
BATURAJA, cimutnews.co.id — Genangan air yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan pengguna Jalan Lintas Sumatera di kawasan Simpang KPR Sukajadi, Baturaja, akhirnya mulai mendapat penanganan fisik. Pembangunan saluran drainase atau siring di lokasi tersebut kini tengah dikerjakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN).
Langkah itu menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini harus berhadapan dengan genangan setiap kali hujan deras mengguyur Kota Baturaja. Namun, muncul pertanyaan yang masih mengemuka: apakah pembangunan drainase di satu titik ini benar-benar mampu mengatasi persoalan banjir yang sudah berlangsung bertahun-tahun?
Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) H. Teddy Meilwansyah meninjau langsung progres pembangunan tersebut pada Jumat (24/7/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana sekaligus melihat langsung perkembangan proyek yang merupakan tindak lanjut usulan Pemerintah Kabupaten OKU kepada pemerintah pusat.
Menurut Bupati, pembangunan siring tersebut merupakan hasil koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat melalui BBPJN sebagai upaya mencari solusi terhadap persoalan genangan yang selama ini sering terjadi di kawasan Simpang KPR.
“Alhamdulillah usulan yang telah kita sampaikan akhirnya dapat direalisasikan. Semoga pembangunan ini menjadi solusi dalam mengatasi genangan air yang selama ini sering terjadi di kawasan ini,” ujar Teddy.
Ia menjelaskan, titik Simpang KPR merupakan salah satu lokasi yang paling sering mengalami genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Selain menghambat arus kendaraan di jalur nasional, kondisi tersebut juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Pemerintah daerah pun berharap pembangunan drainase tersebut mampu memperlancar aliran air sehingga limpasan hujan tidak lagi menggenangi badan jalan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan drainase perkotaan umumnya tidak hanya dipengaruhi oleh kapasitas saluran di satu lokasi. Sistem aliran air yang saling terhubung, sedimentasi, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan juga kerap menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas pengendalian genangan.
Di sejumlah kawasan perkotaan, pembangunan saluran baru sering kali memberikan dampak positif. Meski demikian, manfaat maksimal biasanya baru dirasakan apabila diikuti dengan pemeliharaan rutin serta penataan jaringan drainase secara menyeluruh.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah pembangunan siring di Simpang KPR nantinya juga akan diikuti pembenahan titik-titik drainase lain yang masih berpotensi menghambat aliran air?
Di sisi lain, proses pembangunan juga memiliki konsekuensi sementara bagi masyarakat. Aktivitas lalu lintas di sekitar lokasi berpotensi mengalami perlambatan, sementara pekerjaan galian juga berisiko mengenai utilitas bawah tanah, termasuk jaringan pipa air bersih.
Mengantisipasi hal tersebut, Bupati meminta Perumda Air Minum Tirta Raja bergerak cepat apabila terdapat jaringan perpipaan yang terdampak selama pekerjaan berlangsung.
Ia menegaskan, apabila terjadi gangguan distribusi air bersih, perbaikan harus segera dilakukan agar pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu terlalu lama.
Selain itu, Perumda Tirta Raja juga diminta menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki kepada wilayah yang mengalami gangguan pasokan hingga jaringan kembali normal.
“Kami mengajak masyarakat mendukung pembangunan ini karena manfaatnya akan dirasakan bersama. Bila ada jaringan pipa yang terdampak, saya minta segera diperbaiki. Sementara masyarakat yang mengalami gangguan distribusi air harus segera dilayani melalui mobil tangki,” tegasnya.
Berdasarkan temuan di lapangan, kawasan Simpang KPR memang menjadi salah satu ruas yang kerap mengalami genangan ketika curah hujan tinggi. Kondisi tersebut diduga terjadi karena kapasitas saluran yang belum mampu menampung debit air secara optimal, meski penyebab teknis secara menyeluruh belum ada penjelasan rinci dari pihak terkait.
Sejumlah pengguna jalan selama ini mengaku harus mengurangi kecepatan kendaraan ketika melintasi kawasan tersebut saat hujan karena genangan sering menutupi permukaan jalan. Kondisi demikian dinilai dapat meningkatkan risiko tergelincir, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Ke depan, keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat ketika musim hujan kembali datang.
Pemerintah Kabupaten OKU menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar berbagai kebutuhan infrastruktur lainnya juga mendapat perhatian.
Hingga kini, belum semua persoalan drainase perkotaan di Baturaja selesai terjawab. Pembangunan siring di Simpang KPR menjadi langkah awal yang penting, namun efektivitasnya baru akan benar-benar terlihat ketika hujan deras kembali mengguyur kota ini. Apakah genangan yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat akhirnya dapat diminimalkan, atau masih menyisakan pekerjaan rumah berikutnya? Waktu yang akan memberikan jawabannya. (Agus)

















