
TANJUNG ENIM, cimutnews.co.id — Pelaksanaan ibadah kurban setiap tahun selalu menjadi perhatian masyarakat, terutama soal tata cara penyembelihan yang sesuai syariat dan kesejahteraan hewan.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA pun menggelar Pelatihan dan Sharing Session Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid Jami’ Bukit Asam, Tanjung Enim, Kamis (8/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti pengurus masjid dan panitia kurban di wilayah ring 1 perusahaan. Namun, di tengah pelatihan yang digelar, muncul pertanyaan yang cukup mengemuka: apakah pemahaman masyarakat terkait penyembelihan kurban memang masih belum merata?
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana standar penyembelihan hewan kurban selama ini benar-benar diterapkan di lapangan.
PTBA Libatkan MUI dan Praktisi Penyembelihan
Dalam kegiatan tersebut, PTBA menghadirkan dua narasumber yang membahas aspek syariat hingga teknis penyembelihan hewan kurban.
Sekretaris Umum MUI Muara Enim, Ust. K.H. Taufik Salman, S.Ag., M.E., memberikan materi mengenai fikih kurban, mulai dari hukum, syarat hewan kurban, hingga tata cara pelaksanaan ibadah sesuai ketentuan Islam.
Sementara materi teknis penyembelihan disampaikan Ust. Zarkoni. Peserta mendapatkan pemahaman terkait standar alat sembelih, teknik pemotongan cepat dan tepat, hingga cara meminimalkan penderitaan hewan.
Ketua Panitia Iduladha 1447 H PTBA, Ihwani Maris, mengatakan pelaksanaan kurban tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga aspek kesejahteraan hewan.
“Pelaksanaan kurban harus memperhatikan syariat sekaligus memastikan hewan diperlakukan dengan baik,” ujarnya.
Klaim Peningkatan Kapasitas Masyarakat
PTBA menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kapasitas masyarakat di bidang sosial dan keagamaan.
Ketua Bidang Sosial Ramadan, Weny Yuliastuti, mengungkapkan pelatihan diharapkan mampu menciptakan pelaksanaan kurban yang lebih profesional dan sesuai syariat.
Menurutnya, edukasi seperti ini penting karena penyembelihan hewan kurban tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap pelaksanaan ibadah kurban di lingkungan masyarakat menjadi semakin baik,” katanya.
Meski pelatihan digelar secara resmi, sejumlah warga mengaku persoalan teknis penyembelihan hewan kurban di lapangan masih kerap ditemukan setiap tahun.
Berdasarkan temuan di lapangan, masih ada panitia kurban yang diduga belum memahami standar ketajaman alat sembelih maupun teknik penanganan hewan sebelum dipotong.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat yang menilai edukasi seperti ini baru dilakukan secara terbatas dan belum menyentuh seluruh wilayah.
“Kadang masih ada proses penyembelihan yang terlalu lama. Hewannya terlihat stres sebelum dipotong,” ujar salah satu warga di sekitar Tanjung Enim yang enggan disebutkan namanya.
Keluhan serupa juga muncul terkait minimnya pelatihan teknis bagi panitia kurban di tingkat lingkungan kecil atau musala.
Hingga kini, belum semua panitia kurban memiliki akses pelatihan resmi mengenai penyembelihan sesuai syariat dan standar kesejahteraan hewan.
Realita Lapangan dan Tantangan Kurban Modern
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan kurban saat ini bukan hanya soal ibadah tahunan, tetapi juga menyangkut edukasi masyarakat.
Di banyak daerah, proses penyembelihan masih dilakukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa pemahaman teknis yang memadai.
Padahal, isu kesejahteraan hewan dan standar penyembelihan halal kini semakin menjadi perhatian publik.
Pelatihan yang dilakukan PTBA dinilai menjadi langkah positif. Namun fakta di lapangan menunjukkan kebutuhan edukasi serupa masih cukup besar, terutama menjelang Iduladha.
Apalagi, wilayah ring 1 perusahaan memiliki aktivitas sosial dan keagamaan yang cukup tinggi setiap tahunnya.
Pelatihan penyembelihan kurban yang digelar PTBA menjadi salah satu upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pelaksanaan ibadah sesuai syariat.
Namun di tengah pelaksanaan tersebut, masih muncul fakta bahwa pemahaman teknis di lapangan belum sepenuhnya merata.
Hingga kini, kondisi tersebut masih menjadi perhatian sejumlah pihak.
Apakah edukasi seperti ini akan terus diperluas ke masyarakat yang lebih luas, atau justru hanya menjadi agenda seremonial tahunan semata? (Eko)

















