Beranda Nasional Pendidikan Vokasi Dituntut Tak Sekadar Cetak Lulusan, Apa yang Masih Jadi Tantangan?

Pendidikan Vokasi Dituntut Tak Sekadar Cetak Lulusan, Apa yang Masih Jadi Tantangan?

27
0
Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Cris Kuntadi saat memberikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-9 Politeknik Ketenagakerjaan di Jakarta. (Foto: Kemnaker/CimutNews)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Pendidikan vokasi kembali didorong untuk tidak berhenti pada persoalan mencetak lulusan yang memiliki keterampilan teknis.

Di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak cepat, lulusan pendidikan vokasi dituntut memiliki kemampuan beradaptasi, karakter kuat, hingga kemampuan terus belajar setelah meninggalkan bangku pendidikan.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Cris Kuntadi dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-9 Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.

Namun, pernyataan tersebut sekaligus membuka persoalan yang lebih luas: seberapa jauh pendidikan vokasi saat ini benar-benar mampu menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja?

Lima Fondasi yang Dinilai Menentukan

Dalam orasinya bertajuk “Nava Karya Dalam Nusa Diri: Transformasi SDM Vokasi Menuju Ketenagakerjaan Berkelanjutan”, Cris menyebut sedikitnya lima aspek yang perlu menjadi perhatian dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi.

Kelima aspek itu mencakup kompetensi dan karakter, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, infrastruktur pembelajaran, tata kelola institusi, serta manfaat lulusan bagi dunia kerja dan masyarakat.

Cris menilai keterampilan teknis saja tidak cukup.

“Kita tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil. Kita harus membentuk manusia yang memiliki integritas, disiplin, kompetensi, serta etos kerja yang kuat,” ujar Cris.

Ia kemudian menggunakan analogi pohon untuk menggambarkan pendidikan vokasi.

Kompetensi dan karakter disebut sebagai akar. Meski tidak selalu terlihat, bagian tersebut menjadi fondasi yang menentukan apakah lulusan mampu berdiri kuat ketika menghadapi dunia kerja.

Teknologi Berubah, Lulusan Harus Terus Belajar

Persoalan berikutnya muncul ketika kebutuhan dunia kerja tidak lagi bersifat statis.

Teknologi berkembang cepat dan perubahan tersebut berpotensi menggeser jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan maupun sektor pekerjaan lainnya.

Baca juga  Lonjakan Penumpang Warnai Dua Hari Pertama Masa Angkutan Nataru, KAI Daop 1 Jakarta Catat 114 Ribu Pelanggan

Karena itu, menurut Cris, lulusan vokasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan yang diperoleh selama masa pendidikan.

“Teknologi terus berubah. Oleh karena itu, lulusan vokasi harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,” tuturnya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, kemampuan beradaptasi tidak berdiri sendiri.

Seseorang membutuhkan lingkungan pendidikan yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dengan fasilitas yang memadai, baik secara fisik maupun digital.

Di sinilah infrastruktur pembelajaran menjadi bagian penting.

Bukan Sekadar Gedung dan Peralatan

Infrastruktur pendidikan vokasi kerap dipahami sebatas keberadaan ruang kelas, laboratorium, perangkat praktik, atau fasilitas pendukung lainnya.

Padahal, tuntutan pembelajaran modern semakin luas.

Akses terhadap teknologi, sumber pembelajaran digital, hingga fasilitas praktik yang relevan dengan perkembangan industri menjadi bagian yang menentukan kualitas proses belajar.

Di sisi lain, ketersediaan fasilitas belum otomatis menjamin hasil pendidikan.

Cara lembaga mengelola sumber daya juga menjadi faktor penting.

Cris menempatkan tata kelola institusi sebagai salah satu dari lima fondasi pendidikan vokasi. Pengelolaan yang baik, menurutnya, harus mengedepankan efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.

Artinya, pertanyaan mengenai pendidikan vokasi tidak berhenti pada apa fasilitas yang dimiliki, tetapi juga bagaimana fasilitas dan sumber daya tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas lulusan.

Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Jumlah Lulusan

Bagian paling penting dari pendidikan vokasi justru berada setelah mahasiswa atau peserta didik menyelesaikan pendidikan.

Apakah mereka terserap dunia kerja?

Apakah kompetensinya sesuai kebutuhan?

Apakah mereka mampu beradaptasi ketika teknologi dan pola kerja berubah?

Dan yang tidak kalah penting, apakah kehadiran mereka memberikan manfaat bagi masyarakat?

Cris menegaskan ukuran keberhasilan pendidikan vokasi seharusnya tidak semata-mata dilihat dari jumlah lulusan yang dihasilkan.

“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi pada akhirnya bukan hanya berapa banyak lulusan, tetapi seberapa besar manfaat yang mereka berikan,” ujarnya.

Baca juga  Transformasi BPJS Ketenagakerjaan Didorong Lebih Proaktif, Menaker Tekankan Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan relevansi lulusan sebagai salah satu pekerjaan rumah utama pendidikan vokasi.

Sebab, angka kelulusan pada akhirnya hanyalah satu bagian dari perjalanan. Tantangan sesungguhnya dimulai ketika lulusan masuk ke pasar kerja dan berhadapan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Ada Jarak antara Pendidikan dan Dunia Kerja?

Kebutuhan industri yang berubah cepat membuat pendidikan vokasi harus terus menyesuaikan diri.

Kurikulum, kompetensi pengajar, fasilitas praktik, teknologi pembelajaran, hingga hubungan dengan dunia kerja menjadi rangkaian yang saling berkaitan.

Jika salah satu bagian tertinggal, kemampuan lulusan untuk beradaptasi juga berpotensi ikut terdampak.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: apakah seluruh sistem pendidikan vokasi sudah bergerak secepat perubahan kebutuhan dunia kerja?

Belum ada penjelasan rinci dalam pernyataan tersebut mengenai seberapa besar kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.

Begitu pula ukuran konkret mengenai dampak lulusan pendidikan vokasi terhadap dunia kerja dan masyarakat masih menjadi bagian yang perlu terus dilihat melalui data dan kondisi lapangan.

Polteknaker Didorong Terus Berbenah

Dalam momentum Dies Natalis ke-9, Cris berharap Polteknaker terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia berharap institusi tersebut mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing.

“Saya berharap Polteknaker dapat melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, dan daya saing tinggi sehingga mampu berkontribusi dalam transformasi ketenagakerjaan Indonesia,” pungkasnya.

Pendidikan vokasi pada akhirnya menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan tenaga kerja terampil.

Hingga kini, belum semua pertanyaan mengenai kesesuaian pendidikan dengan perubahan dunia kerja memiliki jawaban sederhana.

Baca juga  MAKI Kritik Pengalihan Penahanan Gus Yaqut, Desak KPK Kembalikan ke Tahanan

Di satu sisi, kebutuhan terhadap tenaga kerja kompeten terus meningkat. Di sisi lain, teknologi dan pola kerja berubah dengan cepat.

Pertanyaannya, apakah lima fondasi yang disebut Kemnaker tersebut akan benar-benar mampu memperkecil jarak antara ruang pendidikan dan realitas dunia kerja?

Atau justru masih ada pekerjaan rumah lain yang belum banyak terlihat? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here