Beranda Kriminal Teror Digital ke BEM UGM Meluas, Puluhan Pengurus dan Keluarga Ikut Terdampak

Teror Digital ke BEM UGM Meluas, Puluhan Pengurus dan Keluarga Ikut Terdampak

94
0
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto saat memberikan keterangan terkait teror yang dialami pengurus dan keluarga. (Foto: Instagram/@tiyoardianto)

Jogja, cimutnews.co.id – Gelombang teror yang menyasar Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, dilaporkan semakin meluas. Tidak lagi bersifat personal, aksi intimidasi tersebut kini turut menyasar puluhan pengurus BEM UGM hingga keluarga mereka, menimbulkan kekhawatiran di lingkungan kampus.

Menurut informasi yang dihimpun dan dikutip dari Tribuntrends/TribunJogja, lebih dari 40 pengurus BEM UGM menerima pesan dan panggilan dari nomor tidak dikenal dengan pola serupa. Teror tersebut juga dilaporkan menyasar orang tua sejumlah pengurus, sehingga memperluas dampak psikologis yang ditimbulkan.

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyampaikan bahwa hingga kini aksi teror tersebut masih terus terjadi. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan yang dialami tidak berhenti meskipun telah menjadi perhatian publik.

Konteks Nasional: Ruang Kritik dan Keamanan Aktivis Mahasiswa

Fenomena teror terhadap aktivis mahasiswa bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Dalam konteks nasional, isu kebebasan akademik dan ruang kritik publik kerap menjadi sorotan, terutama ketika mahasiswa menyampaikan aspirasi terhadap kebijakan pemerintah.

Sejumlah lembaga seperti Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) selama ini mendorong perlindungan terhadap individu atau kelompok yang menghadapi intimidasi akibat aktivitas advokasi.

Dalam kasus ini, BEM UGM telah berkoordinasi dengan berbagai pihak tersebut, termasuk internal kampus Universitas Gadjah Mada, guna mencari langkah terbaik dalam menyikapi situasi yang berkembang.

Data Lapangan: Teror Menyasar Puluhan Pengurus

Berdasarkan keterangan yang disampaikan, teror yang awalnya hanya dialami oleh Tiyo dan keluarganya kini telah meluas ke lingkup organisasi. Dari total sekitar 600 pengurus BEM UGM, lebih dari 40 orang dilaporkan menerima teror serupa.

Jumlah tersebut belum termasuk relawan kepanitiaan yang secara keseluruhan mencapai hampir 1.000 orang. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti pola pemilihan target, apakah acak atau berdasarkan data tertentu.

Baca juga  Takjil Unik Viral, Pasar Ramadan Diserbu Warga dan Dongkrak UMKM

“Dari sekian nomor yang ada, kenapa hanya sekitar 40 yang terkena? Ini yang masih kami telusuri,” ujar Tiyo.

Ia menambahkan bahwa dugaan awal sempat mengarah pada kebocoran data melalui media sosial seperti LinkedIn atau platform lainnya. Namun, setelah ditelusuri, tidak semua korban memiliki keterkaitan yang sama di ruang digital terbuka.

Kutipan Narasumber: BEM UGM Pilih Fokus pada Kritik

Di tengah situasi tersebut, BEM UGM menyatakan belum mengambil langkah hukum dengan melaporkan kasus ini ke aparat penegak hukum. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk efektivitas penanganan dan fokus gerakan mahasiswa.

“Pada dasarnya teror ini tidak membuat kami berhenti. Kami akan tetap menyampaikan kritik terhadap hal-hal yang kami anggap tidak adil,” ujar Tiyo saat ditemui di kawasan UII Cik Di Tiro, Minggu (22/2/2026).

Ia bahkan menyebut bahwa tekanan yang terjadi justru memperkuat solidaritas internal organisasi.

“Justru dengan kondisi ini, solidaritas teman-teman semakin kuat karena merasakan hal yang sama,” tambahnya.

Penjelasan Lanjutan: Dugaan Kebocoran Data dan Penyusupan

Lebih lanjut, Tiyo mengungkapkan adanya kemungkinan kebocoran data internal organisasi. Ia tidak menutup kemungkinan adanya pihak tertentu yang memiliki akses terhadap data anggota, termasuk nomor telepon yang digunakan dalam grup komunikasi internal.

“Kami juga mewaspadai kemungkinan adanya pihak yang menyusup atau memiliki akses ke data internal, mengingat ini berkaitan dengan data digital,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum memiliki bukti konkret terkait dugaan tersebut. Proses penelusuran masih terus dilakukan secara internal, meski diakui tidak mudah mengingat jumlah anggota yang besar.

Imbauan dan Harapan: Perlindungan dan Ruang Aman

Situasi ini menjadi perhatian serius terkait pentingnya perlindungan terhadap aktivis mahasiswa dan ruang akademik yang aman. Teror digital, meski tidak bersifat fisik, tetap memiliki dampak psikologis yang signifikan, terutama ketika menyasar keluarga.

Baca juga  Mensesneg dan Menristek Ajak Mahasiswa Perkuat Peran dalam Membangun Bangsa

Sejumlah pihak mendorong agar kasus ini ditangani secara komprehensif, baik melalui pendekatan hukum maupun perlindungan korban. Di sisi lain, mahasiswa diharapkan tetap berhati-hati dalam menjaga data pribadi serta meningkatkan keamanan digital.

BEM UGM sendiri berharap agar situasi ini tidak berkembang menjadi lebih luas dan dapat segera menemukan titik terang.

Penutup: Komitmen pada Prinsip Berimbang

Kasus teror terhadap BEM UGM ini menjadi cerminan pentingnya menjaga ruang demokrasi yang sehat, di mana kritik dapat disampaikan tanpa rasa takut. Di sisi lain, penanganan yang profesional dan berimbang tetap diperlukan untuk memastikan semua pihak mendapatkan perlindungan hukum yang adil.

Cimutnews.co.id akan terus memantau perkembangan kasus ini dengan mengedepankan prinsip jurnalisme berimbang, akurat, dan sesuai kode etik, serta tetap menjunjung asas praduga tak bersalah (Timred/CN)

Sumber : Tribuntrands/Tribun jogya)