
BANYUASIN, cimutnews.co.id — Peristiwa rumah roboh Banyuasin menimpa keluarga warga Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II, setelah bangunan yang sudah lapuk ambruk diterjang hujan deras dan angin kencang, Selasa (2/4/2026).
Insiden ini menjadi perhatian aparat dan pemerintah daerah karena mencerminkan kerentanan hunian masyarakat pesisir terhadap cuaca ekstrem, sekaligus memicu respons cepat penyaluran bantuan sosial bagi korban.
Kronologi Rumah Roboh di Sungsang II
Bangunan Lapuk Tak Kuat Menahan Cuaca
Rumah milik Soli, warga Lorong Salak RT 09 RW 02, dilaporkan roboh sekitar siang hari setelah hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan tersebut.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, kondisi rumah yang sudah tua dan rapuh menjadi faktor utama penyebab bangunan tidak mampu bertahan terhadap tekanan cuaca.
Seluruh Anggota Keluarga Selamat
Meski rumah roboh Banyuasin ini terjadi secara tiba-tiba, Soli bersama istri dan tiga anaknya berhasil menyelamatkan diri tanpa mengalami luka.
Peristiwa ini sempat membuat panik warga sekitar, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Respons Cepat Aparat dan Pemerintah
Peninjauan Langsung di Lokasi
Kapolsek Banyuasin II, IPTU Fariz Muhammad, bersama jajaran langsung mendatangi lokasi kejadian tak lama setelah laporan diterima.
Kehadiran aparat kepolisian ini sekaligus memastikan kondisi keamanan dan kebutuhan mendesak korban.
Bantuan Sosial Disalurkan
Pada pukul 12.30 WIB, bantuan sosial berupa paket sembako diserahkan langsung kepada keluarga korban.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut:
- Ahmad Riduan
- H. Alex
Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga pasca-kejadian.
Kolaborasi Antarinstansi Jadi Kunci
Sinergi Penanganan Bencana Lokal
Menurut IPTU Fariz Muhammad, kehadiran aparat tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang harus hadir saat warga mengalami musibah.
“Kami hadir sebagai bentuk empati dan kepedulian. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban keluarga korban,” ujarnya.
Apresiasi dari Pemerintah Kecamatan
Camat Banyuasin II, Ahmad Riduan, menyampaikan apresiasi terhadap koordinasi cepat antara kepolisian dan pemerintah desa.
Menurutnya, sinergi ini penting dalam memastikan penanganan awal bencana berjalan efektif, terutama di wilayah rawan seperti kawasan pesisir.
Kerentanan Rumah di Wilayah Pesisir
Kasus rumah roboh Banyuasin bukan yang pertama terjadi di wilayah pesisir Sumatera Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kejadian serupa kerap terjadi akibat kombinasi faktor:
- Struktur bangunan yang sudah tua
- Material yang tidak tahan cuaca ekstrem
- Intensitas hujan dan angin yang meningkat
Data dari pemerintah daerah menunjukkan bahwa banyak rumah di kawasan pesisir masih belum memenuhi standar konstruksi tahan cuaca.
Dampak Nyata bagi Korban
Kehilangan tempat tinggal menjadi dampak paling signifikan bagi keluarga Soli. Selain itu, mereka juga menghadapi:
- Kerugian material berupa harta benda
- Ketidakpastian tempat tinggal sementara
- Gangguan aktivitas sehari-hari
Menurut pihak pemerintah desa, upaya lanjutan akan dilakukan untuk membantu pemulihan kondisi keluarga korban.
Cuaca Ekstrem dan Kualitas Hunian
Peristiwa ini mencerminkan persoalan struktural yang lebih luas, yakni ketidaksiapan hunian masyarakat menghadapi perubahan pola cuaca.
Dalam jangka pendek, bantuan sosial menjadi solusi penting untuk meringankan beban korban. Namun, tanpa intervensi perbaikan kualitas rumah, risiko kejadian serupa akan tetap tinggi.
Dalam jangka panjang, diperlukan program renovasi atau bantuan perumahan yang terarah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah rawan bencana.
Rumah roboh Banyuasin menunjukkan bahwa bencana tidak selalu berskala besar. Kerusakan akibat faktor struktural rumah justru menjadi ancaman “sunyi” yang berulang dan sering luput dari perhatian kebijakan.
Peristiwa rumah roboh Banyuasin menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan kualitas hunian di wilayah rawan cuaca ekstrem. Respons cepat aparat dan pemerintah patut diapresiasi, namun langkah jangka panjang tetap dibutuhkan.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa sekaligus memastikan keselamatan warga. (Noto)


















