Beranda Nusantara Terungkap, Gempolin Mulai Ubah Sampah Jadi Manfaat di Gempolsari

Terungkap, Gempolin Mulai Ubah Sampah Jadi Manfaat di Gempolsari

2
0
Warga Gempolsari memilah sampah dari rumah sebagai bagian dari penerapan program Gempolin. (Foto: Siti/cimutnews.co.id)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota Bandung mendorong warga Kelurahan Gempolsari mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah melalui program Gempolin.

Program yang merupakan singkatan dari Gerakan Mengolah Data, Pilah, Olah, Manfaatkan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat itu tidak hanya menempatkan pemilahan sebagai tujuan, tetapi juga menghubungkannya dengan pencatatan, pengangkutan, pengolahan hingga pemanfaatan kembali.

Namun, ada persoalan yang tidak bisa dilewatkan.

Di tengah upaya tersebut, belum semua warga terbiasa memilah sampah berdasarkan jenisnya. Artinya, keberhasilan Gempolin bukan semata ditentukan oleh keberadaan aplikasi, tetapi juga oleh perubahan kebiasaan dari tingkat rumah tangga.

Sampah Dicatat dari Rumah

Melalui aplikasi Gempolin, warga dapat mencatat jenis dan perkiraan berat sampah yang tersedia.

Warga juga dapat menentukan titik pengumpulan, mengunggah foto, hingga meminta pengambilan sampah.

Sistem tersebut membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih terdata. Sampah yang sudah dipilah kemudian ditempatkan di titik pengumpulan sebelum diangkut petugas.

Bagi sebagian warga, mekanisme ini menjadi solusi karena mereka sudah mulai mampu memilah, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengolah sampah secara mandiri.

Warga RT 04 RW 04 Kelurahan Gempolsari, Hesti, mengatakan keberadaan Gempolin cukup membantu masyarakat di lingkungannya.

“Alhamdulillah sih terbantu sekali. Soalnya warga sini baru bisa memilah, belum bisa mengolah. Jadi dengan adanya Gempolin ini terbantu sekali,” ujar Hesti, 20 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan satu persoalan penting: pemilahan dari rumah ternyata belum otomatis berarti sampah selesai dikelola.

Masih ada tahapan berikutnya yang membutuhkan sistem, tenaga dan tempat pengolahan.

Tidak Semua Warga Sudah Terbiasa Memilah

Di sinilah tantangan Gempolin mulai terlihat.

Warga RT 09 RW 10, Iim, mengakui edukasi mengenai pemilahan sampah masih terus dilakukan karena belum seluruh masyarakat terbiasa memisahkan sampah.

Baca juga  Resmikan Graha Pandawa RSUD Ngudi Waluyo Blitar, Bupati Blitar Pelayanan Kesehatan Representatif, Modern, dan Nyaman Bagi Masyarakat

“Karena warga itu tidak semua memilah. Jadi, secara bertahap mereka dari kelurahan terus mensosialisasikan bahwa sampah itu harus dipilah menurut jenisnya, organik dan non-organik,” jelas Iim.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa berlangsung hanya melalui satu kali sosialisasi.

Pemilahan harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Ketika sampah sejak awal tidak dipisahkan, proses pengolahan berikutnya menjadi lebih sulit.

Hal ini juga menjadi salah satu titik penting yang perlu diperhatikan dalam keberlanjutan Gempolin.

Sebab, aplikasi dapat membantu mencatat dan mengatur proses, tetapi kualitas data dan hasil pengelolaan tetap bergantung pada partisipasi warga.

Aplikasi Bukan Sekadar Soal Pengangkutan

Warga RT 08 RW 10, Yuliah, melihat aplikasi Gempolin memiliki fungsi untuk menertibkan pengelolaan sampah.

Melalui aplikasi, warga dapat mencantumkan lokasi, jumlah, jenis hingga foto sampah yang akan diangkut.

“Buat menertibkan aja sih kayaknya gitu, menertibkan berapa banyak sampah yang sudah diolah, terus berapa banyak mungkin volume yang bisa diolah sama tim Gober dari Kelurahan Gempolsari,” ujar Yuliah.

