Beranda Adv. Ogan Komering Ilir Terungkap: Program Politik untuk Pelajar, Efektif atau Seremonial?

Terungkap: Program Politik untuk Pelajar, Efektif atau Seremonial?

9
0
Suasana kegiatan Remaja Bernegara di Kantor DPW NasDem Sumsel (foto: timred/CN/)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program pendidikan politik bertajuk “Remaja Bernegara” digelar meriah di Kantor DPW Partai NasDem Sumatera Selatan, Minggu (26/4/2026).

Kegiatan ini disebut sebagai upaya membangun generasi muda yang melek politik sejak dini.

Namun di balik kemasan edukatif dan antusiasme peserta, muncul pertanyaan: sejauh mana program ini benar-benar berdampak?

Sebanyak 79 pelajar SMA/SMK dari Palembang mengikuti kegiatan ini.

Mayoritas peserta merupakan Ketua OSIS atau siswa berprestasi yang dipilih melalui proses seleksi.

Mereka mendapatkan materi kebangsaan, politik, hingga simulasi menjadi anggota DPRD dan kepala daerah.

Sekretaris DPW NasDem Sumsel, Nopianto, menyebut program ini dirancang untuk membentuk karakter pemimpin masa depan.

“Kegiatan ini untuk menanamkan pemahaman politik yang sehat serta membentuk generasi dengan wawasan kebangsaan,” ujarnya.

Acara juga menghadirkan Rico Tri Putra Bayu Waas sebagai pembicara inspiratif.

Menurut panitia, kehadiran kepala daerah tersebut diharapkan memberi gambaran nyata tentang kepemimpinan.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, program serupa sebelumnya kerap berhenti pada level seremoni tanpa keberlanjutan yang jelas.

Sejumlah kegiatan pendidikan politik untuk pelajar seringkali tidak diikuti dengan pembinaan jangka panjang.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian peserta yang mengaku masih membutuhkan ruang praktik nyata setelah kegiatan selesai.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah program ini benar-benar membentuk kader pemimpin, atau sekadar pengalaman sesaat?

Beberapa peserta mengaku antusias, namun masih mempertanyakan tindak lanjut program.

“Kegiatannya menarik, apalagi simulasi DPRD. Tapi semoga tidak berhenti di sini saja,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.

Sementara itu, sejumlah pengamat pendidikan—berdasarkan temuan di lapangan—menilai bahwa pendidikan politik perlu konsistensi, bukan hanya event.

Program ini secara konsep dinilai positif karena memperkenalkan politik sejak dini.

Baca juga  Pemkot Prabumulih Raih Apresiasi SIPD RI 2025, Implementasi Digitalisasi Pemerintahan Capai 100 Persen

Namun, tanpa sistem pembinaan berkelanjutan, dampaknya berpotensi terbatas.

Apalagi, stigma “politik itu kotor” yang ingin dihapus justru membutuhkan pendekatan jangka panjang, bukan sekadar simulasi.

Hadiah berupa uang pembinaan dan kesempatan masuk Gedung DPRD memang menarik.

Namun hingga kini, belum semua program serupa mampu melahirkan figur muda yang benar-benar masuk ke ruang politik nyata.

Kegiatan “Remaja Bernegara” menjadi langkah awal yang menjanjikan.

Namun efektivitasnya masih bergantung pada kesinambungan program dan pembinaan lanjutan.

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai roadmap jangka panjang program ini.

Apakah akan melahirkan pemimpin muda yang nyata, atau hanya menjadi agenda tahunan semata? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here