Beranda OKI Mandira Listrik Desa OKI Resmi Menyala 24 Jam, 329 KK Sungai Jeruju Kini...

Listrik Desa OKI Resmi Menyala 24 Jam, 329 KK Sungai Jeruju Kini Teraliri PLN

5
0
Peresmian penyalaan listrik desa di Dusun I, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI, Rabu (30/4). (foto: Asep/cimutnews.co.id)

OKI, cimutnews.co.id – Program Listrik Desa (Lisdes) yang dijalankan PT PLN (Persero) akhirnya menghadirkan layanan listrik 24 jam bagi warga Dusun I, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Peresmian penyalaan jaringan listrik dilakukan pada Rabu (30/4), menandai berakhirnya ketergantungan warga terhadap genset dengan waktu operasi terbatas.

Peresmian tersebut dihadiri Anggota Komisi XII DPR RI Dewi Yustisiana, Wakil Bupati OKI Supriyanto, serta General Manager PLN UID Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) Diksi Erfan Umar. Kehadiran listrik dinilai menjadi titik penting pemerataan pembangunan di wilayah perairan dan pelosok OKI yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar.

Pemerataan Energi Mulai Menjangkau Wilayah Perairan OKI

General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfan Umar, mengatakan keberhasilan penyalaan listrik di Desa Sungai Jeruju tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah dan DPR RI.

Menurut dia, tantangan geografis berupa rawa, sungai, hingga akses transportasi yang terbatas membuat pembangunan jaringan listrik di wilayah tersebut membutuhkan biaya dan waktu lebih besar dibanding daerah perkotaan.

Jaringan Dibangun Bertahap

Dalam pelaksanaannya, PLN telah membangun jaringan listrik sepanjang 6 kilometer untuk melayani warga Dusun I. Selain itu, terdapat total 17,4 kilometer tiang listrik yang telah terpancang di Dusun I dan Dusun VI, meski sebagian masih menunggu pemasangan kabel jaringan lanjutan.

Artinya, masih ada sekitar 11,4 kilometer jaringan yang berpotensi dikembangkan pada tahap berikutnya guna memperluas layanan kelistrikan di kawasan tersebut.

“Kami tetap berupaya memberikan yang terbaik agar masyarakat dapat segera menikmati listrik. Ini membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Diksi.

Dari Genset ke Listrik PLN 24 Jam

Sebelum program Lisdes berjalan, sebagian besar masyarakat hanya mengandalkan genset pribadi yang umumnya menyala pada malam hari. Kondisi itu berdampak pada aktivitas belajar anak-anak hingga produktivitas ekonomi warga.

Baca juga  Pemkab OKI dan Telkomsel Perkuat Sinergi Atasi Blankspot, Targetkan Pemerataan Akses Digital 2026

Salah satu warga Dusun I, Herman, mengaku kehadiran listrik PLN menjadi perubahan besar bagi kehidupan masyarakat desa.

“Dulu listrik hanya menyala malam hari. Anak-anak belajar dengan penerangan seadanya. Sekarang mereka bisa belajar lebih baik, dan kegiatan ekonomi juga mulai berkembang,” katanya.

Seluruh 329 KK Kini Menikmati Listrik

Data pemerintah desa menunjukkan Dusun I memiliki total 329 kepala keluarga (KK). Sebelum penyalaan jaringan baru, sekitar 230 KK telah menikmati listrik secara terbatas melalui sambungan tertentu dan genset mandiri.

Dengan tambahan jaringan baru yang menjangkau 99 KK, kini seluruh warga Dusun I resmi menikmati layanan listrik PLN secara penuh selama 24 jam.

Pemkab OKI Dorong Infrastruktur Dasar hingga Pelosok

Wakil Bupati OKI, Supriyanto, menyebut listrik menjadi kebutuhan dasar yang memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi desa.

Menurut dia, tanpa dukungan sarana kelistrikan yang memadai, aktivitas usaha masyarakat hingga pelayanan publik akan sulit berkembang optimal.

“Komitmen kami bersama Bapak Bupati untuk menghadirkan pemerataan termasuk listrik yang merupakan kebutuhan dasar. Tanpa dukungan sarana kelistrikan, pergerakan ekonomi akan terhambat,” ujarnya.

Program Lisdes Jadi Prioritas Nasional

Sementara itu, Anggota Komisi XII DPR RI, Dewi Yustisiana, menegaskan program listrik desa merupakan bagian dari prioritas nasional untuk mempercepat pemerataan energi.

Ia juga mengungkapkan empat desa di wilayah perairan Kecamatan Cengal sebelumnya telah mendapatkan penerangan melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis aspirasi masyarakat.

“Meski ada keterbatasan anggaran, kami bersyukur masyarakat Sungai Jeruju akhirnya dapat merasakan manfaatnya,” kata Dewi.

Listrik Desa dan Dampak Ekonomi Jangka Panjang

Kehadiran listrik 24 jam di wilayah pedesaan bukan sekadar soal penerangan rumah. Dalam banyak kasus, akses listrik menjadi fondasi peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga ekonomi berbasis rumah tangga.

Baca juga  Desa Cantik OKI 2026 Dicanangkan, Pemkab dan BPS Perkuat Tata Kelola Data Desa

Di wilayah seperti Kecamatan Cengal yang didominasi kawasan perairan, listrik juga membuka peluang pengembangan usaha penyimpanan hasil tangkapan ikan, pengolahan makanan, hingga layanan digital desa.

Tantangan Pemerataan Masih Besar

Meski demikian, pekerjaan rumah pemerataan energi di OKI belum sepenuhnya selesai. Masih adanya jaringan yang belum terpasang kabel menunjukkan kebutuhan investasi lanjutan agar desa-desa terpencil lainnya bisa menikmati layanan setara.

Secara nasional, program elektrifikasi desa terus menjadi fokus pemerintah untuk mengejar rasio elektrifikasi mendekati 100 persen, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Kondisi geografis Sumatera Selatan yang memiliki banyak daerah rawa dan perairan menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan.

Listrik Jadi Penanda Perubahan Desa

Masuknya listrik PLN 24 jam ke Sungai Jeruju memiliki makna lebih luas dibanding sekadar pembangunan infrastruktur. Di banyak desa terpencil, listrik sering menjadi indikator awal perubahan sosial-ekonomi, mulai dari meningkatnya jam belajar anak, tumbuhnya usaha kecil, hingga terbukanya akses informasi digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pemerataan energi bukan hanya proyek teknis, tetapi juga investasi jangka panjang terhadap kualitas hidup masyarakat desa.

Penyalaan listrik desa di Dusun I Sungai Jeruju menjadi langkah penting pemerataan pembangunan di wilayah perairan OKI. Dengan seluruh 329 KK kini menikmati layanan listrik PLN selama 24 jam, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi rumah tangga, dan mempercepat pertumbuhan desa.

Ke depan, pengembangan jaringan lanjutan dan dukungan infrastruktur dasar lainnya akan menjadi faktor penentu agar manfaat program Lisdes benar-benar berkelanjutan bagi masyarakat pelosok. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here