
OGAN ILIR, cimutnews.co.id — Program pendidikan berbasis pesantren terus mendapat dukungan pemerintah daerah.
Namun di tengah besarnya apresiasi terhadap dunia pesantren, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak orang tua yang menganggap sekolah negeri sebagai pilihan utama.
Lalu, apakah pondok pesantren benar-benar mulai menjadi alternatif pendidikan unggulan di Sumatera Selatan?
Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, menghadiri Haflah Milad ke-76 dan Wisuda Kelas Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Salatiga Tahun Ajaran 2025/2026 di Gedung Olahraga dan Serbaguna Kampus A Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Salatiga Indralaya, Kamis (21/5/2026).
Dalam sambutannya, Herman Deru mengaku melihat perkembangan signifikan pondok pesantren tersebut dibanding lima tahun lalu.
“Alhamdulillah, setelah lima tahun saya hadir lagi di sini dan melihat keadaan yang begitu cepat berubah dengan sangat baik,” ujarnya.
Sebanyak 482 siswa dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah mengikuti prosesi wisuda tahun ini.
Pemerintah Provinsi Sumsel juga menyebut keberadaan pondok pesantren dinilai membantu mencetak generasi muda berkarakter dan berdaya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut Herman Deru, saat ini terdapat lebih dari 700 pondok pesantren di Sumatera Selatan.
Ia bahkan menyebut Pondok Pesantren Raudhatul Ulum sebagai salah satu contoh keberhasilan pendidikan berbasis pesantren.
“Terbukti 85 persen aliyahnya diterima di perguruan tinggi negeri ternama,” katanya.
Pernyataan itu menjadi perhatian karena selama ini sekolah negeri masih dianggap sebagai jalur utama menuju perguruan tinggi favorit.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebagian masyarakat mulai melirik pesantren karena dinilai mampu menggabungkan pendidikan akademik dan pembentukan karakter.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah orang tua siswa yang mengaku biaya pendidikan dan fasilitas asrama masih menjadi tantangan tersendiri di beberapa pondok pesantren.
Berdasarkan temuan di lapangan, kebutuhan pembangunan asrama dan peningkatan sarana pendidikan masih menjadi perhatian penting, terutama karena jumlah santri yang terus bertambah setiap tahun.
Hal ini bahkan disinggung langsung oleh Herman Deru yang meminta dukungan pembangunan asrama kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan pihak terkait.
“Saya ingin merekomendasikan dan meminta kepada Menteri PU serta pihak terkait agar dibuatkan asrama,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai kesiapan infrastruktur pendidikan pesantren di tengah meningkatnya minat masyarakat.
Sejumlah wali santri mengaku pendidikan pesantren kini dianggap lebih aman untuk pembentukan moral anak di tengah pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi digital.
“Kalau akademik mungkin banyak sekolah bagus, tapi kami cari lingkungan dan karakter anak juga,” ujar salah satu wali santri yang hadir dalam acara tersebut.
Sementara itu, Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, K.H. Tol’at Wafa Ahmat, Lc., mengatakan pihak pesantren terus berupaya menjaga kualitas pendidikan agar mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya.
Ia menyebut banyak alumni pondok pesantren tersebut diterima di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.
“Kami merasa bahagia dapat menghantarkan anak-anak kami yang lulus dalam ujian akhir,” ujarnya.
Pengamat pendidikan menilai fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap pesantren tidak lepas dari perubahan pola pikir orang tua yang mulai mempertimbangkan pendidikan karakter sebagai kebutuhan utama.
Namun hingga kini, belum semua pondok pesantren memiliki fasilitas memadai untuk menampung lonjakan jumlah santri.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah dukungan infrastruktur dan perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren akan benar-benar berjalan maksimal, atau hanya ramai saat seremoni berlangsung?
Hingga kini, kebutuhan peningkatan fasilitas pendidikan pesantren masih menjadi perhatian di sejumlah daerah di Sumsel.
Apakah ke depan pesantren benar-benar mampu menjadi pilihan utama pendidikan masyarakat, atau tetap menjadi alternatif di tengah dominasi sekolah umum, masih menjadi pertanyaan yang terus berkembang. (Sandi)

















