Beranda Nusantara Belajar ke Brebes, Mampukah Banyuasin Wujudkan Sentra Bawang Merah?

Belajar ke Brebes, Mampukah Banyuasin Wujudkan Sentra Bawang Merah?

6
0
Wakil Bupati Banyuasin Netta Indian bersama rombongan meninjau kebun bawang merah di Desa Glonggong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Noto/CimutNews)

JAWA TENGAH, cimutnews.co.id — Upaya Pemerintah Kabupaten Banyuasin memperkuat sektor hortikultura kembali ditunjukkan melalui kunjungan kerja ke sentra bawang merah nasional di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari langkah memperpanjang kerja sama sekaligus mempelajari teknik budidaya bawang merah yang selama ini dikenal berhasil meningkatkan produktivitas petani.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang menarik perhatian. Apakah pola keberhasilan Brebes dapat diterapkan begitu saja di Banyuasin yang memiliki karakteristik lahan, iklim, hingga kebiasaan bertani yang berbeda?

Hal ini menjadi perhatian karena keberhasilan sebuah program pertanian tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga kesiapan petani, pendampingan, infrastruktur, hingga kepastian pasar setelah panen.

Selasa (30/6/2026), Wakil Bupati Banyuasin Ir. Netta Indian, SP bersama rombongan meninjau langsung kebun bawang merah di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Didampingi pemilik kebun Imam Ghozali, rombongan melihat secara langsung proses budidaya mulai dari penanaman hingga hasil panen bawang merah yang dikenal memiliki kualitas unggul dan produktivitas tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir para petani bawang dari Desa Tirto Sari, Kecamatan Banyuasin I yang dipersiapkan menjadi bagian dari pengembangan komoditas bawang merah di Banyuasin.

Menurut Netta Indian, pemerintah daerah berharap petani Banyuasin mampu mengadaptasi teknik budidaya yang telah berhasil diterapkan di Brebes, termasuk penggunaan bibit unggul yang didatangkan langsung dari daerah tersebut.

Ia juga mengarahkan agar pemerintah desa ikut mengoptimalkan pengembangan tanaman bawang merah sehingga nantinya dapat diperluas ke berbagai wilayah di Kabupaten Banyuasin sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.

“Semua ibu kepala desa diarahkan mengoptimalkan tanaman bawang merah di Banyuasin dan insya Allah akan ditularkan ke seluruh Kabupaten Banyuasin sehingga ketahanan pangan dapat dilakukan secara merata,” ujar Netta.

Baca juga  Tanpa Ponsel, Rapat KPK Di Blitar Berlangsung Tertutup, Ada Apa Di Balik Agenda Ini

Meski demikian, namun fakta di lapangan menunjukkan keberhasilan sentra bawang merah seperti Brebes dibangun melalui proses panjang yang melibatkan pengalaman puluhan tahun, jaringan pemasaran yang mapan, dukungan teknologi budidaya, hingga keberadaan industri pendukung.

Di sisi lain, kondisi tersebut belum tentu sepenuhnya dimiliki Banyuasin. Sejumlah petani menilai pengembangan bawang merah membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya penyediaan bibit.

Berdasarkan temuan di lapangan di berbagai daerah pengembangan hortikultura, tantangan yang kerap muncul meliputi perubahan cuaca, serangan hama, biaya produksi yang meningkat, hingga fluktuasi harga saat panen raya. Faktor-faktor tersebut sering kali menjadi penentu keberhasilan usaha tani.

Sejumlah warga mengaku menyambut baik upaya pemerintah membuka peluang komoditas baru karena dinilai dapat menambah pilihan sumber pendapatan masyarakat. Namun mereka berharap program tersebut tidak berhenti pada tahap studi banding ataupun penanaman awal saja.

Menurut beberapa pelaku pertanian, keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan pendampingan penyuluh, ketersediaan pupuk, akses permodalan, hingga jaminan pemasaran hasil panen.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana kesiapan Banyuasin membangun ekosistem bawang merah secara menyeluruh, bukan hanya mengadopsi teknik budidayanya.

Selain itu, belum ada penjelasan rinci mengenai target luas lahan pengembangan, estimasi produksi, maupun strategi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga apabila produksi bawang merah nantinya meningkat.

Kunjungan belajar ke Brebes memang menjadi langkah awal yang dinilai penting untuk membuka wawasan petani Banyuasin. Akan tetapi, pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa keberhasilan sektor hortikultura memerlukan komitmen jangka panjang, kolaborasi lintas sektor, serta konsistensi pendampingan hingga hasil benar-benar dirasakan masyarakat.

Hingga kini, pengembangan bawang merah di Banyuasin masih memasuki tahapan awal. Apakah kerja sama dengan Brebes akan mampu melahirkan sentra bawang merah baru di Sumatera Selatan, atau justru masih menyisakan tantangan yang harus dijawab dalam beberapa tahun ke depan, menjadi pertanyaan yang menarik untuk terus dipantau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here