
Fakta di Lapangan: Tangis Keluarga Pecah, Kondisi Jemaah Jadi Perhatian
CIAMIS, cimutnews.co.id — Suasana pelepasan calon jemaah haji asal Kota Cimahi berlangsung penuh haru. Tangis keluarga pecah saat ratusan jemaah diberangkatkan menuju embarkasi haji.
Namun di balik prosesi yang khidmat itu, muncul perhatian terhadap kesiapan fisik dan pendampingan jemaah selama perjalanan panjang menuju Tanah Suci.
Lalu, apakah seluruh jemaah benar-benar siap menjalani ibadah haji tahun ini?
Sebanyak 441 calon jemaah haji asal Kota Cimahi yang tergabung dalam Kloter 7 resmi diberangkatkan pada Ahad pagi, 26 April 2026.
Prosesi pelepasan berlangsung di Pusat Pendidikan Polisi Militer dengan suasana emosional yang menyelimuti keluarga pengantar.
Sejumlah keluarga terlihat menangis saat mengantar keberangkatan anggota keluarganya. Beberapa jemaah lanjut usia juga tampak mendapat bantuan saat menuju kendaraan keberangkatan.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, secara langsung melepas keberangkatan rombongan menuju Embarkasi Haji Kertajati sebelum melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi.
“Hari ini Pemerintah Kota Cimahi melepas keberangkatan kloter 7 yang berisi 441 calon jamaah haji menuju Embarkasi Kertajati. Sisanya akan diberangkatkan pada 7 Mei mendatang,” ujar Ngatiyana.
Pemerintah Kota Cimahi menyebut proses pemberangkatan telah dipersiapkan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk pengawalan dan layanan kesehatan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan perhatian terbesar justru tertuju pada kondisi fisik sebagian jemaah yang beragam, terutama lansia.
Dalam sambutannya, Ngatiyana menekankan pentingnya pendampingan ekstra selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan layanan pendampingan di lapangan, mengingat perjalanan ibadah haji dikenal memiliki aktivitas padat dan cuaca ekstrem.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah keluarga jemaah. Mereka mengaku masih khawatir terhadap kesehatan anggota keluarganya selama berada di Tanah Suci.
“Yang penting sehat sampai pulang lagi. Orang tua saya sudah sepuh, jadi kami cuma bisa titip doa,” ujar salah satu keluarga jemaah di lokasi pelepasan.
Berdasarkan temuan di lapangan, petugas tampak membantu proses mobilisasi jemaah, terutama yang menggunakan kursi roda maupun membutuhkan pendampingan berjalan.
Meski proses pelepasan berlangsung tertib, sejumlah keluarga mengaku berharap pengawasan terhadap kondisi kesehatan jemaah dilakukan lebih intensif selama perjalanan.
Situasi ini dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan haji tahun 2026, terutama karena sebagian jemaah berasal dari kelompok usia rentan.
Selain faktor kesehatan, perjalanan panjang menuju embarkasi hingga keberangkatan internasional juga diduga dapat memengaruhi stamina jemaah.
Hingga kini, belum semua keluarga merasa benar-benar tenang melepas keberangkatan anggota keluarganya ke Tanah Suci.
Apakah seluruh proses pendampingan dan pelayanan nantinya mampu berjalan optimal hingga para jemaah kembali ke tanah air? (Surya)

















