Alhamdulillah, Dengan penuh rasa syukur, haru, dan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tahun ini Ikatan Baraya Sunda (IBS) OKI Sumsel genap berusia enam tahun. Sebuah usia yang mungkin terlihat singkat dalam hitungan kalender, namun sesungguhnya menyimpan begitu banyak cerita, perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang tak ternilai.

Pada tanggal 2 Juni 2020, IBS lahir dari sebuah mimpi sederhana: menghadirkan rumah bagi sesama perantau Sunda di tanah Ogan Komering Ilir. Rumah yang bukan dibangun dari tembok dan batu, melainkan dari rasa persaudaraan, kepedulian, dan keinginan untuk saling menguatkan.
Kini, enam tahun telah berlalu.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah hati yang menyatukan kita.
Enam tahun bukanlah perjalanan yang pendek.
Enam tahun adalah kisah tentang langkah-langkah kecil yang terus bergerak meski diterpa berbagai ujian. Tentang orang-orang sederhana yang rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan rezekinya demi menjaga nyala persaudaraan agar tetap hidup.
IBS bukan sekadar organisasi.
IBS adalah rumah.
Rumah tempat pulang ketika hati sedang lelah. Rumah tempat berteduh ketika hidup terasa berat. Rumah tempat seseorang menemukan saudara meski tidak terikat oleh hubungan darah.
Namun rumah yang dimaksud bukanlah rumah yang berdinding beton atau beratap genteng. Pada akhirnya, setiap manusia sedang mencari rumah dalam arti yang lebih dalam: tempat di mana ia diterima, dihargai, didengar, dan dipedulikan.
Tidak semua orang kehilangan tempat tinggal. Tetapi banyak orang kehilangan tempat pulang secara batin. Banyak yang hidup di tengah keramaian, namun merasa sendiri. Banyak yang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan kesepian yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Hari ini kita hidup di zaman ketika seseorang bisa memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tidak memiliki satu pun tempat untuk bercerita saat hatinya sedang terluka. Kita dapat berkomunikasi dalam hitungan detik dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi sering kali kehilangan kedekatan dengan mereka yang berada di sekitar kita.
Dalam situasi seperti itulah nilai persaudaraan menjadi semakin mahal. IBS mengingatkan kita bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian. Kita membutuhkan tangan untuk digenggam, bahu untuk bersandar, dan hati yang bersedia memahami tanpa menghakimi.
Di dalam rumah besar ini, berkumpul para “pejuang nafkah”. Mereka yang setiap hari berangkat pagi dan pulang petang demi keluarga tercinta. Mereka yang berjuang dalam diam, menahan lelah, menghapus peluh, dan menyimpan harapan agar esok menjadi lebih baik.
Namun di tengah kerasnya perjuangan hidup, mereka masih menyisihkan waktu untuk hadir bagi sesama. Masih sempat menanyakan kabar saudara yang sedang kesulitan. Masih ringan tangan membantu ketika ada yang membutuhkan.
Itulah kekuatan terbesar IBS.
Bukan gedung yang megah.
Bukan jabatan yang tinggi.
Bukan pula kemewahan yang dipamerkan.
Tetapi hati-hati yang tulus.
IBS dibangun bukan dari panggung yang mewah.
IBS dibangun dari keringat yang mengucur.
Dari peluh yang jatuh.
Dari langkah-langkah panjang yang terkadang tidak terlihat oleh banyak orang.
Bahkan tak jarang, organisasi ini tumbuh dari air mata yang disembunyikan dalam senyum.
Dalam suka dan duka.
Dalam sempit dan lapang.
Dalam tawa dan tangis.
Kita terus berjalan bersama.
Hari ini, di usia yang ke-6 tahun, ada satu hal yang membuat hati kita tak bisa sepenuhnya bergembira.
Karena sebagian saudara terbaik kita telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah SWT.
Mereka meninggalkan kenangan, meninggalkan jejak perjuangan, dan meninggalkan cinta yang akan selalu hidup dalam sejarah IBS.
Kita mengenang dengan penuh hormat dan doa:
Almarhum Ruslan bin H. Muhammad Hidayat, yang berpulang pada 31 Juli 2021. Sosok penuh semangat yang tak pernah lelah menyatukan persaudaraan.
Almarhum Nanang Taruna Jiwa, yang wafat pada 24 Oktober 2024. Pribadi tangguh yang selalu menjaga bara kebersamaan.
Almarhum Ahmad Arifin, yang berpulang pada 12 Februari 2025. Sosok yang menaburkan kebaikan dan kasih sayang dalam setiap langkah pengabdiannya.
Almarhum Kasman bin Sumardi (Abah Emon), yang wafat pada 12 Mei 2025. Seorang ayah, sahabat, sekaligus panutan yang tak pernah berhenti memberi tanpa pernah berharap balasan.
Kita juga mengenang:
Kohar bin Manan
Ahmad Firdaus Ishak, S.E., M.Si. bin H. Ishak Ibrahim
Siti Umaya binti Ibrahim
Mereka bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah organisasi.
