
KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Program pengembangan profesi pembawa acara terus bermunculan di berbagai daerah. Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media digital, tantangan yang dihadapi para Master of Ceremony (MC) justru semakin kompleks.
Di satu sisi, profesi ini masih menjadi bagian penting dalam berbagai acara resmi maupun hiburan. Namun di sisi lain, perubahan perilaku audiens membuat standar seorang MC ikut bergeser.
Lalu, seperti apa sebenarnya tantangan yang kini dihadapi para pembawa acara?
Peran MC Masih Menjadi Penentu Jalannya Acara
Hal itu mengemuka saat Pengukuhan Pengurus MC.BDG periode 2026–2029 sekaligus perayaan Hari Jadi ke-9 komunitas MC.BDG bertajuk “Nawawarna: Satu Panggung, Sejuta Cerita” di Gedung Pusat Kebudayaan Kota Bandung, Kamis (11/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa profesi MC memiliki peran penting dalam menentukan ritme sebuah kegiatan.
Menurutnya, keberadaan MC sering kali dianggap biasa, tetapi akan langsung terasa ketika tidak hadir dalam sebuah acara.
“Semua orang yang tampil di atas panggung tidak akan mulai berbicara sebelum dipersilakan oleh MC. Di situlah peran penting seorang pembawa acara,” ujarnya.
Dari Radio Hingga Era AI, Dunia Komunikasi Berubah Drastis
Farhan juga membagikan pengalaman pribadinya saat memulai karier di dunia media pada awal 1990-an.
Saat itu ia melamar sebagai penyiar radio, namun justru diterima sebagai penulis naskah karena dinilai belum memiliki kualitas vokal yang memadai untuk siaran.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting tentang komunikasi dan pembentukan karakter diri.
Farhan menilai perkembangan industri media sejak era radio, televisi swasta, hingga media digital telah mengubah cara publik menilai seorang komunikator.
Jika dahulu kualitas suara dan penampilan menjadi faktor utama, kini karakter dan keaslian justru menjadi nilai yang paling dicari.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan Tren yang Berbeda
Meski profesi MC terus berkembang, berdasarkan pengamatan di berbagai kegiatan publik, masih banyak pembawa acara yang cenderung meniru gaya figur populer.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di acara hiburan, tetapi juga dalam berbagai kegiatan formal dan pemerintahan.
Sejumlah pelaku industri event mengaku kemampuan teknis memang penting, namun audiens saat ini lebih mudah mengenali sosok yang tampil apa adanya dibandingkan mereka yang hanya meniru karakter orang lain.
Hal inilah yang kemudian menjadi sorotan dalam sambutan Farhan.
“Kalau ada MC yang hebat, jangan berpikir menjadi seperti dia. Karena kalau saya punya anggaran, saya akan langsung mengundang yang asli,” katanya.
Di Sisi Lain, Teknologi AI Mulai Masuk ke Dunia Pembawa Acara
Perubahan lain yang mulai dirasakan adalah hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Teknologi ini kini mampu menghasilkan suara, video, bahkan simulasi komunikasi yang sangat menyerupai manusia.
Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan sebagian pekerja kreatif, termasuk profesi pembawa acara.
Namun Farhan menilai perkembangan tersebut bukan ancaman selama dimanfaatkan secara tepat.
Ia mengingatkan agar AI digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas, bukan untuk membuat konten yang berpotensi menyesatkan publik.
Sejumlah anggota komunitas MC yang hadir mengakui bahwa persaingan profesi pembawa acara saat ini tidak lagi hanya soal kemampuan berbicara.
Kemampuan membangun kedekatan dengan audiens, membaca suasana acara, serta menciptakan karakter personal dinilai menjadi faktor yang semakin menentukan.
Apalagi di era media sosial, publik dapat langsung memberikan penilaian terhadap penampilan seorang pembawa acara dalam hitungan menit.
Perubahan pola konsumsi informasi membuat profesi MC menghadapi tantangan baru.
Audiens kini lebih menyukai komunikasi yang terasa alami dan tidak dibuat-buat.
Kondisi ini membuat pendekatan lama yang hanya mengandalkan suara bagus atau gaya formal mulai mengalami pergeseran.
Namun fakta di lapangan menunjukkan tidak semua pelaku profesi mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut secara cepat.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah dunia pembawa acara di Indonesia sudah benar-benar siap menghadapi era komunikasi digital yang semakin kompetitif?
Hingga kini, profesi MC masih menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan publik.
Namun perkembangan teknologi, perubahan karakter audiens, dan persaingan yang semakin ketat membuat profesi ini menghadapi tantangan baru yang tidak ringan.
Apakah kemampuan beradaptasi dan membangun karakter akan menjadi kunci bertahan di masa depan, atau justru teknologi akan mengubah wajah profesi ini secara lebih drastis? (Siti)

















