
LAHAT, cimutnews.co.id — Prestasi sejumlah posyandu di Kabupaten Lahat kembali mendapat pengakuan dari pemerintah daerah. Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih, SH., MH., kepada para pemenang Lomba Posyandu Berprestasi serta peserta terbaik dalam kegiatan Pembinaan dan Penilaian Desa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tingkat Kabupaten Lahat Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Cendrawasih Lahat, Selasa (9/6/2026), itu dihadiri jajaran Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), para camat, kepala desa, kader posyandu, hingga berbagai unsur masyarakat.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas peran posyandu yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa. Namun, di balik capaian tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang menjadi perhatian berbagai pihak.
Apresiasi untuk Garda Terdepan Kesehatan
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lahat Widia Ningsih menyampaikan penghargaan kepada seluruh kader posyandu dan pemerintah desa yang dinilai aktif membantu peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menjadi pusat edukasi kesehatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
“Semoga kegiatan ini dapat mendorong terciptanya semangat berkompetisi secara sehat sekaligus menjadi pemacu bagi kader posyandu dan pemerintah desa untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga terwujud masyarakat Kabupaten Lahat yang sehat, mandiri, dan sejahtera,” ujar Widia.
Pemerintah Kabupaten Lahat berharap penghargaan tersebut dapat memacu inovasi pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa.
Meski sejumlah posyandu berhasil meraih prestasi, tantangan pelayanan kesehatan di wilayah pedesaan masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, akses pelayanan kesehatan di beberapa wilayah masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan sarana pendukung, kebutuhan peningkatan kapasitas kader, hingga tantangan geografis yang membuat pelayanan kesehatan belum sepenuhnya mudah dijangkau seluruh masyarakat.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga masih membutuhkan penguatan secara berkelanjutan.
Program pembinaan yang dilakukan pemerintah daerah dinilai penting agar capaian penghargaan tidak berhenti sebagai seremonial tahunan semata, melainkan berdampak langsung terhadap kualitas hidup warga.
Suara dari Tingkat Desa
Sejumlah kader posyandu yang hadir mengaku penghargaan tersebut menjadi motivasi tersendiri untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Mereka menilai keberhasilan posyandu tidak hanya diukur dari penghargaan yang diterima, tetapi juga dari tingkat kehadiran masyarakat, penurunan angka stunting, serta meningkatnya kesadaran warga dalam menjaga kesehatan keluarga.
Sejumlah warga juga mengaku masih berharap adanya penguatan fasilitas kesehatan pendukung dan peningkatan edukasi kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Tantangan yang Masih Harus Dijawab
Penguatan posyandu selama ini menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Namun keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga partisipasi masyarakat itu sendiri.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana penghargaan dan kompetisi yang digelar setiap tahun mampu mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan yang benar-benar dirasakan masyarakat secara merata?
Terlebih, hingga kini belum semua desa menghadapi kondisi yang sama dalam hal sumber daya, fasilitas, maupun dukungan pelayanan kesehatan.
Penghargaan bagi posyandu berprestasi menjadi kabar positif bagi upaya peningkatan kesehatan masyarakat di Kabupaten Lahat.
Namun di balik capaian tersebut, tantangan pemerataan kualitas layanan kesehatan dan penerapan PHBS di seluruh desa masih menjadi perhatian.
Apakah berbagai penghargaan yang diberikan akan mampu mendorong perubahan nyata hingga ke tingkat akar rumput, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab? Hingga kini, pertanyaan itu masih menarik untuk dicermati bersama. (Antoni)

