Mereka adalah cahaya yang pernah menerangi perjalanan kita.
Mereka adalah tangan yang pernah menggenggam erat persaudaraan ini.
Mereka adalah bagian dari jiwa IBS yang tak akan pernah hilang meski raganya telah tiada.
Hari ini mungkin kursi mereka kosong.
Suara mereka tak lagi terdengar.
Senyum mereka tak lagi kita lihat.
Namun cinta dan keteladanan mereka masih hidup di antara kita.
Lebih dari itu, nama-nama yang kita kenang hari ini mengajarkan satu pelajaran penting. Pada akhirnya manusia tidak dikenang karena jabatan yang pernah dimiliki, kekayaan yang pernah dikumpulkan, atau status sosial yang pernah disandang. Manusia dikenang karena kebaikan yang pernah ia tinggalkan di hati sesamanya.
Ketika usia bertambah, yang sesungguhnya bertambah bukan hanya angka, melainkan jejak yang kita tinggalkan. Dan jejak terbaik adalah manfaat yang tetap hidup meski pemiliknya telah tiada.
Mari sejenak menundukkan kepala.
Mari kirimkan doa terbaik.
Mari hadiahkan Al-Fatihah untuk saudara-saudara kita yang telah mendahului.
Al-Fatihah…
Perjalanan enam tahun ini tentu tidak selalu mudah.
Kita pernah menghadapi perbedaan.
Kita pernah mengalami kesalahpahaman.
Kita pernah merasakan lelah, kecewa, bahkan hampir menyerah.
Ada masa ketika langkah terasa berat.
Ada masa ketika semangat hampir padam.
Namun satu hal yang tidak pernah mati:
Persaudaraan.
Karena sesungguhnya IBS tidak dibangun oleh kesempurnaan.
IBS dibangun oleh orang-orang yang mau saling memaafkan.
Mau saling memahami.
Mau saling merangkul ketika ada yang terjatuh.
Enam tahun perjalanan IBS mengajarkan satu hal yang semakin terasa benar seiring bertambahnya usia. Bahwa manusia tidak pernah menjadi kuat karena dirinya sendiri.
Kita kuat karena ada tangan yang membantu ketika kita jatuh.
Kita tegar karena ada bahu yang bersedia menjadi tempat bersandar.
Kita mampu bertahan karena ada saudara yang tidak pergi ketika keadaan sedang sulit.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar keberhasilan pribadi, persaudaraan justru menjadi kekayaan yang paling berharga.
Dan selama semangat itu masih hidup, selama hati kita masih terikat dalam kasih sayang, maka IBS akan terus berdiri kokoh.
Hari ini, di usia yang ke-6 tahun, kita tidak sedang merayakan usia sebuah organisasi.
Kita sedang merayakan cinta.
Cinta kepada saudara.
Cinta kepada kebersamaan.
Cinta kepada nilai-nilai “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh” yang menjadi ruh perjalanan kita.
Karena itu, enam tahun mungkin hanya sebuah angka. Namun yang sedang kita bangun sesungguhnya bukan sekadar organisasi.
Kita sedang membangun warisan.
Warisan itu bukan gedung yang megah.
Bukan rekening yang besar.
Bukan pula jabatan yang tinggi.
Warisan itu adalah budaya saling peduli, saling menguatkan, dan saling menjaga yang kelak akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jika suatu hari anak-anak kita belajar tentang arti persaudaraan, maka mereka tidak hanya menemukannya dalam buku atau nasihat, tetapi juga dalam teladan yang kita tunjukkan hari ini.
Inilah makna terdalam dari “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh”. Bukan sekadar semboyan yang diucapkan dalam setiap pertemuan, melainkan nilai kehidupan yang harus terus hidup dalam tindakan.
Atas nama pengurus Ikatan Baraya Sunda (IBS) OKI Sumsel, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar Baraya.
Terima kasih atas waktu yang telah diberikan.
Terima kasih atas tenaga yang telah dicurahkan.
Terima kasih atas pikiran yang telah disumbangkan.
Terima kasih atas doa yang tak pernah putus dipanjatkan.
Dan terima kasih atas cinta yang terus menjaga rumah besar ini tetap berdiri.
Mari kita jaga IBS sebagaimana kita menjaga keluarga kita sendiri.
Mari kita rawat persaudaraan ini agar tetap hidup sepanjang masa.
Karena kita bukan hanya saudara dalam nama.
Kita adalah keluarga dalam perjuangan.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang dari perjalanan kita bukanlah seberapa lama kita bersama, melainkan seberapa besar manfaat dan kasih sayang yang kita tinggalkan untuk sesama.
Selamat Milad Ke-6 Ikatan Baraya Sunda (IBS) OKI Sumsel.
Semoga Allah SWT senantiasa meridai setiap langkah kita, menjaga niat baik kita, memperkuat tali persaudaraan yang telah terjalin, serta mengumpulkan kita dalam keberkahan dunia dan akhirat.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


















