Beranda Utama Kesiapsiagaan Diperkuat Saat Musim Kemarau Baru Dimulai

Kesiapsiagaan Diperkuat Saat Musim Kemarau Baru Dimulai

12
0
Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Menko Polkam RI saat apel kesiapsiagaan karhutla di Griya Agung Palembang. (foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kembali menunjukkan kesiapan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026.

Rabu (6/5/2026), Gubernur Sumsel H. Herman Deru bersama Wakil Gubernur Cik Ujang menghadiri apel kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan karhutla di Halaman Griya Agung Palembang.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, serta dihadiri jajaran kementerian, TNI, Polri, hingga unsur pemerintah daerah.

Namun di tengah kesiapan yang ditampilkan, ancaman karhutla di Sumsel dinilai belum sepenuhnya hilang.

Lalu, apakah kesiapan tahun ini benar-benar mampu menekan kebakaran sejak awal?

Fakta Utama: Sumsel Kembali Masuk Wilayah Prioritas

Dalam arahannya, Menko Polkam menegaskan Sumatera Selatan masih menjadi salah satu wilayah strategis penanganan karhutla nasional.

Hal itu tidak lepas dari karakteristik lahan gambut dan kawasan perkebunan yang tersebar di sejumlah kabupaten.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau di Sumsel mulai berlangsung sejak Mei dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.

Sejumlah daerah yang disebut rawan antara lain Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Lahat, OKU Timur, Musi Rawas, Muratara, OKU, hingga OKU Selatan.

Pemerintah pusat bahkan menyalurkan bantuan sekitar Rp2,8 miliar berupa peralatan pengendalian karhutla kepada Pemprov Sumsel dan empat daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.

Pernyataan Resmi: Klaim Tren Karhutla Menurun

Menko Polkam menyebut tren luas kebakaran di Sumsel dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan.

Menurutnya, capaian itu menjadi hasil koordinasi lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri hingga perusahaan swasta.

“Sumatera Selatan memiliki karakteristik lahan gambut dan perkebunan yang rentan terhadap karhutla. Kita patut bersyukur karena data menunjukkan tren penurunan luas kebakaran,” ujar Djamari Chaniago.

Baca juga  Optimalkan PAD, Bupati OKI Buka Ruang Kolaborasi dengan Akademisi

Ia juga menginstruksikan seluruh jajaran untuk bergerak cepat saat menemukan titik panas atau hotspot.

“Jangan menunggu api membesar. Setiap hotspot harus segera diverifikasi dan ditangani,” tegasnya.

Kontras Realita: Ancaman Lama Belum Sepenuhnya Hilang

Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan karhutla di Sumsel bukan hanya soal peralatan dan apel kesiapan.

Di sejumlah wilayah rawan, persoalan akses menuju titik kebakaran, keterbatasan sumber air saat kemarau, hingga luasnya area gambut masih menjadi tantangan berulang setiap tahun.

Sejumlah warga di kawasan rawan karhutla mengaku kebakaran kecil kerap terlambat diketahui karena lokasi cukup jauh dari permukiman.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan petugas lapangan yang harus bergerak cepat di tengah cuaca panas ekstrem saat musim kemarau mulai memuncak.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kesiapan yang ditampilkan saat apel benar-benar mampu menjangkau seluruh wilayah rawan secara cepat?

Suara Lapangan: Kekhawatiran Mulai Muncul

Beberapa warga di wilayah perbatasan lahan perkebunan mengaku tetap khawatir ketika musim kemarau mulai datang.

“Kalau asap mulai muncul biasanya cepat meluas, apalagi kalau angin kencang,” ujar seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.

Warga lainnya berharap patroli dan pemantauan tidak hanya dilakukan saat awal musim kemarau.

“Biasanya ramai pas apel dan pengecekan saja. Tapi yang penting itu pengawasan rutin setelahnya,” katanya.

Analisis Ringan: Kesiapan Tak Hanya Soal Seremoni

Penanganan karhutla di Sumsel selama ini memang menunjukkan perkembangan, terutama dalam koordinasi antarinstansi.

Namun tantangan utama diduga masih berada pada kecepatan deteksi awal dan respons lapangan di daerah terpencil.

Selain faktor alam, kondisi lahan gambut yang mudah terbakar saat kering membuat potensi api cepat meluas apabila tidak segera ditangani.

Baca juga  Sambut HUT RI ke 78, Pemkab Mura Enim bagikan Bendera Merah Putih

Hingga kini, belum semua wilayah rawan memiliki akses penanganan yang sama cepatnya.

Jika pengawasan tidak berjalan konsisten selama musim kemarau, ancaman kabut asap dikhawatirkan kembali muncul seperti tahun-tahun sebelumnya.

Rangkaian apel kesiapsiagaan sendiri ditutup dengan simulasi penanggulangan karhutla terpadu serta peninjauan peralatan guna memastikan seluruh sarana siap digunakan.

Namun publik kini menanti satu hal penting: apakah kesiapan ini benar-benar efektif ketika titik api mulai bermunculan nanti? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here