Beranda Nusantara Ribuan Tenaga Kerja Terserap, Namun Pertanyaan Baru Muncul

Ribuan Tenaga Kerja Terserap, Namun Pertanyaan Baru Muncul

7
0
Bupati Majalengka Eman Suherman saat menyampaikan capaian program penyerapan tenaga kerja Mata Hati. (foto: Siti/cimutnews.co.id)

Terungkap, Program Mata Hati Didominasi Pekerja Perempuan

MAJALENGKA, cimutnews.co.id — Program penyerapan tenaga kerja “Mata Hati” di Kabupaten Majalengka mencatat angka cukup besar hanya dalam waktu singkat.

Pemerintah daerah mengklaim lebih dari dua ribu pencari kerja telah diterima bekerja sejak program diluncurkan pada April 2026.

Namun di balik capaian tersebut, muncul perhatian baru terkait dominasi pekerja perempuan dan kualitas penyerapan kerja yang terjadi di lapangan.

Lalu, apakah program ini benar-benar mampu menjawab persoalan pengangguran secara merata?

2.009 Tenaga Kerja Disebut Sudah Terserap

Pemerintah Kabupaten Majalengka mencatat program Masyarakat Cepat Kerja Hadirkan Kebahagiaan Kuatkan Inklusi (Mata Hati) telah menyerap 2.009 tenaga kerja hingga awal Mei 2026.

Bupati Majalengka, Eman Suherman, mengatakan program tersebut menjadi strategi percepatan penyerapan tenaga kerja melalui kerja sama dengan sektor industri.

“Program ini menjadi salah satu strategi percepatan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Majalengka,” ujar Eman dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan data pemerintah daerah, sebanyak 2.634 pencari kerja mengikuti proses rekrutmen dan 2.009 orang dinyatakan diterima di berbagai sektor industri.

Pemkab Majalengka juga menyebut telah menjalin kemitraan dengan 23 perusahaan sejak program itu berjalan.

Iklim Ketenagakerjaan Diklaim Semakin Kompetitif

Menurut Eman, capaian tersebut mencerminkan meningkatnya daya tarik investasi dan iklim ketenagakerjaan di Kabupaten Majalengka.

Pemerintah daerah menilai keterlibatan sektor industri menjadi faktor penting dalam memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

Namun yang cukup mencolok, penyerapan tenaga kerja dalam program ini didominasi perempuan.

Data Pemkab menunjukkan sekitar 1.812 pekerja yang diterima atau sekitar 90,01 persen berasal dari kalangan perempuan.

Dominasi Pekerja Perempuan Jadi Sorotan

Namun fakta di lapangan menunjukkan, dominasi pekerja perempuan dalam penyerapan tenaga kerja ini memunculkan perhatian tersendiri.

Baca juga  KDM akan Berikan Kompensasi Uang Saku kepada Sopir Angkot, Becak, Andong

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian pencari kerja laki-laki mengaku peluang kerja di sektor tertentu masih terbatas.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah perempuan yang justru lebih mudah diterima di sektor industri padat karya.

Sejumlah warga mengaku program tersebut memang membantu membuka lapangan kerja baru, namun belum semua kelompok pencari kerja merasakan kesempatan yang sama.

“Kalau untuk perempuan memang banyak lowongan, tapi laki-laki kadang pilihannya tidak terlalu banyak,” ujar salah seorang pencari kerja di Majalengka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah penyerapan tenaga kerja yang tinggi sudah benar-benar mencerminkan pemerataan kesempatan kerja?

Warga Sambut Positif, Tapi Masih Ada Harapan

Sebagian warga mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang dinilai cukup cepat membuka akses pekerjaan melalui kerja sama industri.

Menurut mereka, program tersebut setidaknya memberi peluang bagi masyarakat yang sebelumnya kesulitan mencari kerja.

Namun sejumlah pencari kerja berharap pemerintah juga memperhatikan kualitas pekerjaan, kepastian kontrak, hingga keberlanjutan lapangan kerja yang tersedia.

“Yang penting bukan cuma cepat diterima kerja, tapi juga bagaimana ke depannya,” kata seorang warga lainnya.

Penyerapan Tinggi Belum Tentu Menjawab Semua Masalah

Program Mata Hati memang menunjukkan angka penyerapan tenaga kerja yang cukup besar dalam waktu relatif singkat.

Namun efektivitas jangka panjangnya masih bergantung pada stabilitas pekerjaan, pemerataan kesempatan, serta kemampuan industri mempertahankan tenaga kerja.

Dominasi pekerja perempuan juga memperlihatkan adanya pola kebutuhan industri tertentu yang diduga lebih banyak menyerap tenaga kerja perempuan.

Jika tidak diimbangi pengembangan sektor kerja lain, ketimpangan peluang kerja diduga bisa terus terjadi.

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait distribusi sektor pekerjaan maupun jenis kontrak kerja yang paling banyak tersedia dalam program tersebut.

Baca juga  Pasca Hari Raya Idulfitri 1447 H, Polisi Blitar Patroli Tempat Wisata di Pantai Serang

Karena itu, publik kini menanti apakah program Mata Hati benar-benar menjadi solusi berkelanjutan bagi pengangguran di Majalengka, atau hanya mampu menghasilkan penyerapan kerja jangka pendek? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here