Beranda Utama Banjir dan Karhutla Meluas Saat Cuaca Ekstrem Masih Mengintai

Banjir dan Karhutla Meluas Saat Cuaca Ekstrem Masih Mengintai

3
0
Kondisi permukiman warga yang terdampak banjir di salah satu wilayah Sulawesi Utara. (Foto: BNPB/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Program kesiapsiagaan bencana terus digaungkan pemerintah pusat maupun daerah.

Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang harus bertahan di tengah banjir, kerusakan rumah hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas.

Lalu, mengapa bencana serupa terus berulang di sejumlah daerah?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi masih mendominasi berbagai wilayah Indonesia dalam periode 29–30 Mei 2026.

Mulai dari cuaca ekstrem, banjir bandang hingga kebakaran hutan dan lahan terjadi hampir bersamaan di beberapa provinsi.

Di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, cuaca ekstrem menyebabkan 94 kepala keluarga atau 348 jiwa terdampak. Sebanyak 94 rumah dilaporkan mengalami kerusakan.

Wilayah terdampak tersebar di sejumlah kecamatan seperti Patumbak, Biru-Biru, Pancur Batu hingga Percut Sei Tuan.

Sementara di Kota Manado, Sulawesi Utara, banjir akibat hujan intensitas tinggi berdampak pada 968 jiwa. Ratusan warga bahkan sempat mengungsi karena genangan yang merendam permukiman.

Tidak hanya itu, banjir bandang di Gorontalo Utara juga masih menyisakan dampak besar.

Sebanyak 3.524 jiwa terdampak, tiga rumah hanyut, dan puluhan rumah mengalami rusak berat.

Di sisi lain, banjir di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, hingga kini belum sepenuhnya surut meski sudah berlangsung sejak pertengahan Mei lalu.

BNPB menyebut pemerintah daerah bersama BPBD masih terus melakukan penanganan dan asesmen lanjutan di berbagai lokasi terdampak.

Pemerintah daerah juga telah menetapkan status tanggap darurat di sejumlah wilayah guna mempercepat penanganan bencana.

BNPB menegaskan kesiapsiagaan, deteksi dini serta respons cepat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana.

Selain itu, masyarakat diminta menghindari pembakaran lahan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Baca juga  Kobarkan Bela Negara untuk Indonesia Maju

Namun fakta di lapangan menunjukkan sebagian warga masih menghadapi persoalan yang sama setiap kali hujan deras datang.

Di Luwu Utara misalnya, banjir yang belum surut membuat aktivitas warga terganggu dalam waktu cukup lama.

Sebanyak 13.114 jiwa terdampak dan ribuan rumah masih berada dalam kondisi rawan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan warga di wilayah terdampak banjir kiriman di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Meski banjir mulai surut di beberapa kecamatan, genangan hingga dua meter masih terjadi di Kampung Muara Beloan akibat luapan Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mitigasi jangka panjang di daerah rawan bencana.

Apalagi, di saat sebagian wilayah masih bergelut dengan banjir, ancaman kebakaran hutan dan lahan justru mulai meningkat di daerah lain.

Provinsi Riau kembali menjadi sorotan akibat meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Data BNPB menunjukkan luas lahan terbakar kini mencapai 14.921,14 hektare.

BPBD bersama Manggala Agni masih melakukan operasi pemadaman darat di sejumlah titik api untuk mencegah kebakaran semakin meluas.

Namun kondisi ini menunjukkan ancaman bencana di Indonesia kini tidak hanya datang dari banjir dan cuaca ekstrem, tetapi juga dari musim kemarau yang mulai muncul di beberapa wilayah.

Sejumlah warga terdampak banjir mengaku mulai kelelahan menghadapi kondisi yang berulang.

“Kalau hujan deras mulai turun, kami langsung khawatir air naik lagi,” ungkap salah satu warga terdampak banjir di Sulawesi Utara.

Warga lain mengaku proses pemulihan pascabanjir tidak selalu berjalan cepat karena kerusakan rumah dan lingkungan membutuhkan biaya besar.

“Membersihkan lumpur saja butuh waktu berhari-hari,” kata warga lainnya.

Pengamat kebencanaan menilai pola cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah.

Baca juga  Perjalanan Menuju Pulang Kampung (Mudik) Tahun 2025

Namun persoalan lain diduga juga berkaitan dengan sistem drainase, tata kelola lingkungan hingga kesiapan mitigasi di tingkat lokal.

Bencana yang terus berulang membuat sebagian masyarakat mempertanyakan apakah penanganan selama ini hanya fokus pada respons darurat, bukan pencegahan jangka panjang.

Hingga kini, belum semua wilayah terdampak memiliki perlindungan infrastruktur yang memadai untuk menghadapi cuaca ekstrem.

BNPB memang terus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.

Namun dengan banjir yang belum surut di sejumlah daerah dan kebakaran lahan yang mulai meluas, kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Apakah ke depan mitigasi bencana benar-benar mampu mengurangi dampak yang terus berulang, atau masyarakat akan kembali menghadapi situasi serupa setiap tahunnya? (Timred/CN)

Sumber : BNPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here