
BANYUASIN, cimutnews.co.id — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong lahirnya wirausaha muda melalui program Sultan Muda. Salah satu upaya tersebut terlihat saat Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru meninjau kegiatan Eksplorasi Sultan Muda di San San Farm, Pangkalan Benteng, Kabupaten Banyuasin, Selasa (30/6/2026).
Kunjungan itu bukan sekadar melihat aktivitas peternakan ayam. Pemerintah menyebut kegiatan eksplorasi dilakukan untuk memverifikasi berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha agar solusi yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang masih relevan. Sejauh mana berbagai program pembinaan mampu menjawab tantangan usaha peternakan yang selama ini dihadapkan pada fluktuasi harga pakan, distribusi hasil produksi, hingga keberlanjutan pasar?
Dalam dialog bersama pelaku usaha, Herman Deru menegaskan pemerintah harus hadir sebagai mitra yang mendampingi dunia usaha, bukan hanya sebagai regulator.
“Sejak tadi kita mengeksplorasi untuk memverifikasi berbagai persoalan yang ada agar dapat kita selesaikan bersama. Pemerintah harus hadir mendampingi para pelaku usaha,” ujarnya.
Selain meninjau aktivitas peternakan, Herman Deru juga menyoroti perkembangan Program Sultan Muda yang menurutnya mendapat respons positif dari kalangan generasi muda.
Ia menyebut hingga kini sekitar 10 ribu pemuda telah terdaftar dalam program tersebut. Menurutnya, angka itu menjadi sinyal bahwa minat berwirausaha di Sumatera Selatan terus tumbuh.
“Membangun jiwa kewirausahaan membutuhkan keberanian, keterampilan, dan kemampuan mengenali potensi diri,” katanya.
Gubernur juga memberikan apresiasi kepada San San Farm yang dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 15 kepala keluarga di wilayah tersebut.
Menurutnya, usaha peternakan ayam petelur masih memiliki prospek cukup besar karena pangsa pasar tidak hanya melayani kebutuhan lokal, tetapi juga menjangkau Banten hingga DKI Jakarta.
Salah satu data yang disampaikan dalam kunjungan tersebut adalah kapasitas produksi telur Sumatera Selatan yang mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun. Angka itu disebut jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Sumsel yang berkisar 180 ribu ton setiap tahun.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah meyakini Sumsel memiliki surplus produksi yang dapat dipasarkan ke daerah lain sekaligus menopang kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Artinya, Sumsel tidak kekurangan pasokan telur. Bahkan kita memiliki kelebihan produksi yang bisa disuplai ke daerah lain termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis sehingga harga tetap stabil dan terjangkau,” jelas Herman Deru.
Namun fakta yang masih menjadi perhatian bukan hanya soal jumlah produksi. Keberhasilan sektor peternakan juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga di tingkat peternak, efisiensi distribusi, biaya produksi, hingga keberlangsungan pasar ketika terjadi kelebihan pasokan.
Dalam banyak kasus di berbagai daerah, surplus produksi tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan peternak apabila mekanisme distribusi dan serapan pasar belum berjalan optimal.
Di sisi lain, pemerintah juga menilai pertumbuhan wirausaha muda menjadi salah satu faktor yang ikut berkontribusi terhadap rendahnya tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Selatan.
Program Sultan Muda diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha baru yang tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi daerah melalui sektor-sektor produktif seperti pertanian, peternakan, hingga industri pangan.
Turut mendampingi kunjungan tersebut Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan Arifin Susanto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Hingga kini, berbagai program pemberdayaan wirausaha muda terus diperluas. Meski demikian, efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh keberhasilan pendampingan usaha, akses pembiayaan, kepastian pasar, serta kemampuan pelaku usaha bertahan menghadapi dinamika ekonomi.
Apakah surplus produksi dan semakin banyaknya wirausaha muda nantinya benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata, atau masih menyisakan tantangan yang perlu dijawab melalui kebijakan lanjutan? Pertanyaan itu masih akan menjadi perhatian dalam perjalanan pembangunan ekonomi Sumatera Selatan. (Noto)

















