Beranda Muara Enim Terungkap, Produktivitas Padi Khas Semende Masih Terkendala Waktu Tanam yang Panjang

Terungkap, Produktivitas Padi Khas Semende Masih Terkendala Waktu Tanam yang Panjang

18
0
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menghadiri Panen Padi Tunggu Tubang dan Syukuran bersama masyarakat di Desa Tebing Abang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim.(Foto:Eko/cimutnews.co.id)

MUARA ENIM, cimutnews.co.id — Tradisi panen padi Tunggu Tubang kembali digelar di kawasan Semende, Kabupaten Muara Enim. Di tengah suasana syukuran masyarakat adat yang berlangsung khidmat, muncul harapan baru agar padi khas Semende mampu menghasilkan panen lebih cepat tanpa kehilangan cita rasa maupun identitas lokalnya.

Harapan tersebut disampaikan langsung Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat menghadiri Panen Padi Tunggu Tubang dan Syukuran di Desa Tebing Abang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Minggu (19/7/2026). Salah satu fokus yang didorong adalah pemanfaatan inovasi teknologi pertanian untuk memangkas masa tanam yang selama ini mencapai sekitar sembilan bulan.

Namun, di balik semangat meningkatkan produktivitas, muncul pertanyaan yang masih menjadi perhatian banyak pihak. Bisakah masa tanam dipercepat tanpa mengubah karakter asli varietas lokal yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaan masyarakat Semende?

Padi Semende dikenal sebagai salah satu varietas lokal yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi bagi masyarakat pegunungan Muara Enim. Masa tanam yang relatif panjang selama kurang lebih sembilan bulan menjadi ciri khas budidayanya, namun di sisi lain juga membatasi frekuensi panen dibandingkan varietas unggul modern.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Herman Deru menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh menghilangkan identitas varietas lokal. Menurutnya, inovasi justru harus mampu meningkatkan produktivitas petani tanpa mengorbankan kualitas maupun nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

“Kita ingin masa tanamnya bisa lebih singkat melalui teknologi pertanian, tetapi varietas khas Semende tetap terjaga keasliannya,” ujar Herman Deru di hadapan masyarakat dan tamu undangan.

Kunjungan kerja tersebut juga dihadiri Pelaksana Tugas Bupati Muara Enim Hj. Sumarni, Bupati Ogan Komering Ilir Muchendi Mahzarekki, Wali Kota Prabumulih Arlan, Direktur Utama Bank Sumsel Babel Muhammad Suryadi, jajaran Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Sumsel, serta tokoh masyarakat.

Baca juga  Wabup Muara Enim. Buka Bimtek penyuluhan tata kelola BUMDes

Produktivitas Jadi Harapan, Adaptasi Menjadi Tantangan

Upaya mempercepat masa tanam dinilai dapat membuka peluang peningkatan produksi padi lokal. Dengan waktu tanam yang lebih efisien, petani berpotensi memperoleh hasil panen lebih banyak dalam jangka waktu yang sama.

pengembangan varietas lokal bukan perkara sederhana. Karakter padi Semende yang telah beradaptasi dengan kondisi geografis pegunungan selama bertahun-tahun menjadi salah satu alasan mengapa perubahan teknologi perlu dilakukan secara hati-hati.

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian petani di wilayah pegunungan masih mengandalkan pola tanam tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka umumnya mempertimbangkan kondisi cuaca, ketersediaan air, hingga kalender adat dalam menentukan musim tanam.

Di sisi lain, penerapan teknologi pertanian modern juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari penyediaan benih, alat pertanian, hingga edukasi bagi petani agar inovasi benar-benar dapat diterapkan sesuai karakter lahan Semende.

Menjaga Warisan Lokal di Tengah Modernisasi

Padi Tunggu Tubang bukan sekadar komoditas pangan. Bagi masyarakat Semende, keberadaannya memiliki hubungan erat dengan tradisi, budaya, hingga sistem kekeluargaan yang masih dijaga sampai sekarang.

Karena itu, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan syukuran berharap inovasi yang dilakukan pemerintah nantinya tidak menghilangkan kekhasan varietas lokal yang telah menjadi identitas daerah.

Beberapa pihak juga menilai peningkatan produktivitas akan lebih optimal apabila dibarengi dengan penguatan irigasi, akses permodalan, pemasaran hasil panen, serta perlindungan terhadap varietas lokal agar tidak tergeser oleh benih komersial.

Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah

Pengembangan pertanian berbasis varietas lokal memang menjadi salah satu strategi menjaga ketahanan pangan sekaligus melestarikan kekayaan hayati daerah.

Namun keberhasilan program tersebut nantinya tidak hanya diukur dari percepatan masa tanam semata. Keberlanjutan pendampingan kepada petani, kesiapan teknologi, hingga penerimaan masyarakat akan menjadi faktor penting yang menentukan hasil akhirnya.

Baca juga  Bupati Muara Enim Hadiri peluncuran dan Dialog Koperasi Merah Putih

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana inovasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengurangi nilai budaya yang selama ini melekat pada padi khas Semende.

Hingga kini, belum semua mekanisme teknis maupun tahapan inovasi yang akan diterapkan dijelaskan secara rinci kepada publik. Masyarakat pun menantikan bagaimana langkah tersebut akan diwujudkan di lapangan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para petani. (Eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here