
JAKARTA, cimutnews.co.id — Jumlah anggota terus bertambah dan organisasi makin besar.
Namun di balik capaian PJS Sumatera Selatan sebagai daerah dengan anggota terbanyak di Indonesia, muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. Apakah pertumbuhan kuantitas tersebut sudah sejalan dengan kualitas dan profesionalisme jurnalis di lapangan?
Momentum itu mencuat saat peringatan hari ulang tahun ke-4 Pro Jurnalis Media Siber (PJS) pada 12 Mei 2026 di Jakarta.
Dalam agenda nasional tersebut, DPD PJS Sumsel resmi diumumkan sebagai wilayah dengan jumlah anggota terbanyak secara nasional.
Ketua DPD PJS Sumsel, Edi Triono, menjelaskan saat ini total anggota di wilayahnya mencapai 130 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 anggota telah masuk dalam proses administrasi penerbitan Kartu Tanda Anggota (KTA) di tingkat pusat. Sementara 47 anggota lainnya masih dalam tahap penginputan data.
Tak hanya soal jumlah, PJS Sumsel juga menonjolkan capaian kompetensi anggota.
Tercatat, sebanyak 43 jurnalis di bawah naungan organisasi tersebut telah memiliki sertifikat kompetensi Dewan Pers.
Rinciannya terdiri dari 5 jenjang Utama, 3 jenjang Madya, dan sisanya Kompetensi Muda.
“Keberhasilan mencatatkan jumlah anggota terbanyak ini adalah hasil kerja keras kolektif seluruh pengurus DPD dan DPC di 14 kabupaten dan kota se-Sumsel,” ujar Edi Triono.
Ia menegaskan pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas SDM demi mempercepat target menjadikan PJS sebagai konstituen Dewan Pers pada tahun 2026.
Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, turut memberikan apresiasi terhadap perkembangan PJS Sumsel.
Menurutnya, selain Sumsel, daerah lain seperti Bangka Belitung, Sumatera Utara, dan Banten juga menunjukkan peningkatan keanggotaan yang signifikan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, pertumbuhan organisasi media siber di daerah masih menyisakan tantangan yang cukup kompleks.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah jurnalis lokal yang mengaku persaingan media digital saat ini semakin ketat, sementara kualitas pelatihan dan perlindungan profesi dinilai belum sepenuhnya merata.
“Jumlah anggota memang meningkat. Tapi tantangan terbesar justru menjaga kualitas dan integritas jurnalistik,” ujar seorang jurnalis daerah di Sumsel yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Berdasarkan temuan di lapangan, perkembangan media siber di berbagai daerah memang tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun pertumbuhan tersebut diduga belum seluruhnya diikuti kesiapan manajemen media, kesejahteraan jurnalis, hingga penerapan standar etik jurnalistik secara konsisten.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah besarnya jumlah anggota otomatis mencerminkan kuatnya kualitas organisasi pers?
Atau justru organisasi media siber masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam membangun profesionalisme di tengah derasnya arus informasi digital?
Pengamat media menilai capaian PJS Sumsel layak diapresiasi karena menunjukkan tingginya minat jurnalis daerah untuk bergabung dalam organisasi profesi.
Namun tantangan berikutnya dinilai jauh lebih berat.
Selain memenuhi syarat administratif Dewan Pers, organisasi juga harus mampu memastikan kualitas anggota tetap terjaga di tengah cepatnya pertumbuhan media online.
Jika pembinaan berjalan konsisten, PJS dinilai berpeluang memperkuat posisi sebagai organisasi pers nasional yang berpengaruh.
Namun bila pertumbuhan hanya fokus pada jumlah anggota, tanpa penguatan kualitas, kondisi tersebut dikhawatirkan memunculkan persoalan baru di dunia media siber.
Hingga kini, proses menuju pengakuan sebagai konstituen Dewan Pers masih terus menjadi perhatian berbagai kalangan pers nasional.
Apakah dominasi jumlah anggota ini akan benar-benar memperkuat kualitas organisasi, atau justru menjadi tantangan baru yang belum sepenuhnya terjawab? (Timred/CN)

















