
PALEMBANG, cimutnews.co.id – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru menerima audiensi jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel di Ruang Tamu Gubernur Sumsel, Kamis (11/6/2026). Pertemuan tersebut membahas persiapan Musyawarah Daerah (Musda) MUI Sumsel Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Agustus 2026.
Dalam pertemuan itu, Herman Deru menegaskan pentingnya menjaga stabilitas dan keharmonisan organisasi keagamaan di Sumatera Selatan. Menurutnya, kondisi kondusif yang selama ini terpelihara menjadi modal penting bagi pembangunan daerah dan kehidupan sosial masyarakat.
Kondusivitas Organisasi Keagamaan Jadi Modal Pembangunan Daerah
Herman Deru mengapresiasi peran MUI Sumsel dalam menjaga hubungan harmonis antarorganisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di daerah tersebut. Ia menilai MUI telah menjalankan fungsi strategis sebagai wadah pemersatu sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan beragama yang damai.
Menurut Herman Deru, hingga saat ini tidak terdapat indikasi perpecahan di organisasi besar seperti Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) di Sumatera Selatan. Situasi tersebut dinilai sebagai indikator keberhasilan pembinaan dan komunikasi yang selama ini dilakukan MUI Sumsel.
“Kondisi tersebut menunjukkan kinerja MUI Sumsel berjalan baik dan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Peran MUI Dinilai Semakin Strategis
Di tengah meningkatnya tantangan sosial dan derasnya arus informasi digital, keberadaan MUI dinilai memiliki fungsi yang semakin penting. Selain menjalankan tugas keagamaan, MUI juga berperan menjaga keseimbangan sosial melalui pendekatan dakwah, edukasi, dan dialog antarumat.
Berdasarkan berbagai pengalaman di sejumlah daerah, konflik internal organisasi keagamaan sering kali berdampak pada menurunnya efektivitas program sosial kemasyarakatan. Karena itu, stabilitas internal organisasi menjadi salah satu faktor yang turut menentukan kualitas kehidupan sosial masyarakat.
Musda MUI Sumsel 2026 Diharapkan Berjalan Kondusif
Dalam audiensi tersebut, Herman Deru berharap proses Musda MUI Sumsel dapat berlangsung secara demokratis, tertib, dan mengedepankan kualitas figur yang akan memimpin organisasi pada periode berikutnya.
Ia menekankan bahwa proses regenerasi kepemimpinan harus menjadi momentum memperkuat peran MUI dalam menjawab berbagai tantangan keumatan yang terus berkembang.
Selain itu, gubernur meminta seluruh panitia dan pengurus segera mematangkan berbagai persiapan teknis agar pelaksanaan Musda berjalan sesuai jadwal.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain:
- Kesiapan administrasi peserta Musda.
- Penyusunan agenda sidang dan tata tertib.
- Koordinasi dengan pemerintah daerah.
- Kelancaran pelaksanaan pemilihan kepengurusan baru.
MUI Sumsel Minta Dukungan Pemerintah Provinsi
Sementara itu, Wakil Dewan Pertimbangan MUI Sumsel, Dr. H. Abdul Shobur, menjelaskan bahwa audiensi dilakukan untuk meminta arahan sekaligus dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terhadap pelaksanaan Musda mendatang.
Menurut Abdul Shobur, Musda akan berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi agenda penting karena akan menentukan arah kebijakan organisasi serta kepengurusan baru MUI Sumsel.
“Kami meminta arahan dari Pak Gubernur terkait pelaksanaan Musda. Harapan kami kegiatan ini dapat sukses dan berjalan dengan baik,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, jajaran MUI Sumsel juga mengundang Herman Deru untuk hadir sekaligus membuka secara resmi Musda MUI Sumsel Tahun 2026.
Turut hadir dalam audiensi tersebut Anggota Dewan Pertimbangan MUI Sumsel Dr. KH. Supadmi Kohar, MM, Ketua Komisi Fatwa MUI Sumsel KH. Amin Dimyati Hamzah, SH, serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Musda Jadi Momentum Menentukan Arah Organisasi
Regenerasi Kepemimpinan Menjadi Sorotan
Musda bukan sekadar agenda pergantian pengurus. Forum ini juga menjadi ruang evaluasi terhadap program kerja organisasi selama satu periode sekaligus penyusunan strategi menghadapi tantangan ke depan.
Dalam konteks Sumatera Selatan yang memiliki populasi muslim besar dan keragaman sosial yang tinggi, kepemimpinan MUI memiliki peran penting dalam menjaga moderasi beragama serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah.
Data menunjukkan bahwa sejumlah organisasi keagamaan di berbagai daerah mulai memperkuat peran mereka dalam isu pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, hingga literasi digital. Karena itu, hasil Musda diperkirakan akan memengaruhi arah program MUI Sumsel dalam beberapa tahun mendatang.
Stabilitas Ormas Keagamaan Berpengaruh pada Iklim Sosial
Kondusivitas organisasi keagamaan sering kali dianggap sebagai isu internal. Namun dalam praktiknya, stabilitas ormas memiliki dampak yang lebih luas terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ketika organisasi berjalan harmonis, program keagamaan, pendidikan, hingga kegiatan sosial dapat dilaksanakan lebih efektif.
Sebaliknya, konflik internal yang berkepanjangan berpotensi menghambat pelayanan kepada masyarakat serta mengurangi efektivitas komunikasi antara pemerintah dan kelompok keagamaan. Karena itu, perhatian Herman Deru terhadap kualitas kepemimpinan MUI dalam Musda mendatang memiliki relevansi strategis bagi pembangunan daerah.
Indikator Kerukunan Tidak Selalu Terlihat dari Angka
Salah satu indikator penting yang jarang menjadi perhatian publik adalah minimnya gesekan di tingkat organisasi keagamaan besar. Ketika organisasi seperti NU dan Muhammadiyah mampu menjaga hubungan yang harmonis, dampaknya dapat dirasakan hingga tingkat akar rumput melalui stabilitas sosial dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keagamaan.
Inilah alasan mengapa Musda MUI Sumsel 2026 bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan kehidupan sosial dan keagamaan di Sumatera Selatan.
Persiapan Musda MUI Sumsel 2026 mulai dimatangkan melalui koordinasi antara pengurus MUI dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Gubernur Herman Deru berharap proses pemilihan kepengurusan dapat berlangsung kondusif serta menghasilkan figur yang mampu memperkuat peran MUI di tengah dinamika masyarakat.
Dengan kondisi organisasi keagamaan yang relatif stabil selama beberapa tahun terakhir, Musda mendatang diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat demi menjaga kerukunan serta pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Poerba)

















