
OKI, cimutnews.co.id — Pengelolaan gambut OKI berbasis riset mulai diperkuat setelah Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Sriwijaya, Rabu (22/4/2026).
Langkah ini dinilai penting karena wilayah OKI didominasi lahan gambut yang rentan terbakar, sehingga pendekatan ilmiah dianggap menjadi kunci dalam menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara berkelanjutan.
Kolaborasi Riset Jadi Fondasi Baru Pengelolaan Gambut
Penandatanganan MoU di Kantor Bupati
Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Ruang Rapat Bupati OKI pada Rabu, 22 April 2026.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk memperbaiki pola pengelolaan lahan gambut yang selama ini cenderung konvensional.
70 Persen Wilayah OKI Adalah Gambut
Berdasarkan data pemerintah daerah, sekitar 70 persen wilayah OKI merupakan lahan gambut—jenis lahan yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Karakter ini menjadikan OKI sebagai salah satu wilayah paling rawan karhutla di Sumatera Selatan.
Dari Pendekatan Konvensional ke Berbasis Ilmiah
Evaluasi dari Pengalaman Tahun Sebelumnya
Menurut Muchendi, meski pada 2025 jumlah titik api tercatat paling rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, ancaman karhutla tetap tinggi.
Ia menilai capaian tersebut harus dijaga dengan pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis data ilmiah.
“Kami butuh kebijakan yang tidak hanya reaktif, tapi berbasis riset agar tepat sasaran,” ujarnya.
Transfer Pengetahuan Jadi Target Utama
Kerja sama ini juga diarahkan untuk mendorong transfer ilmu dari akademisi kepada pemerintah dan masyarakat.
Beberapa fokus yang diharapkan:
- Teknologi deteksi dini kebakaran
- Pengelolaan air di lahan gambut
- Alternatif pembukaan lahan tanpa bakar
- Edukasi masyarakat berbasis data
Peran Kampus Turun ke Lapangan
Perguruan Tinggi Tidak Lagi di Menara Gading
Rektor Universitas Sriwijaya, Taufiq Marwa, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir langsung menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menurutnya, riset tidak boleh berhenti di jurnal, melainkan harus diterapkan di lapangan.
Fokus pada Riset Terapan dan Pendampingan
Unsri menyatakan siap mengerahkan sumber daya akademik untuk:
- Riset terapan pengelolaan gambut
- Pendampingan masyarakat desa rawan karhutla
- Penguatan kapasitas pemerintah daerah
- Pengembangan model kebijakan berbasis data
Karhutla dan Gambut Jadi Isu Berulang
Secara nasional, kebakaran hutan dan lahan di wilayah gambut terus menjadi persoalan berulang, terutama saat musim kemarau panjang.
Di Sumatera Selatan, beberapa tahun sebelumnya mencatat puluhan ribu hektare lahan terbakar, dengan dampak kabut asap yang meluas hingga lintas provinsi.
Dibandingkan kondisi tersebut, penurunan titik api pada 2025 di OKI menjadi indikator positif, namun belum cukup untuk memastikan risiko benar-benar terkendali.
Dampak Nyata Jika Tidak Dikendalikan
Karhutla di wilayah gambut memiliki dampak luas, antara lain:
- Gangguan kesehatan akibat kabut asap
- Penurunan kualitas udara
- Kerugian ekonomi sektor pertanian
- Gangguan transportasi dan pendidikan
Menurut pemerintah daerah, pencegahan menjadi langkah paling efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas.
Kolaborasi Riset, Antara Harapan dan Tantangan
Kerja sama antara Pemkab OKI dan Unsri menandai pergeseran penting dari pendekatan reaktif menuju preventif berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam jangka pendek, kolaborasi ini berpotensi meningkatkan akurasi deteksi dini dan mempercepat respons terhadap titik api. Namun, tantangan utama terletak pada implementasi hasil riset di lapangan, terutama di wilayah dengan akses terbatas dan keterbatasan infrastruktur.
Dalam jangka panjang, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan masyarakat dan sektor swasta. Tanpa integrasi tersebut, riset berisiko berhenti sebagai dokumen tanpa dampak nyata.
Pendekatan berbasis riset dalam pengelolaan gambut bukan hanya soal teknologi, tetapi perubahan paradigma: dari “memadamkan api” menjadi “mencegah ekosistem terbakar sejak awal.”
Langkah ini juga melengkapi strategi daerah dalam memperkuat kesiapsiagaan, seperti yang dilakukan melalui apel siaga karhutla beberapa waktu lalu di OKI.
Penguatan pengelolaan gambut OKI berbasis riset menjadi langkah strategis dalam menghadapi ancaman karhutla yang berulang setiap tahun. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kajian akademik, tetapi juga solusi konkret yang mampu menjaga lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kebakaran.(Asep)

















