Beranda Palembang Terungkap! AI Kian Digunakan Wartawan, Namun Batas Etika Masih Menjadi Pertanyaan

Terungkap! AI Kian Digunakan Wartawan, Namun Batas Etika Masih Menjadi Pertanyaan

19
0
Ketua JMSI Sumsel Dr. Firdaus Komar menjadi narasumber dalam talk show bertema Adaptasi Media Siber di Era Digital di FISIP Universitas Sriwijaya, Palembang.(Foto: Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak lagi sekadar menjadi pembahasan di kalangan perusahaan teknologi. Dunia jurnalistik pun mulai memasuki babak baru, di mana AI semakin banyak dimanfaatkan dalam proses produksi berita. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab: apakah teknologi ini akan memperkuat kualitas jurnalisme atau justru mengikis kepercayaan publik?

Isu tersebut mengemuka dalam talk show bertema “Adaptasi Media Siber di Era Digital” yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sriwijaya (Unsri), Jumat (17/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian Road to Pelantikan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Selatan.

Diskusi menghadirkan Ketua JMSI Sumsel, Dr. Firdaus Komar, S.Pd., M.Si., bersama Ketua Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unsri, Dr. Muhammad Husni Thamrin, M.Si., dengan moderator Pili Makoni.

Firdaus menilai penggunaan AI di lingkungan media Indonesia kini memasuki fase transisi. Menurutnya, teknologi tersebut seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kualitas pemberitaan, bukan sekadar mempercepat produksi konten.

“Penggunaan kecerdasan buatan di kalangan wartawan Indonesia terus meningkat dan kini memasuki fase transisi. AI seharusnya membantu menghasilkan jurnalisme yang lebih berkualitas dan berpihak pada kelompok termarjinalkan, bukan sekadar meningkatkan volume produksi atau keuntungan pemilik media,” ujarnya.

Ia menjelaskan, digitalisasi telah membawa perubahan besar terhadap industri media. Selain membuka peluang efisiensi kerja, perkembangan AI juga memunculkan tantangan baru seperti penyebaran misinformasi, persoalan etika penggunaan konten generatif, tekanan ekonomi perusahaan media, hingga isu penghargaan terhadap karya jurnalistik.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, kemajuan teknologi berjalan jauh lebih cepat dibanding kemampuan sebagian ruang redaksi dalam menyusun pedoman penggunaan AI. Tidak sedikit media, terutama skala kecil dan menengah, yang masih berupaya mencari keseimbangan antara kecepatan publikasi dan proses verifikasi informasi.

Baca juga  Firdaus Hasbullah: BEM Adalah Laboratorium Kepemimpinan Mahasiswa dan Miniatur Indonesia

Di sisi lain, masyarakat kini semakin sulit membedakan mana informasi yang lahir dari proses jurnalistik yang ketat dan mana yang dihasilkan secara otomatis. Kondisi tersebut membuat kepercayaan publik terhadap informasi digital menjadi tantangan tersendiri.

Menanggapi perkembangan tersebut, pihak kampus menilai dunia pendidikan tidak bisa tinggal diam.

Ketua Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unsri, Dr. Muhammad Husni Thamrin, mengatakan fenomena AI telah menjadi bagian dari dinamika global sehingga harus direspons melalui kurikulum pendidikan komunikasi.

“Secara akademik kami sangat mengikuti perkembangan teknologi informasi saat ini. Ini bagian dari antisipasi perguruan tinggi. Terkait penggunaan AI, sifatnya hanya membantu, bukan diserahkan semuanya ke AI,” katanya.

Menurut Husni, mahasiswa perlu dibekali kemampuan literasi digital, berpikir kritis, serta etika jurnalistik agar AI diposisikan sebagai alat bantu dalam riset, verifikasi data, dan produksi konten, bukan sebagai pengganti proses berpikir seorang jurnalis.

Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi adalah mengenai status sebuah berita yang diproses menggunakan AI. Apakah masih dapat disebut karya jurnalistik?

Firdaus menegaskan bahwa tanggung jawab tetap berada pada media yang menerbitkan berita tersebut.

“Jika sudah dipublikasikan oleh media, maka itu bukan lagi produk AI. Tanggung jawabnya melekat sebagai produk media tersebut. Redaksi tetap yang memverifikasi, mengedit, dan mempertanggungjawabkan isinya,” tegasnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kehadiran AI tidak menghapus prinsip dasar jurnalistik. Verifikasi, akurasi, independensi, dan tanggung jawab redaksi tetap menjadi fondasi utama yang tidak dapat digantikan teknologi.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat sebagai konsumen informasi. Sejumlah pengguna media sosial mengaku semakin sering menemukan konten yang tampak meyakinkan, namun setelah ditelusuri ternyata mengandung informasi yang tidak utuh atau bahkan menyesatkan. Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya literasi digital agar publik tidak mudah mempercayai seluruh informasi yang beredar.

Baca juga  Wagub Cik Ujang Buka Sultan Muda Digination Fest 2025: Sumsel Siapkan Generasi Digital Berdaya Saing

Berdasarkan perkembangan industri media saat ini, penggunaan AI diduga akan semakin luas dalam beberapa tahun ke depan. Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai standar yang akan diterapkan secara seragam di seluruh perusahaan media terkait transparansi penggunaan teknologi tersebut.

Talk show ini menjadi salah satu agenda menuju pelantikan dan pengukuhan Pengurus Daerah JMSI Sumsel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 28 Juli 2026, di Graha Bina Praja Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, JMSI berharap lahir generasi jurnalis yang mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar jurnalistik.

Hingga kini, belum semua tantangan yang muncul akibat perkembangan AI memiliki jawaban yang pasti. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang semakin relevan bagi dunia pers: ketika mesin semakin pintar menulis, mampukah manusia tetap menjaga kepercayaan publik melalui proses jurnalistik yang akurat, independen, dan bertanggung jawab? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here