
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Permainan domino yang selama ini identik dengan hiburan warung kopi kini mulai diarahkan menjadi olahraga prestasi di Sumatera Selatan.
Namun di tengah langkah resmi Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Sumsel mendekat ke KONI Sumsel, muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. Sejauh mana domino benar-benar siap diakui sebagai cabang olahraga kompetitif?
Kunjungan jajaran pengurus PORDI Sumsel ke Kantor KONI Sumsel, Selasa (5/5/2026), menjadi sinyal bahwa organisasi tersebut ingin membawa domino naik kelas.
Rombongan dipimpin langsung Ketua Umum PORDI Sumsel, Hendri Zainuddin. Mereka diterima Sekretaris Umum KONI Sumsel, Tubagus Sulaiman, bersama sejumlah pengurus lainnya.
Dalam pertemuan itu, PORDI Sumsel menyerahkan berbagai dokumen penting, mulai dari struktur kepengurusan provinsi hingga kabupaten/kota, aturan pertandingan, serta administrasi organisasi lainnya.
Hendri menyebut PORDI bukan organisasi baru.
Menurutnya, organisasi domino tersebut sudah aktif selama enam tahun terakhir, termasuk rutin menggelar turnamen dan kegiatan pembinaan di Sumsel.
“Kami datang untuk menyampaikan bahwa PORDI sudah hadir sejak beberapa tahun lalu. Di Sumsel sendiri kami aktif dan sering menyelenggarakan berbagai kegiatan,” ujarnya.
Pihak KONI Sumsel pun memberikan respons positif.
Sekretaris Umum KONI Sumsel, Tubagus Sulaiman, mengatakan seluruh dokumen telah diterima dan akan diproses sesuai mekanisme organisasi.
“Dokumen sudah kami terima. Insya Allah dalam waktu dekat surat untuk PORDI Sumsel akan kami keluarkan,” katanya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, perjalanan domino menuju olahraga prestasi tidak semudah yang dibayangkan.
Hingga kini, sebagian masyarakat masih memandang domino hanya sebagai permainan santai yang identik dengan aktivitas nongkrong dan hiburan malam.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan para pegiat domino yang mulai serius membangun citra olahraga berbasis strategi dan konsentrasi tersebut.
Sejumlah komunitas domino di Palembang mengaku turnamen mulai ramai digelar dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, beberapa kompetisi disebut sudah menggunakan sistem pertandingan resmi dan aturan baku.
“Sekarang sudah lebih tertata. Ada wasit, sistem skor, bahkan hadiah pembinaan,” ujar salah satu peserta turnamen domino lokal yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, belum semua masyarakat memahami arah pembinaan yang sedang dibangun PORDI.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah domino benar-benar siap diterima sebagai olahraga prestasi formal, atau masih akan menghadapi stigma permainan hiburan semata?
Berdasarkan temuan di lapangan, tantangan terbesar bukan hanya soal legalitas organisasi, tetapi juga persepsi publik.
Apalagi hingga kini belum ada penjelasan rinci terkait roadmap pembinaan atlet domino menuju level kompetisi regional maupun nasional di Sumsel.
Pengamat olahraga masyarakat menilai langkah PORDI mendekati KONI merupakan strategi penting untuk mendapatkan legitimasi kelembagaan.
Namun konsistensi pembinaan, regulasi pertandingan, hingga edukasi publik disebut akan menjadi penentu utama keberhasilan domino masuk ke ekosistem olahraga prestasi.
Jika gagal membangun sistem yang kuat, domino dikhawatirkan hanya ramai di event seremonial tanpa arah pembinaan jangka panjang.
Sebaliknya, bila pengelolaan dilakukan serius, bukan tidak mungkin olahraga ini justru memiliki basis massa besar di Sumsel.
Hingga kini, perkembangan tersebut masih menjadi perhatian banyak pihak.
Apakah domino benar-benar akan naik kelas menjadi olahraga prestasi yang diakui luas, atau hanya berhenti sebagai tren sesaat di tengah tingginya antusiasme masyarakat? (Poerba)

