Dari sini muncul fungsi lain yang cukup penting: pencatatan.

Jika berjalan konsisten, data tersebut berpotensi menunjukkan berapa banyak sampah yang masuk, jenis sampah yang dominan, serta seberapa besar bagian yang benar-benar dapat diolah kembali.

Tetapi hingga kini, belum ada penjelasan rinci dalam informasi yang tersedia mengenai seberapa besar volume sampah Gempolsari yang berhasil dialihkan dari pembuangan melalui sistem tersebut.

Pertanyaan itu penting karena ukuran keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya berada pada jumlah warga yang menggunakan aplikasi.

Yang lebih menentukan adalah berapa banyak sampah yang benar-benar berhasil dipilah, diolah dan dimanfaatkan kembali.

Dari Sampah Organik Menjadi Pupuk dan Pangan

Baca juga  Hangatnya Kebersamaan Satgas TMMD dan Warga Kute Keramil: TNI Kuat Bersama Rakyat

Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat ketika sampah organik yang telah dikumpulkan masuk ke tahap pengolahan.

Sampah organik dimanfaatkan di kawasan Buruan Sae Mekarwangi RW 04 sebagai bahan pengolahan pupuk tanaman.

Ketua Buruan Sae Mekarwangi, Deny, mengatakan hasil pengolahan tersebut kemudian mendukung kebun sayuran masyarakat.

Komoditas yang dihasilkan antara lain sawi, pakcoy, cabai, terung dan berbagai jenis umbi-umbian.

Hasil kebun dapat dimanfaatkan warga yang membutuhkan. Sementara kelebihan hasil panen dapat dijual untuk membantu membiayai kebutuhan kebun.

Rantai ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dapat memiliki manfaat yang lebih panjang daripada sekadar mengurangi volume sampah.

Sampah organik yang sebelumnya berpotensi berakhir sebagai limbah dapat masuk kembali ke siklus produksi pangan melalui proses pengolahan.

Ada Dampak Sosial yang Lebih Besar

Warga RT 01 RW 05, Heti, mengatakan sampah organik yang dipisahkan warga diolah menjadi kompos untuk mendukung produktivitas kebun.

Hasil kebun juga dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan stunting sekaligus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekitar.

Di titik ini, Gempolin tidak lagi sekadar berbicara mengenai sampah.

Ada hubungan antara kebersihan lingkungan, pengurangan sampah, produktivitas kebun dan kebutuhan pangan masyarakat.

Namun, manfaat tersebut tentu bergantung pada keberlanjutan proses dari hulu ke hilir.

Jika pemilahan di tingkat rumah tangga tidak konsisten, bahan yang masuk ke sistem pengolahan dapat berkurang atau tercampur. Sebaliknya, jika partisipasi warga meningkat dan proses pencatatan berjalan baik, potensi manfaatnya bisa semakin besar.

Pertanyaan yang Masih Terbuka

Gempolin menawarkan satu pola yang cukup jelas: sampah dipilah dari rumah, dicatat melalui aplikasi, dikumpulkan pada titik tertentu, diangkut, kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali.

Model seperti ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak selalu harus berhenti pada pengangkutan menuju tempat pembuangan.

Baca juga  Sinergi Pers dan Polri: Ketua Umum PJS Kunjungi KPPP Kawasan Pelabuhan Luwuk

Tetapi tantangan terbesarnya justru berada pada tahap paling awal: apakah masyarakat akan konsisten memilah sampah setiap hari?

Terungkap bahwa sebagian warga masih membutuhkan edukasi dan pendampingan. Di sisi lain, manfaat nyata mulai terlihat dari pengolahan sampah organik menjadi kompos dan dukungan terhadap kebun pangan masyarakat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana Gempolin mampu mengubah kebiasaan warga secara permanen, bukan hanya saat program berjalan?

Hingga kini, keberlanjutan partisipasi warga, konsistensi pencatatan serta besaran sampah yang benar-benar berhasil diolah masih menjadi bagian penting yang perlu terus dilihat.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya tentang seberapa canggih aplikasinya, melainkan seberapa jauh sampah yang biasanya dianggap tidak berguna benar-benar kembali memberi manfaat bagi masyarakat. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here