Beranda Nusantara Banyuasin Gandeng Brebes Kembangkan Bawang Merah, Mampukah Petani Rasakan Dampaknya?

Banyuasin Gandeng Brebes Kembangkan Bawang Merah, Mampukah Petani Rasakan Dampaknya?

7
0
Wakil Bupati Banyuasin Ir. Netta Indian bersama Wakil Bupati Brebes Wurja saat membahas perpanjangan kerja sama pengembangan budidaya bawang merah di Kantor Bupati Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Noto/CimutNews)

Jawa Tengah, cimutnews.co.id — Langkah Pemerintah Kabupaten Banyuasin memperpanjang kerja sama pengembangan budidaya bawang merah dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kembali menegaskan ambisi daerah tersebut untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus mendukung program ketahanan pangan.

Namun di balik optimisme itu, masih muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Sejauh mana kerja sama antardaerah ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperluas sentra produksi bawang merah di Banyuasin?

Hingga kini, keberhasilan sebuah nota kesepahaman (MoU) tidak hanya diukur dari penandatanganan dokumen, tetapi juga implementasi nyata yang dapat dirasakan masyarakat, khususnya para petani di lapangan.

Pertemuan koordinasi dan evaluasi kerja sama tersebut berlangsung di Kantor Bupati Brebes, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026). Wakil Bupati Banyuasin Ir. Netta Indian, SP diterima langsung oleh Wakil Bupati Brebes Wurja, SE, untuk membahas tindak lanjut pengembangan komoditas bawang merah, peningkatan produktivitas pertanian, hingga penguatan ketahanan pangan daerah.

Turut hadir mendampingi Wakil Bupati Banyuasin antara lain Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banyuasin Sarip, SP., MM., Kepala Bappeda Litbang Dr.dr. Hj. Rini Pratiwi, M.Kes., FISQua, Kepala Baketpan Banyuasin Ir. Masita Liana, SP, Kepala Dinas Koperindag Adam Ibrahim, SE., MM., serta Kabag Tata Pemerintahan Setda Banyuasin Pujianto, S.IP., M.Si.

Dalam keterangannya, Netta Indian mengatakan perpanjangan kerja sama tersebut merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuasin dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas bawang merah.

Menurutnya, Kabupaten Brebes dipilih karena memiliki pengalaman panjang sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia, sehingga diharapkan transfer pengetahuan, teknologi budidaya, hingga pola pengelolaan usaha tani dapat diterapkan di Banyuasin.

“Kami konsisten mendukung petani bawang merah di Banyuasin melalui pengembangan kualitas budidaya bersama Kabupaten Brebes,” ujarnya.

Baca juga  Pencurian Siang Bolong di Kota Blitar, Perhiasan Emas Senilai Rp30 Juta Raib

Ia juga menegaskan pemerintah daerah bersama Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, SH., MH akan terus memberikan berbagai kemudahan kepada petani melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura agar produksi bawang merah semakin meningkat.

Dari pihak tuan rumah, Wakil Bupati Brebes Wurja menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten Banyuasin yang kembali memilih Brebes sebagai mitra pengembangan budidaya bawang merah.

Ia berharap kerja sama tersebut dapat memberikan manfaat bagi petani di kedua daerah sekaligus memperkuat sektor pertanian nasional.

Namun fakta di lapangan menunjukkan…

Pengembangan komoditas bawang merah bukan hanya berbicara mengenai kualitas benih atau teknik budidaya. Berdasarkan temuan di lapangan pada berbagai sentra pertanian, keberhasilan petani juga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan irigasi, akses pupuk, kestabilan harga, biaya produksi, hingga kepastian pasar setelah masa panen.

Di sisi lain, sejumlah petani di berbagai daerah sering mengaku bahwa tantangan terbesar justru muncul setelah produksi meningkat, yakni ketika harga jual turun akibat melimpahnya pasokan. Kondisi seperti ini menjadi perhatian karena peningkatan produksi belum tentu otomatis meningkatkan pendapatan petani apabila tata niaga belum berjalan optimal.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kerja sama yang diperpanjang kali ini juga mencakup penguatan pemasaran, hilirisasi hasil panen, pengembangan koperasi petani, hingga akses distribusi yang lebih luas bagi bawang merah Banyuasin.

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai target luas lahan pengembangan, jumlah petani penerima manfaat, nilai investasi pendampingan, maupun indikator keberhasilan yang akan digunakan dalam implementasi kerja sama tersebut.

Sejumlah pelaku pertanian menilai bahwa kolaborasi dengan daerah yang telah berhasil seperti Brebes merupakan langkah positif. Namun mereka berharap pendampingan tidak berhenti pada seremoni penandatanganan MoU, melainkan berlanjut melalui pelatihan berkelanjutan, penyediaan benih unggul, pendampingan teknologi budidaya, serta kepastian akses pasar.

Baca juga  GAMIES Aceh Gelar Webinar “Stop Dibajak! Saatnya UMKM Melek HKI”, Dorong Pelaku Usaha Lindungi Merek dan Inovasi

Secara strategis, pengembangan bawang merah memiliki peluang besar untuk mendukung diversifikasi ekonomi pertanian Banyuasin. Selain bernilai ekonomi tinggi, komoditas ini juga menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang permintaannya relatif stabil sepanjang tahun.

Meski demikian, keberhasilan program tetap akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan, sinergi antarorganisasi perangkat daerah, serta kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi budidaya yang lebih modern.

Kerja sama Banyuasin dan Brebes menjadi langkah awal yang menjanjikan. Namun masyarakat tentu berharap manfaatnya benar-benar dapat dirasakan hingga tingkat petani.

Apakah kolaborasi ini nantinya mampu melahirkan sentra bawang merah baru di Sumatera Selatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Banyuasin, atau masih menyisakan pekerjaan rumah dalam tahap implementasi? Waktu dan hasil di lapangan akan menjadi jawabannya. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here