Beranda Muara Enim Pengajian Akbar Digelar Meriah, Harapan Persatuan Kembali Disuarakan

Pengajian Akbar Digelar Meriah, Harapan Persatuan Kembali Disuarakan

19
0
Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang menghadiri Pengajian Akbar Harlah ke-10 Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam di Muara Enim. (Foto:Eko/cimutnews.co.id)

MUARA ENIM, cimutnews.co.id — Ribuan jamaah memadati Desa Sigam, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Minggu (10/5/2026).

Mereka menghadiri Pengajian Akbar dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-10 Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam sekaligus Haul Ummi Liliyin ke-4 yang berlangsung meriah dan khidmat.

Kehadiran Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang turut menyita perhatian masyarakat. Namun di balik kemeriahan acara, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan: mampukah pesantren benar-benar menjadi benteng moral generasi muda di tengah perubahan sosial yang semakin cepat?

Ribuan Jamaah Padati Desa Sigam

Pengajian akbar tersebut menghadirkan penceramah kondang asal Bojonegoro, KH Anwar Zahid, yang dikenal memiliki gaya dakwah ringan dan dekat dengan masyarakat.

Sejak pagi, ribuan warga dari berbagai daerah terlihat memadati area pesantren dan jalan sekitar lokasi kegiatan.

Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah warga bahkan datang lebih awal demi mendapatkan tempat dekat panggung utama.

Kegiatan juga dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Muara Enim, tokoh agama, tokoh masyarakat, wali santri, hingga masyarakat umum yang mengikuti acara sampai selesai.

Persatuan Dinilai Jadi Kunci Kemajuan

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia menilai kekompakan dan kerukunan masyarakat menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan daerah.

“Insya Allah, kalau kita selalu kompak, kita akan terus maju bersama. Saya berharap masyarakat Sumsel selalu hidup rukun dan damai sehingga tercipta persatuan yang kokoh,” ujar Cik Ujang di hadapan jamaah.

Ia juga berharap Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam terus istiqamah mencetak generasi berakhlakul karimah.

Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Baca juga  Jelang Pemilu 2024, Plt Bupati Kaffah Pimpin Apel Kasat Kamling Serentak Se-Sumatera Selatan serta Peluncuran Apel Besar Polisi RW, Di Lapangan Merdeka.

Meski pesantren terus berkembang dan mendapat dukungan masyarakat, fakta di lapangan menunjukkan tantangan pendidikan moral generasi muda masih menjadi perhatian banyak pihak.

Sejumlah warga mengaku perkembangan teknologi dan media sosial membuat pola pergaulan remaja berubah sangat cepat.

Di sisi lain, lembaga pendidikan berbasis agama dinilai masih menjadi harapan sebagian masyarakat untuk menjaga nilai-nilai sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar.

Namun sejumlah pengamat pendidikan menilai, tantangan pesantren saat ini tidak hanya soal jumlah santri, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas pendidikan dan pembinaan karakter di tengah arus modernisasi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pertumbuhan pesantren yang pesat sudah diiringi kesiapan menghadapi tantangan sosial generasi muda masa kini?

Suara Lapangan: “Pesantren Jadi Tempat Harapan Orang Tua”

Beberapa wali santri mengaku pesantren masih menjadi pilihan utama untuk pendidikan karakter anak-anak mereka.

Mereka berharap pendidikan agama mampu menjadi pondasi menghadapi perubahan zaman yang semakin terbuka.

“Sekarang pergaulan anak muda makin bebas. Kami berharap pesantren bisa jadi tempat membentuk akhlak anak,” ujar salah satu wali santri yang hadir dalam acara tersebut.

Pendapat serupa juga disampaikan sejumlah masyarakat yang menilai kegiatan pengajian akbar seperti ini mampu mempererat hubungan sosial warga sekaligus memperkuat syiar agama di daerah.

Pesantren Berkembang, Tantangan Juga Bertambah

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam, KH Dachlan Salim Zarkasyi, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 10 tahun pesantren yang disebut berkembang dari bawah hingga memiliki jumlah santri yang terus meningkat.

Menurutnya, bertambahnya santri menjadi tanda meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan pesantren.

Namun di sisi lain, perkembangan jumlah santri juga diduga membawa tantangan baru, mulai dari kebutuhan fasilitas pendidikan, pembinaan tenaga pengajar, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Baca juga  Diskominfo Muara Enim ikuti Rakor Apresiasi Keterbukaan Informasi Desa

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait langkah pengembangan jangka panjang pesantren dalam menghadapi perubahan sosial dan pendidikan yang semakin dinamis.

Perayaan Harlah ke-10 Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin Sigam berlangsung penuh antusias dan harapan besar dari masyarakat.

Namun di tengah semangat menjaga persatuan dan pendidikan moral, tantangan generasi muda di era modern juga terus berkembang.

Apakah pesantren mampu terus menjadi benteng utama pembinaan karakter di tengah perubahan zaman yang semakin cepat? (Eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here