
Palembang, cimutnews.co.id – Isu mengenai kemungkinan Sriwijaya FC diambil alih atau dipindahkan (takeover) ke Provinsi Jambi terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air. Menanggapi wacana tersebut, legenda hidup Laskar Wong Kito, Oktavianus, angkat bicara dan menilai rencana tersebut tidak mudah untuk direalisasikan.
Mantan winger andalan Sriwijaya FC di era kejayaan itu menegaskan bahwa persoalan utama yang membuat takeover sulit dilakukan adalah beban utang klub yang dinilai cukup besar. Menurutnya, kondisi finansial Sriwijaya FC saat ini menjadi faktor krusial yang akan menghambat pihak mana pun yang berniat mengambil alih klub, termasuk jika dikaitkan dengan wacana kepindahan ke Jambi.
Pernyataan tersebut disampaikan Oktavianus saat melakukan siaran langsung di media sosial bersama mantan penjaga gawang Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu. Dalam sesi live itu, Oktavianus merespons pertanyaan warganet yang menyinggung peluang Sriwijaya FC diambil alih oleh pihak dari Jambi, seiring berkembangnya kabar bahwa sepak bola di provinsi tersebut tengah menunjukkan progres positif.
Seperti diketahui, Jambi belakangan disebut-sebut siap menghadirkan klub baru untuk berlaga di kompetisi Liga 2. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Sriwijaya FC berpotensi menjadi klub yang diambil alih atau dipindahkan markasnya. Namun, Oktavianus menilai isu tersebut perlu disikapi secara realistis.
“Kalau bicara Sriwijaya FC diambil alih atau digeser ke Jambi, itu berat. Persoalan utang yang harus diselesaikan cukup besar dan tidak semua pihak sanggup menanggungnya,” ujar Oktavianus dalam pernyataannya.
Ia menekankan bahwa dalam sepak bola profesional, proses pengambilalihan klub tidak hanya berbicara soal prestasi, nama besar, atau basis suporter. Lebih dari itu, ada kewajiban finansial yang melekat, termasuk tanggungan utang masa lalu yang harus diselesaikan oleh pemilik baru.
Menurutnya, aspek inilah yang kerap luput dari perhatian publik ketika membicarakan isu takeover klub. Padahal, bagi calon investor, persoalan keuangan menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan besar.
“Tidak bisa hanya melihat peluang kompetisi atau potensi pasar. Semua kewajiban finansial harus dibereskan terlebih dahulu. Itu yang membuat prosesnya tidak sederhana,” tambahnya.
Menariknya, Oktavianus saat ini memang berdomisili di Jambi. Meski demikian, ia lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 10 Oktober 1981, dan dikenal luas sebagai ikon Sriwijaya FC yang turut mengantarkan klub tersebut meraih berbagai prestasi nasional. Kedekatannya dengan Jambi membuat namanya kerap dikaitkan dengan perkembangan sepak bola di provinsi tersebut.
Namun demikian, Okta—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa kondisi Sriwijaya FC tidak bisa dilepaskan begitu saja dari berbagai persoalan struktural yang ada. Ia menilai, solusi atas masalah klub harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, bukan melalui langkah instan yang berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Sebagai informasi, Oktavianus sempat dipercaya manajemen Sriwijaya FC untuk menangani Elite Pro Academy (EPA) U-20. Selain itu, ia juga bergabung dengan tim senior sebagai asisten pelatih pada musim ini. Namun, dalam perjalanannya, Okta memilih mengundurkan diri dari pos tersebut.
Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi internal klub. Saat ini, ia melanjutkan karier kepelatihannya bersama klub lokal di Jambi, sembari tetap mengikuti perkembangan sepak bola nasional.
Pernyataan Oktavianus ini sekaligus menepis spekulasi liar terkait masa depan Sriwijaya FC. Ia menegaskan bahwa pembenahan klub tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi hanya dengan wacana pemindahan atau pengambilalihan.
Menurutnya, yang paling dibutuhkan Sriwijaya FC saat ini adalah perbaikan manajemen, transparansi keuangan, serta dukungan nyata dari berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan mendasar yang ada. Tanpa itu, wacana takeover hanya akan menjadi isu yang berulang tanpa solusi konkret.
Bagi suporter Laskar Wong Kito, pandangan Oktavianus menjadi pengingat bahwa menyelamatkan klub kebanggaan tidak cukup dengan mimpi besar, tetapi harus dibarengi kerja nyata dan komitmen jangka panjang. Sriwijaya FC, dengan sejarah dan identitasnya, dinilai masih memiliki peluang untuk bangkit jika pembenahan dilakukan secara serius dan bertahap. (Poerba)

















