
MAKASSAR, cimutnews.co.id – Keluarga besar Muhammadiyah Sulawesi Selatan menggelar silaturahim Syawalan 1447 Hijriah pada Sabtu (28/3), yang dihadiri Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti menekankan pentingnya memahami perbedaan (ikhtilaf) sebagai bagian dari ketetapan Allah sekaligus memperkuat persatuan umat Islam di tengah keberagaman pandangan.
Memahami Ikhtilaf sebagai Keniscayaan
Perbedaan yang Tidak Bisa Dihindari
Mu’ti menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam, khususnya dalam ranah fikih, merupakan hal yang tidak terelakkan. Ikhtilaf, menurutnya, terjadi pada aspek cabang (furu’iyah), bukan pada prinsip dasar agama (ushuliyah).
Ia menguraikan bahwa ikhtilaf dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk utama:
- Alamiah (bawaan): perbedaan yang muncul secara natural
- Ilmiah: perbedaan akibat metode dan pemikiran ulama
- Amaliah: perbedaan dalam praktik ibadah
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan bagian dari dinamika intelektual umat Islam.
Mengedepankan Fastabiqul Khairat
Fokus pada Kebaikan, Bukan Perdebatan
Dalam pidatonya, Mu’ti mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perdebatan panjang yang tidak produktif terkait perbedaan mazhab.
“Alih-alih berdebat siapa yang paling benar, yang perlu dikedepankan adalah semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap ijtihad memiliki nilai pahala, sehingga penilaian akhir terhadap kebenaran merupakan hak prerogatif Allah.
Pendekatan ini dinilai relevan dalam konteks masyarakat modern yang semakin plural dan kompleks.
Tiga Kunci Menjaga Keutuhan Umat
Strategi Membangun Harmoni Sosial
Mu’ti juga memaparkan tiga prinsip utama dalam menjaga persatuan umat Islam, yang diibaratkannya sebagai satu tubuh yang saling terhubung.
Berikut tiga kunci tersebut:
- Menghindari sikap elitis dan superioritas
Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang rendah hati dan inklusif. - Membersihkan prasangka buruk
Tidak mudah menghakimi serta tidak sibuk mencari kesalahan pihak lain. - Menghidupkan silaturahim substantif
Menjadikan pertemuan sebagai sarana memperbaiki hubungan, bukan sekadar formalitas.
Pendekatan ini dinilai penting untuk meredam potensi konflik internal umat yang kerap dipicu oleh perbedaan pandangan.
Makna Silaturahim dalam Perspektif Sosial
Lebih dari Sekadar Pertemuan Fisik
Mu’ti menekankan bahwa silaturahim memiliki nilai strategis dalam membangun kohesi sosial umat.
Menurutnya, silaturahim tidak boleh hanya berhenti pada pertemuan fisik, tetapi harus mampu:
- Mengurai konflik yang ada
- Menyambung kembali hubungan yang renggang
- Menciptakan dialog yang sehat dan konstruktif
“Kehadiran fisik dalam silaturahim membawa energi positif yang membuat umat lebih sehat dan cerdas melalui perbincangan langsung yang lebih hangat,” jelasnya.
Dampak dan Relevansi bagi Masyarakat
Menjawab Tantangan Polarisasi Umat
Pesan yang disampaikan Mu’ti memiliki relevansi kuat di tengah meningkatnya polarisasi di masyarakat, baik karena perbedaan mazhab, pandangan keagamaan, maupun dinamika sosial-politik.
Dengan mengedepankan:
- toleransi berbasis pemahaman
- dialog terbuka
- semangat kolaborasi
umat Islam diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat peran sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat.
Selain itu, pendekatan ini juga mendukung upaya lembaga keagamaan seperti Muhammadiyah dalam membangun Islam yang berkemajuan dan inklusif.
Momentum Syawalan 1447 H menjadi ruang refleksi penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan. Penegasan Abdul Mu’ti tentang ikhtilaf dan pentingnya silaturahim memperkuat pesan bahwa persatuan umat harus dibangun di atas toleransi, akhlak, dan semangat kebaikan bersama. (Timred/CN)
Sumber :Muhammadiyah.or.id


















