
OGAN ILIR, cimutnews.co.id — Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Kabupaten Ogan Ilir kembali mengingatkan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa. Di tengah berbagai program pemerintah yang terus digulirkan, muncul pertanyaan yang juga dirasakan banyak keluarga: sejauh mana berbagai kebijakan tersebut benar-benar mampu menjawab tantangan kehidupan sehari-hari?
Di era digital, keluarga tidak lagi hanya menghadapi persoalan ekonomi dan pendidikan. Perubahan pola pengasuhan, tingginya penggunaan gawai, hingga ancaman stunting menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya pemerintah.
Momentum Harganas tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan menjadi program yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir menggelar Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 sebagai bentuk komitmen memperkuat pembangunan keluarga yang sehat, tangguh, dan berkualitas.
Dalam upacara tersebut, Bupati Ogan Ilir Panca Wijaya Akbar yang diwakili Sekretaris Daerah Dicky Syailendra membacakan amanat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN.
Melalui amanat tersebut ditegaskan bahwa keluarga merupakan pilar utama dalam membentuk sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah menilai keberhasilan pembangunan nasional sangat bergantung pada kualitas keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak dalam membangun karakter, kesehatan, serta ketahanan mental.
Selain itu, pemerintah juga mengajak seluruh orang tua meningkatkan kualitas pengasuhan, mencegah stunting sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), membatasi penggunaan gawai secara bijak, serta memperkuat peran ayah dan ibu dalam menciptakan keluarga harmonis.
Sekda Dicky Syailendra mengatakan, peringatan Harganas tahun ini mengusung tema “Cintai Keluarga dengan Cinta yang Terencana untuk Membentuk Keluarga Berkualitas, Indonesia Kuat, SDM Unggul, dan Bangsa Pemenang.”
Menurutnya, semangat tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin cepat.
Namun fakta yang menjadi perhatian publik bukan hanya soal tema dan komitmen, melainkan implementasi di lapangan. Tantangan pengasuhan anak di era digital, meningkatnya kebutuhan edukasi keluarga, hingga upaya percepatan penurunan stunting masih menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, serta masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi banyak orang tua. Penggunaan perangkat digital sejak usia dini, perubahan pola komunikasi dalam keluarga, hingga meningkatnya paparan informasi di media sosial menjadi isu yang semakin sering dibahas dalam berbagai forum kependudukan dan keluarga.
Karena itu, berbagai program pembangunan keluarga dinilai tidak cukup hanya disampaikan melalui kampanye atau peringatan tahunan. Pendampingan kepada keluarga, edukasi berkelanjutan, serta akses terhadap layanan kesehatan dan konseling keluarga menjadi bagian penting agar tujuan pembangunan keluarga benar-benar tercapai.
Hingga kini, keberhasilan program pembangunan keluarga juga masih akan sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat, pengasuhan yang berkualitas, serta kepedulian terhadap tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Peringatan Harganas ke-33 di Ogan Ilir menjadi pengingat bahwa keluarga tetap menjadi titik awal lahirnya generasi masa depan. Namun, seiring perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, tantangan yang dihadapi keluarga juga semakin kompleks.
Apakah berbagai komitmen yang kembali disampaikan dalam momentum Harganas tahun ini mampu diterjemahkan menjadi perubahan nyata yang dirasakan hingga tingkat keluarga, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang perlu terus diperkuat? Pertanyaan itu akan terjawab melalui konsistensi pelaksanaan program di lapangan pada tahun-tahun mendatang. (Sandi)

















