Beranda Investigasi Nobar Film “Pesta Babi” di Lempuing Memanas, Konsolidasi Mahasiswa OKI Soroti Ketimpangan...

Nobar Film “Pesta Babi” di Lempuing Memanas, Konsolidasi Mahasiswa OKI Soroti Ketimpangan Sosial dan Dugaan Dominasi Elit

21
0

OGAN KOMERING ILIR, cimutnews.co.id – Suasana malam di wilayah Lempuing dan Lempuing Jaya mendadak berubah penuh tensi ketika sejumlah organisasi mahasiswa lintas kampus menggelar nonton bareng (nobar) film Pesta Babi. Kegiatan yang awalnya hanya menjadi ruang pemutaran film berkembang menjadi forum kritik sosial dan konsolidasi gerakan mahasiswa yang sarat dengan pandangan tajam terhadap kondisi masyarakat serta dinamika kekuasaan. (21/5)

2. Suasana diskusi mahasiswa usai pemutaran film Pesta Babi yang menyoroti ketimpangan sosial, politik, dan penegakan hukum di daerah. (foto: timred/CN/)

Hasil penelusuran CimutNews.co.id berdasarkan hasil klarifikasi dari sejumlah peserta dan panitia kegiatan menyebutkan, acara tersebut dipusatkan melalui koordinasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) As-Shiddiqiyah dan melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Sejumlah organisasi mahasiswa yang hadir di antaranya BEM Kampus Lempung dan Lempuing Jaya, BEM As-Shiddiqiyah, BEM Universitas Muhammadiyah Lempuing, hingga BEM An-Nur. Kehadiran lintas organisasi ini disebut menjadi salah satu bentuk penguatan solidaritas mahasiswa di daerah.

Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua BEM As-Shiddiqiyah Setiawan Jordi, Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Lempuing Cindinilam Saputri, serta Ketua BEM An-Nur Rizal. Kehadiran para pimpinan mahasiswa tersebut memperlihatkan adanya upaya membangun konsolidasi gerakan intelektual mahasiswa di tengah meningkatnya keresahan sosial di kalangan generasi muda.

Sejak awal pemutaran film, atmosfer ruangan disebut dipenuhi antusiasme. Sorak, tepuk tangan, hingga reaksi emosional peserta beberapa kali terdengar saat adegan-adegan tertentu diputar. Film tersebut dinilai bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan menjadi bahan refleksi terhadap realitas sosial, ketimpangan ekonomi, hingga kritik terhadap pola kekuasaan yang dianggap menjauh dari kepentingan masyarakat kecil.

Situasi semakin memanas ketika sesi diskusi dibuka. Dalam forum tersebut, mahasiswa mulai menyampaikan keresahan terhadap kondisi sosial dan arah pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Baca juga  Pemkab OKI Dukung Fiberisasi Telkom di Air Sugihan, Perkuat Sinyal dan Percepat Digitalisasi Wilayah Perairan

Diskusi dipantik oleh Juniska, demisioner PC PMII Kabupaten OKI, yang dalam penyampaiannya menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis di tengah situasi sosial yang terus berubah.

“Mahasiswa harus tetap menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran dan keberpihakan terhadap rakyat,” ungkapnya di hadapan peserta diskusi.

Dalam sesi lanjutan, Wahyu menyampaikan pandangan filosofis terkait judul film Pesta Babi. Menurutnya, istilah “pesta” menggambarkan simbol kemewahan dan kekuasaan elit, sementara “babi” dimaknai sebagai simbol kerakusan yang tidak pernah puas terhadap jabatan maupun kekayaan.

Ia menilai film tersebut merepresentasikan situasi ketika kemewahan segelintir elit justru berlangsung di tengah penderitaan masyarakat kecil.

Pandangan itu kemudian diperkuat oleh peserta lain, Pujiono, yang menyoroti persoalan sosial di Papua. Ia menyebut rendahnya akses pendidikan dan keterbatasan pengetahuan masyarakat di sejumlah wilayah menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pihak berkepentingan demi kepentingan ekonomi maupun politik tertentu.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ketimpangan pembangunan yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Melihat jalannya diskusi yang semakin tajam, Juniska kembali menengahi pembahasan dengan menyoroti sisi politik dan penegakan hukum. Ia menyebut ketimpangan sosial dan eksploitasi sumber daya tidak bisa dilepaskan dari lemahnya sistem hukum serta praktik politik yang dianggap lebih berpihak kepada elit dibandingkan masyarakat luas.

Ia juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap berada pada jalur intelektual, objektif, dan berbasis kajian ilmiah agar kritik yang disampaikan tidak kehilangan arah moral maupun akademik.

Hasil penelusuran CimutNews.co.id, momentum nobar tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga berkembang menjadi ajang mempererat hubungan antar mahasiswa lintas kampus di wilayah Lempuing dan Lempuing Jaya.

Baca juga  Berburu Takjil di TSE, Bayar Pakai QRIS Dapat Potongan Harga .

Sejumlah peserta berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai ruang edukasi politik, penguatan solidaritas mahasiswa, serta pembentukan karakter generasi muda yang kritis terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat. (timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here