Beranda Palembang Upacara Pancasila Digelar Meriah, Namun Tantangan Nilai Kebangsaan Masih Terasa

Upacara Pancasila Digelar Meriah, Namun Tantangan Nilai Kebangsaan Masih Terasa

9
0
Sekda Sumsel H. Edward Candra memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Halaman Kantor Gubernur Sumsel. (Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program penguatan nilai Pancasila terus digaungkan pemerintah di berbagai daerah, termasuk Sumatera Selatan.

Namun di tengah seremoni yang berlangsung khidmat, muncul pertanyaan yang mulai banyak dibicarakan masyarakat: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari?

Lalu, sejauh mana implementasinya di lapangan?

Peringatan Hari Lahir Pancasila di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berlangsung di Halaman Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (2/6/2026).

Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, H. Edward Candra, dan diikuti para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta pejabat lainnya.

Momentum tahunan itu kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah situasi global yang dinilai semakin tidak menentu.

Dalam amanatnya, H. Edward Candra menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila tidak boleh dipandang sekadar agenda seremonial tahunan.

Menurutnya, Pancasila merupakan fondasi utama bangsa Indonesia sekaligus instrumen penting dalam menjaga harmoni sosial.

“Di tengah turbulensi global saat ini, Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan kepemimpinan nyata. Nilai musyawarah menjadi karakter bangsa yang penting dalam membangun kebersamaan,” ujar Edward Candra.

Ia juga mengajak generasi muda menjadikan Pancasila sebagai ideologi hidup yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman dalam membangun keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebagian masyarakat masih merasakan adanya jarak antara nilai ideal Pancasila dengan kondisi sosial yang terjadi sehari-hari.

Berdasarkan temuan di lapangan dan sejumlah percakapan warga, isu seperti kesenjangan sosial, minimnya budaya musyawarah, hingga meningkatnya polarisasi di media sosial masih menjadi perhatian.

Sejumlah warga mengaku nilai gotong royong mulai berkurang di lingkungan perkotaan, terutama di tengah tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Baca juga  BSB Night Run 2025 Sukses Gaet 2.200 Peserta: Dorong Gaya Hidup Sehat dan UMKM Lokal

“Kalau acara resmi memang sering bicara persatuan. Tapi di lingkungan bawah, kadang masyarakat justru sibuk sendiri-sendiri,” ujar salah satu warga Palembang yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian kalangan muda yang menilai pendidikan nilai kebangsaan belum sepenuhnya menyentuh kehidupan digital mereka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah pendekatan penguatan ideologi saat ini sudah benar-benar relevan dengan tantangan generasi sekarang?

Pengamat sosial di Sumsel juga menilai, peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti pada seremoni formal.

Menurutnya, implementasi nilai Pancasila perlu hadir dalam pelayanan publik, pemerataan ekonomi, hingga ruang dialog masyarakat.

Jika tidak, semangat persatuan yang terus digaungkan dikhawatirkan hanya terasa saat momentum upacara berlangsung.

Hingga kini, belum semua masyarakat merasakan implementasi nilai keadilan sosial secara merata dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah ke depan nilai-nilai Pancasila benar-benar bisa hadir lebih nyata di tengah masyarakat, atau justru hanya terus menjadi slogan tahunan, masih menjadi perhatian banyak pihak. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here