
OKI, cimutnews.co.id — Desa Lubuk Dalam kembali menunjukkan dominasinya dalam lomba bidar Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Tim tersebut berhasil mempertahankan gelar juara setelah menaklukkan Kelurahan Jua-jua pada babak final, Kamis (20/8).
Kemenangan itu menjadi penutup rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten OKI. Lomba berlangsung meriah dan disaksikan masyarakat yang memadati lokasi pertandingan.
Namun, di balik kemenangan tersebut, ada cerita lain yang menarik diperhatikan. Ketika satu tim terus berada di puncak, seberapa kuat regenerasi peserta dan bagaimana tradisi bidar dapat terus bertahan di tengah perubahan zaman?
Lubuk Dalam Kembali ke Puncak
Persaingan pada babak final berlangsung ketat. Desa Lubuk Dalam dan Kelurahan Jua-jua harus beradu kecepatan hingga akhirnya Lubuk Dalam lebih dahulu mencapai garis finis.
Hasil tersebut menempatkan Desa Lubuk Dalam sebagai juara pertama. Kelurahan Jua-jua berada di posisi kedua, disusul Kelurahan Kedaton B sebagai juara ketiga dan Kelurahan Kedaton A di posisi keempat.
Pemerintah Kabupaten OKI menyiapkan hadiah total Rp25 juta bagi para pemenang. Juara pertama memperoleh Rp10 juta, juara kedua Rp7 juta, juara ketiga Rp5 juta, sedangkan juara keempat mendapatkan Rp3 juta.
Besaran hadiah memang menjadi bagian dari daya tarik perlombaan. Tetapi bagi masyarakat OKI, bidar memiliki nilai yang lebih panjang daripada sekadar perebutan piala dan uang pembinaan.
Pemerintah Sebut Bidar Bukan Sekadar Hiburan
Sekretaris Daerah OKI, Ir. Asmar Wijaya, M.Si., mengatakan lomba bidar merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Saat menutup kegiatan, Asmar menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan masyarakat yang ikut menyukseskan perlombaan.
“Selamat kepada para pemenang. Bagi yang belum menang jangan berkecil hati. Tahun depan insyaallah kegiatan serupa akan dilaksanakan kembali,” kata Asmar.
Menurut dia, kesempatan untuk kembali bertanding masih terbuka. Peserta yang belum berhasil menjadi juara diharapkan dapat melakukan persiapan lebih baik untuk perlombaan berikutnya.
Asmar juga menyebut dukungan sejumlah pihak, termasuk perusahaan yang tergabung dalam Forum CSR serta Bank Sumsel Babel, turut membantu pelaksanaan rangkaian kegiatan perayaan kemerdekaan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa mempertahankan sebuah tradisi tidak cukup hanya dengan menggelar perlombaan setiap tahun.
Bidar membutuhkan peserta, keterampilan, minat generasi muda, serta ruang yang memungkinkan tradisi tersebut terus dipelajari dan dipraktikkan.
Dalam informasi kegiatan yang disampaikan pemerintah daerah, belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana proses regenerasi atlet bidar dilakukan, berapa banyak peserta muda yang terlibat, maupun program khusus untuk memastikan keterampilan bidar tidak berhenti pada generasi tertentu.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah lomba bidar selama ini hanya menjadi agenda tahunan perayaan kemerdekaan, atau sudah berkembang menjadi program pelestarian budaya yang berkelanjutan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena bidar bukan sekadar perlombaan kecepatan di atas air. Ada keterampilan, kekompakan, strategi, dan sejarah masyarakat yang ikut melekat di dalamnya.
Di Sisi Lain, Persaingan Tetap Terbuka
Dominasi Desa Lubuk Dalam juga tidak serta-merta berarti persaingan antarpeserta kehilangan daya tarik.
Kelurahan Jua-jua mampu menembus posisi runner-up, sementara Kedaton B dan Kedaton A masing-masing mengamankan posisi ketiga dan keempat.
Artinya, masih terdapat ruang bagi tim lain untuk mengejar ketertinggalan pada penyelenggaraan berikutnya.
Bahkan, janji pemerintah daerah untuk kembali menggelar lomba serupa tahun depan membuat persaingan diperkirakan kembali terbuka.
Bagi tim yang belum berhasil, posisi tahun ini dapat menjadi bahan evaluasi. Sementara bagi Lubuk Dalam, status sebagai juara bertahan justru membawa tantangan berbeda: mempertahankan gelar ketika seluruh lawan sudah mengetahui kualitas mereka.
Tradisi, Hiburan, dan Ekonomi Keramaian
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI, Ahmadin Ilyas, mengatakan lomba bidar tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari upaya menjaga tradisi dan budaya OKI.
“Bidar merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat OKI. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin tradisi tersebut terus hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Ahmadin.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa lomba bidar memiliki dua fungsi sekaligus: menjadi tontonan yang menghibur sekaligus sarana mempertahankan identitas budaya.
Di sisi lain, keramaian dalam sebuah perlombaan tradisional juga berpotensi memberi dampak bagi aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Namun, belum ada data resmi yang menjelaskan seberapa besar dampak ekonomi kegiatan tersebut terhadap pedagang, pelaku UMKM, maupun sektor pariwisata lokal.
Bagian inilah yang masih menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Bukan Sekadar Siapa yang Menang
Rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI di OKI tidak hanya diisi lomba bidar. Sejumlah kegiatan masyarakat seperti gebuk bantal dan panjat pinang turut digelar untuk menciptakan ruang berkumpul dan hiburan warga.
Tetapi lomba bidar memiliki posisi yang berbeda karena membawa unsur tradisi lokal.
Kemenangan Lubuk Dalam akhirnya menjadi bagian dari cerita tahun ini. Piala dan hadiah sudah dibawa pulang, sementara peserta lain memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
Yang belum sepenuhnya terjawab adalah bagaimana memastikan bidar tetap hidup bukan hanya ketika kalender perayaan kemerdekaan tiba.
Hingga kini, belum semua aspek mengenai regenerasi, pembinaan peserta, dampak ekonomi, dan strategi pelestarian bidar dijelaskan secara rinci.
Pertanyaan berikutnya pun menjadi penting: akankah dominasi Lubuk Dalam terus berlanjut, atau tahun depan muncul juara baru yang mampu mematahkan tradisi kemenangan tersebut? Dan lebih jauh lagi, apakah bidar akan tetap sekadar perlombaan tahunan, atau benar-benar tumbuh sebagai warisan budaya OKI yang diwariskan lintas generasi? (Asep)

















