Beranda Nusantara Terungkap, Gebyar Ustadz di Garut Bawa Misi Besar Generasi Emas

Terungkap, Gebyar Ustadz di Garut Bawa Misi Besar Generasi Emas

8
0
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin saat membuka Opening Ceremony Gebyar Ustadz/Ustadzah Nusantara & Festival Gema Sakinah Tingkat Provinsi Jawa Barat di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Selasa (25/8/2026). (Foto:Holil/CimutNews)

GARUT, cimutnews.co.id — Kabupaten Garut kembali menjadi tempat berlangsungnya agenda pendidikan dan keagamaan tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun, di balik kemeriahan kegiatan tersebut, ada persoalan yang jauh lebih besar: sejauh mana penguatan pendidikan karakter berbasis masjid benar-benar mampu menjawab tantangan anak-anak di tengah perubahan sosial yang semakin cepat?

Pertanyaan itu mengemuka setelah Bupati Garut Abdusy Syakur Amin membuka Opening Ceremony Gebyar Ustadz/Ustadzah Nusantara & Festival Gema Sakinah Tingkat Provinsi Jawa Barat di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Selasa (25/8/2026).

Kegiatan yang digelar Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Jawa Barat bersama BKPRMI Kabupaten Garut tersebut membawa pesan tentang pentingnya peran ustadz dan ustadzah dalam membentuk karakter generasi muda.

Namun, pesan itu sekaligus membuka ruang pertanyaan lain. Apakah peningkatan kualitas tenaga pendidik keagamaan saja cukup untuk memastikan nilai-nilai pendidikan karakter benar-benar sampai kepada anak-anak?

Peran Ustadz dan Ustadzah Jadi Sorotan

Dalam sambutannya, Abdusy Syakur Amin mengapresiasi dipilihnya Garut sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan tingkat provinsi tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga pendidik keagamaan yang memiliki kualitas dan dedikasi.

“Kegiatan ini sangat baik untuk menyiapkan para ustadz dan ustadzah yang berkualitas dan hebat, sehingga mereka dapat menjadi ujung tombak dalam pembangunan karakter anak bangsa, khususnya dalam menjalankan berbagai aktivitas di masjid,” ujar Abdusy Syakur Amin.

Pernyataan tersebut memperlihatkan besarnya ekspektasi terhadap lembaga dan aktivitas keagamaan di tingkat masyarakat.

Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan interaksi sosial anak-anak.

Bupati berharap nilai-nilai positif yang dibangun melalui aktivitas tersebut dapat menyebar lebih luas.

Baca juga  63 ASN Pemkot Bandung Purna Tugas, Sekda: Jejak Pengabdian Tetap Menjadi Fondasi Pembangunan Kota

“Diharapkan bisa menyebar ke anak-anak yang lain, sehingga kedepan kita bisa menyiapkan Generasi Indonesia Emas,” katanya.

Namun Fakta di Lapangan Menyimpan Tantangan

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa membangun karakter generasi muda tidak hanya bergantung pada keberadaan kegiatan keagamaan.

Ada lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, perkembangan teknologi, hingga derasnya arus informasi digital yang ikut membentuk pola pikir anak-anak.

Karena itu, keberadaan ustadz dan ustadzah menjadi salah satu bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang lebih luas.

Di sisi lain, belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana hasil kegiatan tingkat provinsi ini nantinya akan diukur secara konkret, terutama terkait dampaknya terhadap pembinaan anak dan remaja di lingkungan masjid.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kegiatan seperti Gebyar Ustadz/Ustadzah Nusantara akan berhenti sebagai agenda tahunan, atau diterjemahkan menjadi program pembinaan yang berkelanjutan setelah acara berakhir?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena keberhasilan pendidikan karakter pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari meriahnya sebuah kegiatan, tetapi juga dari perubahan yang terjadi setelah kegiatan selesai.

Bukan Sekadar Acara Seremonial

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Garut, Asda I Pemkesra Kabupaten Garut, perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan kolaborasi lintas lembaga.

BKPRMI sebagai organisasi yang bergerak dalam pembinaan pemuda dan remaja masjid memiliki ruang strategis untuk menjembatani kegiatan keagamaan dengan kebutuhan generasi muda.

Tetapi, tantangan sebenarnya berada setelah panggung acara ditutup.

Hingga kini, belum semua aspek keberlanjutan program tersebut dijelaskan secara rinci kepada publik, termasuk indikator keberhasilan pembinaan, jangkauan peserta didik yang akan menerima dampak, serta bentuk evaluasi setelah kegiatan berlangsung.

Baca juga  Agustus 2026, Jawa Barat Dipadati Event Wisata, Budaya, Olahraga hingga Musik

Tanpa ukuran yang jelas, keberhasilan kegiatan berpotensi hanya dilihat dari terlaksananya acara dan tingginya partisipasi peserta.

Padahal, tujuan yang disampaikan jauh lebih besar, yakni membentuk generasi yang memiliki karakter sekaligus mempersiapkan Indonesia menuju Generasi Emas.

Ada Harapan, Ada Pekerjaan Rumah

Gagasan menjadikan masjid sebagai salah satu pusat pembentukan karakter tentu memiliki peluang besar. Masjid berada dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi ruang interaksi antara anak, remaja, pendidik keagamaan, keluarga, serta tokoh masyarakat.

Namun, tantangannya juga tidak sederhana.

Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Pendidikan yang mereka terima tidak hanya berasal dari ruang kelas atau masjid, tetapi juga dari layar telepon genggam, media sosial, dan berbagai sumber informasi yang sulit sepenuhnya dikendalikan.

Karena itu, peningkatan kompetensi ustadz dan ustadzah perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami persoalan generasi muda.

Berdasarkan informasi yang tersedia, kegiatan ini memang mendapatkan dukungan dari berbagai unsur pemerintah dan lembaga keagamaan. Akan tetapi, rincian mengenai tindak lanjut dan ukuran keberhasilan program belum dijelaskan secara mendalam.

Di titik inilah tantangan sebenarnya berada.

Setelah Pendopo Sepi, Apa yang Berubah?

Opening Ceremony telah digelar. Pesan tentang pendidikan karakter telah disampaikan. Harapan untuk melahirkan generasi Indonesia Emas pun kembali digaungkan.

Tetapi pekerjaan membentuk karakter anak-anak tidak selesai ketika acara berakhir.

Justru setelah kegiatan tersebut, masyarakat akan menunggu apakah gagasan yang disampaikan benar-benar diterjemahkan dalam pembinaan yang konsisten di lingkungan masjid, sekolah, dan keluarga.

Hingga kini, pertanyaan itu masih terbuka.

Apakah Gebyar Ustadz/Ustadzah Nusantara akan menjadi momentum perubahan jangka panjang bagi pembinaan generasi muda di Jawa Barat, atau hanya menjadi satu lagi agenda besar yang selesai ketika panggung acara dibongkar?

Baca juga  Ribuan Tenaga Kerja Terserap, Namun Pertanyaan Baru Muncul

Jawabannya tentu tidak cukup dilihat dari seremoni hari ini. Waktu dan pelaksanaan program setelahnya yang akan menunjukkan seberapa jauh harapan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat. (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here