Beranda Palembang Terungkap, Pengalaman Lapangan Dinilai Jadi Kunci Pemimpin Berkualitas

Terungkap, Pengalaman Lapangan Dinilai Jadi Kunci Pemimpin Berkualitas

9
0
Gubernur Sumsel Herman Deru saat mengikuti kegiatan PKN Tingkat I Angkatan LXVII secara virtual di Sumsel Command Center. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program penguatan kepemimpinan terus digaungkan di lingkungan birokrasi Sumatera Selatan.

Namun di tengah berbagai pelatihan yang digelar, muncul pertanyaan soal sejauh mana pemimpin benar-benar memahami kondisi nyata di lapangan.

Lalu, apakah pengalaman dan jam terbang memang sudah menjadi standar utama dalam membentuk pemimpin daerah?

Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, menghadiri secara virtual kegiatan Penjelasan Penilaian Sikap Perilaku dan Strategi Pengembangan Diri bagi mentor pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVII di Sumsel Command Center, Selasa (2/6/2026).

Dalam arahannya, Herman Deru menegaskan bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan bakat atau potensi semata.

Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki pengalaman yang matang serta memahami berbagai persoalan nyata yang terjadi di lapangan.

“Kepemimpinan itu membutuhkan pengalaman. Seorang pemimpin harus menguasai lapangan dan tidak boleh menganggap sepele apa pun,” ujar Herman Deru.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sorotan di tengah tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik dan efektivitas kebijakan daerah.

Sebab, dalam beberapa kondisi, masyarakat masih kerap mempertanyakan apakah kebijakan yang dibuat benar-benar berdasarkan kebutuhan riil di lapangan atau hanya sebatas administratif.

Namun fakta di lapangan menunjukkan masih adanya sejumlah persoalan pelayanan dan koordinasi birokrasi yang kerap dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah.

Sejumlah warga mengaku kebijakan yang dibuat terkadang belum sepenuhnya menyentuh persoalan utama yang mereka hadapi sehari-hari.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian aparatur yang menilai proses pengambilan keputusan sering kali membutuhkan sinkronisasi lebih kuat antara pimpinan dan pelaksana teknis.

Herman Deru sendiri menegaskan bahwa dalam kepemimpinan terdapat hirarki yang harus berjalan seimbang.

Karena itu, pemimpin disebut harus terbuka terhadap berbagai masukan, khususnya dari jajaran yang memahami persoalan teknis secara langsung.

Baca juga  Zafa Tour Hadirkan Promo “Muharram Cashback” Umroh: Potongan Vaksin Hingga Rp500 Ribu, Berlaku 3–6 Juli 2025

“Kepemimpinan itu ada hirarkinya, sehingga kita membutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak, terutama dari para pemimpin di bawah yang membidangi tugas tertentu,” katanya.

Pernyataan tersebut dinilai relevan dengan tantangan birokrasi modern yang menuntut pemimpin tidak hanya hadir secara administratif, tetapi juga memahami realitas sosial dan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah seluruh proses pelatihan kepemimpinan yang selama ini berjalan sudah benar-benar menghasilkan pemimpin yang memahami kondisi lapangan secara utuh?

Dalam arahannya, Herman Deru juga menekankan bahwa seorang pemimpin memang tidak harus menjadi ahli di semua bidang.

Namun setidaknya, pemimpin harus memahami persoalan secara komprehensif sebelum menentukan kebijakan.

Pengamat birokrasi menilai, pendekatan kepemimpinan berbasis pengalaman lapangan memang menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat kualitas pelayanan publik.

Sebab tanpa pemahaman langsung terhadap kondisi nyata, kebijakan diduga berpotensi tidak tepat sasaran.

Menutup arahannya, Herman Deru menegaskan bahwa kualitas pemimpin lahir dari perpaduan antara potensi, kapasitas, dan pengalaman.

“Menjadi pemimpin itu bukan hanya bibit, tapi juga harus memiliki bobot,” tegasnya.

Turut hadir mendampingi Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Drs. H. Edward Candra serta Kadis Kominfo Provinsi Sumsel, Rika Efianti, SE, MM.

Hingga kini, peningkatan kualitas kepemimpinan birokrasi masih menjadi perhatian di berbagai daerah.

Apakah pelatihan kepemimpinan mampu menjawab tantangan nyata di lapangan, atau justru masih menyisakan gap antara teori dan realita? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here