepak bola Sumsel, muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab: mampukah kepemimpinan baru benar-benar membawa pembenahan hingga ke akar pembinaan?
Nama Lama Kembali Menguat
Hendri Zainuddin bukan sosok asing dalam peta sepak bola Sumatera Selatan.
Ia pernah memimpin PS Banyuasin hingga menembus kompetisi nasional musim 2009/2010 yang kini dikenal sebagai Liga 2.
Tak hanya itu, HZ juga dikenal sebagai penggagas Sumsel Super League (SSL), kompetisi amatir yang sempat menjadi ruang pembinaan bagi klub lokal dan sekolah sepak bola di Palembang dan sekitarnya.
Saat ini, ia juga mengelola Palembang Sportivo yang berlaga di Liga 4.
Jejak tersebut membuat namanya mulai diperhitungkan menjelang Musprov PSSI Sumsel.
Janji Pembenahan Mulai Disuarakan
Saat dikonfirmasi terkait kemungkinan maju dalam Musprov, HZ mengaku siap jika mendapat dukungan.
Ia menilai sepak bola Sumsel membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari pembinaan usia dini hingga pengelolaan kompetisi yang lebih profesional.
“Saya siap jika dipercaya. Sepak bola Sumsel harus dibangun dengan pembinaan yang berkelanjutan dan kompetisi yang sehat,” ujarnya.
Dari sisi akademik, HZ juga diketahui memiliki gelar doktor di bidang olahraga.
Kombinasi pengalaman praktis dan latar belakang pendidikan inilah yang disebut-sebut menjadi modal penting untuk memimpin organisasi sepak bola daerah.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…
Di tengah munculnya optimisme tersebut, kondisi sepak bola Sumsel dinilai masih menghadapi tantangan besar.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah pelaku sepak bola daerah mengaku pembinaan usia dini belum berjalan merata.
Beberapa sekolah sepak bola disebut masih kesulitan mendapatkan kompetisi rutin dan dukungan fasilitas yang memadai.
Namun fakta di lapangan menunjukkan banyak kompetisi lokal masih bergantung pada inisiatif komunitas atau sponsor tertentu.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian pelatih muda yang mengaku pembinaan pemain sering terputus karena minimnya kompetisi berjenjang.
“Anak-anak latihan terus, tapi pertandingan resmi masih kurang. Akhirnya banyak pemain berhenti di tengah jalan,” ujar salah satu pelatih SSB di Palembang.
Sriwijaya FC dan Beban Harapan
Nama Hendri Zainuddin juga tidak lepas dari sejarah Sriwijaya FC.
Saat menjadi manajer, ia ikut membawa klub tersebut meraih gelar Indonesia Super League musim 2011/2012.
Prestasi itu hingga kini masih menjadi salah satu masa kejayaan sepak bola Sumsel yang sulit dilupakan.
Namun kondisi saat ini dinilai berbeda.
Pamornya kompetisi lokal disebut belum sepenuhnya pulih, sementara regenerasi pemain daerah masih menjadi pekerjaan rumah panjang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah figur berpengalaman saja cukup untuk membenahi ekosistem sepak bola Sumsel yang selama beberapa tahun terakhir dinilai stagnan.
Musprov Jadi Penentu Arah Baru?
Musprov Asprov PSSI Sumsel 2026 diperkirakan tidak sekadar memilih ketua baru.
Agenda ini disebut-sebut akan menjadi penentu arah pembinaan sepak bola Sumsel dalam beberapa tahun ke depan.
Sejumlah pengamat menilai tantangan terbesar bukan hanya soal kompetisi elite, tetapi bagaimana membangun sistem pembinaan yang konsisten dari level bawah.
Hingga kini, belum semua persoalan sepak bola daerah menemukan solusi yang benar-benar konkret.
Apakah Musprov nanti mampu melahirkan perubahan nyata, atau justru kembali menghadirkan janji yang sulit diwujudkan di lapangan? (Timred/CN)

















