Beranda Nasional Surplus Beras Sumsel Belum Sepenuhnya Menjawab Keluhan Petani

Surplus Beras Sumsel Belum Sepenuhnya Menjawab Keluhan Petani

3
0
Menteri Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi terhadap distribusi pupuk dan surplus beras Sumsel.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Pemerintah pusat memberikan apresiasi terhadap sektor pertanian di Sumatera Selatan yang dinilai berhasil menjaga distribusi pupuk bersubsidi dan surplus produksi beras.

Namun di balik pujian tersebut, muncul pertanyaan lain yang mulai ramai dibicarakan di kalangan petani: apakah keberhasilan data produksi sudah benar-benar sejalan dengan kondisi kesejahteraan petani di lapangan?

Apresiasi itu disampaikan Zulkifli Hasan saat menghadiri kegiatan Rembuk Tani bersama PT Pupuk Sriwijaya Palembang di Ballroom Pusri Palembang, Jumat (1/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan menilai penyaluran pupuk bersubsidi di Sumsel berjalan baik dan tepat sasaran.

Ia juga menyebut harga gabah di tingkat petani sudah berada di kisaran Rp6.500 sesuai ketentuan pemerintah, yang dinilai mendukung peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat program swasembada pangan nasional.

“Penyaluran pupuk di Sumsel berjalan baik. Selain itu, harga gabah juga sudah berada di kisaran Rp6.500 dan diterima langsung oleh petani sesuai ketentuan pemerintah,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian Sumsel tidak lepas dari kepemimpinan Herman Deru yang dinilai konsisten mendukung ketahanan pangan nasional.

Bahkan, Sumsel disebut menjadi salah satu daerah strategis penopang surplus beras nasional dengan kontribusi signifikan terhadap capaian surplus 4,2 juta ton pada 2025.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan distribusi pupuk dan angka surplus produksi semata.

Sejumlah petani mengaku masih menghadapi tantangan biaya produksi, cuaca tidak menentu, hingga kestabilan harga hasil panen di tingkat bawah.

“Kalau pupuk memang lebih mudah sekarang, tapi biaya lain seperti sewa alat dan ongkos produksi masih berat,” ujar seorang petani di wilayah Banyuasin.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian kelompok tani yang mengaku mulai merasakan dampak positif dari distribusi pupuk yang lebih lancar dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Baca juga  Kapolres Blitar Bersama PJU Polres Blitar Sambangi Pemudik, Pastikan Arus Mudik Lancar

Berdasarkan temuan di lapangan, keberhasilan sektor pangan daerah memang sering diukur melalui data produksi dan surplus hasil panen.

Namun bagi petani, ukuran keberhasilan juga sangat ditentukan oleh keuntungan bersih yang mereka rasakan setelah biaya operasional pertanian terus meningkat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah capaian surplus beras nasional sudah benar-benar berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani kecil?

Sementara itu, Herman Deru menegaskan pihaknya akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat dan sektor swasta untuk menjaga keberlanjutan pertanian di Sumsel.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi agar sektor pertanian di Sumsel semakin maju dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Pengamat pertanian menilai Sumsel memang memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan nasional karena didukung wilayah produksi yang luas dan distribusi pupuk yang relatif stabil.

Namun mereka juga mengingatkan bahwa keberlanjutan sektor pertanian tetap memerlukan pengawasan distribusi, perlindungan harga hasil panen, hingga regenerasi petani muda.

Hingga kini, belum semua persoalan petani dapat diselesaikan hanya melalui capaian surplus dan stabilitas distribusi pupuk.

Masyarakat kini menanti apakah keberhasilan yang dipuji pemerintah pusat benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara merata di lapangan.

Apakah Sumsel akan terus menjadi model keberhasilan pertanian nasional, atau justru masih menyimpan tantangan yang belum sepenuhnya terjawab? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here