
Makassar, cimutnews.co.id – Kabar duka datang dari dunia keislaman dan kebangsaan Indonesia. Prof. Dr. H. Umar Shihab, MA, tokoh moderasi beragama yang dikenal luas sebagai intelektual penyejuk, meninggal dunia pada Jumat, 20 Maret 2026, di usia 86 tahun. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Indonesia yang selama ini merindukan narasi persatuan dan kesejukan dalam kehidupan berbangsa.
Kabar wafatnya Prof Umar Shihab langsung memantik simpati luas dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, akademisi, hingga politisi nasional. Salah satunya datang dari tokoh politik asal Sumatera Selatan, Ir. H. Eddy Santana Putra, MT, yang menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian sosok ulama kharismatik tersebut.
Sosok Intelektual Penyejuk Bangsa
Eddy Santana Putra mengenang Prof Umar Shihab sebagai figur yang konsisten merawat persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Menurutnya, almarhum bukan hanya milik keluarga atau daerah tertentu, melainkan milik seluruh bangsa.
“Kita kehilangan seorang begawan ukhuwah. Prof. Umar Shihab bukan hanya milik keluarga besar Shihab atau warga Sulawesi Selatan, tapi milik bangsa yang rindu akan narasi persatuan,” ujar Eddy dalam keterangannya.
Ia juga menilai, kiprah panjang Prof Umar Shihab dalam dunia keislaman menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Jejak Pengabdian di MUI dan Dunia Pendidikan
Semasa hidupnya, Prof Umar Shihab dikenal aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya sebagai Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah pada periode 1998–2015. Dalam peran tersebut, ia berkontribusi besar dalam merajut persatuan umat di tengah dinamika perbedaan pandangan.
Tak hanya itu, dedikasinya juga tercermin dalam dunia pendidikan. Ia menjadi bagian penting dari Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sebagai anggota pembina.
Rektor dan segenap keluarga besar UMI Makassar turut menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Prof Umar Shihab. Dalam pernyataan resminya, almarhum disebut sebagai sosok yang menghadirkan keteduhan serta menjaga nilai-nilai luhur dalam perjalanan kampus.
“Beliau bukan sekadar bagian dari Yayasan, tetapi adalah sosok yang menghadirkan keteduhan, menjaga nilai, dan menanamkan arah dalam perjalanan UMI sebagai kampus ilmu dan ibadah,” demikian pernyataan pihak UMI.
Moderasi Beragama di Tengah Tantangan Bangsa
Kepergian Prof Umar Shihab menjadi refleksi penting di tengah upaya pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dalam memperkuat moderasi beragama. Dalam beberapa tahun terakhir, isu toleransi dan persatuan menjadi fokus utama dalam menjaga stabilitas sosial di Indonesia yang majemuk.
Pemikiran dan keteladanan almarhum dinilai relevan dengan agenda nasional dalam memperkuat harmoni antarumat beragama. Ia dikenal sebagai tokoh yang selalu mengedepankan dialog, keseimbangan, serta sikap saling menghormati.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
Prof Umar Shihab meninggalkan warisan pemikiran yang kuat tentang pentingnya ukhuwah dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Eddy Santana Putra berharap semangat yang ditanamkan almarhum dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat Indonesia.
“Kita semua punya tanggung jawab melanjutkan perjuangan beliau dalam menjaga persatuan dan memperkuat ukhuwah di negeri ini,” tegasnya.
Kepergian Prof Umar Shihab bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga amanah besar bagi bangsa Indonesia untuk terus merawat harmoni, memperkuat toleransi, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman.
(Timred/CN)
sumber : media dan instagram fh.umi.ac.id


















