Beranda OKU Timur Feby Deru Dorong Batik Karang Manik Gunakan Pewarna Alami, Peluang Pasar Terbuka...

Feby Deru Dorong Batik Karang Manik Gunakan Pewarna Alami, Peluang Pasar Terbuka Lebar

7
0
Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Feby Deru, meninjau proses pembuatan kerajinan batok kelapa di Dekranasda Kabupaten OKU Timur. (Foto: Agus/cimutnews)

OKU TIMUR, cimutnews.co.id — Kerajinan lokal Kabupaten OKU Timur kembali mendapat perhatian di tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Di balik berbagai produk unggulan yang dipamerkan, muncul harapan baru agar industri kreatif daerah tidak hanya dikenal karena keunikannya, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas melalui inovasi dan kualitas produk.

Namun, di tengah apresiasi terhadap karya para perajin, masih terdapat sejumlah tantangan yang belum sepenuhnya terjawab. Salah satunya berkaitan dengan pengembangan produk, penggunaan bahan ramah lingkungan, hingga perluasan akses pemasaran agar hasil karya masyarakat benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan pelakunya.

Lalu, sejauh mana potensi besar tersebut dapat diwujudkan menjadi kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan?

Rabu (1/7/2026), Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Feby Deru, melanjutkan agenda kerjanya di Kabupaten OKU Timur dengan mengunjungi sentra promosi kerajinan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten OKU Timur.

Dalam kunjungan tersebut, Feby Deru melihat langsung proses pembuatan berbagai produk kerajinan berbahan dasar batok kelapa yang selama ini menjadi salah satu identitas produk kreatif daerah.

Salah satu produk yang menarik perhatian ialah asbak berbahan batok kelapa. Berdasarkan penjelasan pengelola, produk tersebut cukup diminati, bahkan disebut kerap dibeli oleh personel militer dari berbagai negara yang mengikuti latihan tempur di wilayah Kabupaten OKU Timur.

Selain kerajinan batok kelapa, etalase Dekranasda juga menampilkan berbagai produk unggulan lainnya, mulai dari kerajinan purun asal Desa Betung, kain angkinan dan songket Desa Gunung Batu, hingga Batik Karang Manik yang menjadi salah satu ikon wastra daerah.

Dalam kesempatan itu, Feby Deru turut mencoba secara langsung proses pewarnaan motif Batik Karang Manik. Pengalaman tersebut menjadi momentum untuk berdialog dengan para pengrajin mengenai peluang pengembangan produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca juga  Sekolah Berasrama Religi OKU Timur Diresmikan Herman Deru, Perkuat Pendidikan Karakter Siswa

Ia mendorong agar para perajin mulai mengembangkan penggunaan pewarna alami pada Batik Karang Manik.

Menurutnya, penggunaan bahan pewarna alami bukan sekadar mengikuti tren industri kreatif, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai jual produk karena lebih ramah lingkungan, memiliki karakter warna yang khas, serta menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Peluang Besar, Tetapi Masih Ada Tantangan

Namun fakta di lapangan menunjukkan, banyak pelaku usaha kerajinan di berbagai daerah masih menghadapi tantangan klasik, mulai dari keterbatasan akses pasar, regenerasi perajin, inovasi desain, hingga biaya produksi yang relatif tinggi ketika mulai beralih menggunakan bahan alami.

Penggunaan pewarna alami, misalnya, memang menawarkan nilai tambah dari sisi keberlanjutan lingkungan. Akan tetapi, proses produksinya umumnya membutuhkan waktu lebih lama, teknik khusus, serta ketersediaan bahan baku yang konsisten.

Di sisi lain, persaingan produk kerajinan saat ini semakin ketat. Produk lokal tidak hanya bersaing dengan daerah lain di Indonesia, tetapi juga dengan produk impor yang dipasarkan melalui platform digital.

Kondisi tersebut membuat inovasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda apabila ingin meningkatkan daya saing pelaku UMKM kerajinan.

Perajin Membutuhkan Pendampingan Berkelanjutan

Sejumlah pelaku UMKM pada umumnya berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada promosi maupun kunjungan seremonial.

Mereka membutuhkan pendampingan berkelanjutan berupa pelatihan desain, digital marketing, akses pembiayaan, sertifikasi produk, hingga perluasan jaringan pemasaran agar produk lokal benar-benar mampu menembus pasar nasional maupun ekspor.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah inovasi penggunaan pewarna alami nantinya akan diikuti dengan program pendampingan yang memadai sehingga tidak menjadi beban tambahan bagi para perajin.

Menjaga Identitas Budaya Sekaligus Nilai Ekonomi

Keberadaan kerajinan batok kelapa, purun, songket, kain angkinan, hingga Batik Karang Manik bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat OKU Timur.

Baca juga  Fasilitasi UMKM, Taman Kuliner Segitiga Emas Diresmikan

Karena itu, pengembangan produk tidak cukup hanya berorientasi pada penjualan. Pelestarian keterampilan para perajin serta regenerasi generasi muda menjadi faktor penting agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Hingga kini, belum semua potensi kerajinan daerah mampu berkembang secara optimal. Peluang pasar memang terbuka, terlebih dengan meningkatnya minat terhadap produk ramah lingkungan dan berbasis budaya lokal.

Namun, apakah dorongan inovasi yang disampaikan dalam kunjungan tersebut akan diikuti langkah konkret yang mampu memperkuat daya saing para perajin di masa mendatang, masih menjadi perhatian berbagai pihak. (Agus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here