Beranda OKU Terungkap, Bukan Sekadar Sarapan: Ada Tradisi yang Menjaga Kebersamaan Jamaah Masjid Nurul...

Terungkap, Bukan Sekadar Sarapan: Ada Tradisi yang Menjaga Kebersamaan Jamaah Masjid Nurul Jannah

7
0
Wakil Bupati OKU Ir. H. Marjito Bachri bersama jamaah Masjid Nurul Jannah usai melaksanakan Safari Subuh di Lorong Duku Bakung, Jumat (28/8/2026). (Foto: Agus/cimutnews.co.id)

BATURAJA, cimutnews.co.id — Jumat pagi biasanya menjadi waktu ketika sebagian orang kembali beristirahat setelah menunaikan salat Subuh. Namun, suasana berbeda terlihat di Masjid Nurul Jannah, Lorong Duku Bakung, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Jumat (28/8/2026).

Sejumlah jamaah justru memilih tetap berada di masjid. Mereka duduk bersama, menikmati sarapan sederhana, menyeruput kopi, lalu berbincang dalam suasana santai.

Kebiasaan yang dilakukan rutin setiap Jumat dan Minggu itu terlihat sederhana. Tetapi di balik secangkir kopi dan hidangan pagi, terdapat pola interaksi sosial yang membuat jamaah tidak langsung meninggalkan masjid setelah ibadah.

Momentum tersebut semakin menarik perhatian ketika Wakil Bupati OKU, Ir. H. Marjito Bachri, melaksanakan Safari Subuh di masjid tersebut.

Safari Subuh dan Ruang Aspirasi Warga

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan OKU Ir. Novi Apriadi, ST., M.Si., Kepala Dinas Sosial OKU Ir. Iwarman, S.T., M.Eng., Kepala Dinas Ketenagakerjaan OKU Drs. Ahmad Firdaus, M.Si., Ketua RT 18 RW 05 Hamiddudin Sadik, serta Ketua Masjid Nurul Jannah H. Abi Kusno.

Safari Subuh pada dasarnya menjadi salah satu sarana pemerintah daerah untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat.

Bukan hanya menghadiri kegiatan keagamaan, agenda seperti ini juga membuka kesempatan bagi pemerintah untuk melihat lebih dekat kehidupan sosial masyarakat di tingkat lingkungan.

Namun, perhatian dalam kegiatan tersebut justru tertuju pada aktivitas setelah salat selesai.

Para jamaah tidak langsung beranjak pulang.

Mereka berkumpul dan menikmati sarapan serta kopi bersama.

Tradisi Sederhana yang Bertahan

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tradisi sarapan dan ngopi bersama telah dilakukan jamaah Masjid Nurul Jannah secara rutin setiap Jumat dan Minggu.

Baca juga  Wahyu Sanjaya Dorong Tata Kelola Keuangan Desa yang Akuntabel Demi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Tidak ada gambaran tentang kegiatan besar atau seremoni khusus.

Yang terlihat justru aktivitas sederhana: jamaah duduk bersama, berbagi makanan, berbincang dan menjaga keakraban.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, kebiasaan sederhana semacam ini dapat memiliki fungsi sosial yang lebih luas.

Masjid tidak hanya menjadi tempat bertemunya masyarakat ketika menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi ruang interaksi setelahnya.

Dari percakapan informal tersebut, hubungan antarsesama warga dapat terbangun lebih dekat.

Di sisi lain, ruang pertemuan seperti ini juga berpotensi menjadi tempat masyarakat menyampaikan berbagai persoalan lingkungan secara lebih terbuka.

Wabup OKU Beri Apresiasi

Wakil Bupati OKU Marjito Bachri mengapresiasi tradisi yang tumbuh secara swadaya di tengah jamaah tersebut.

Menurutnya, masjid memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat menjalankan ibadah. Masjid juga dapat berperan sebagai pusat pembinaan umat sekaligus ruang untuk memperkuat hubungan sosial.

“Ini tradisi yang sangat baik. Setelah salat Subuh, jamaah tidak langsung pulang, tetapi duduk bersama, sarapan dan ngopi. Dari hal sederhana seperti ini, silaturahmi dan rasa kekeluargaan bisa terus terjaga,” ujar Marjito.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas sosial yang berlangsung secara sederhana dapat dipandang sebagai bagian dari kekuatan masyarakat di tingkat lingkungan.

Bagi pemerintah daerah, pola komunikasi seperti ini juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kebutuhan warga secara lebih dekat.

Ketika Kopi Menjadi Ruang Komunikasi

Ada hal yang kerap luput dari perhatian dalam pembangunan masyarakat: hubungan sosial tidak selalu dibangun melalui forum resmi.

Kadang, komunikasi justru tumbuh dari percakapan ringan setelah salat, ketika warga duduk bersama tanpa sekat jabatan maupun kepentingan.

Tradisi di Masjid Nurul Jannah memperlihatkan gambaran tersebut.

Baca juga  Gerakan Indonesia Asri Diluncurkan, Namun Tantangan Kebersihan OKU Belum Selesai

Jamaah memiliki ruang untuk saling mengenal, bertukar cerita dan menjaga hubungan kekeluargaan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas: seberapa besar ruang-ruang sosial sederhana seperti ini masih bertahan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk?

Bukan Sekadar Sarapan

Jika dilihat sekilas, sarapan dan ngopi bersama mungkin hanya aktivitas biasa.

Tetapi ketika dilakukan secara rutin dan melibatkan jamaah dalam suasana kebersamaan, kegiatan tersebut berubah menjadi bagian dari kehidupan sosial lingkungan.

Hingga kini, belum semua dampak dari kebiasaan semacam itu dapat diukur secara formal.

Namun, manfaat yang paling mudah terlihat adalah terbukanya ruang komunikasi antarmasyarakat.

Bahkan, komunikasi informal tersebut dapat menjadi jalur awal untuk mengetahui persoalan warga sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Tentu saja, efektivitasnya tetap bergantung pada sejauh mana komunikasi tersebut benar-benar diteruskan menjadi perhatian dan tindakan ketika ditemukan persoalan di masyarakat.

Pertanyaan yang Masih Terbuka

Safari Subuh Wakil Bupati OKU di Masjid Nurul Jannah akhirnya tidak hanya menyisakan cerita tentang kunjungan pejabat daerah.

Ada potret lain yang lebih sederhana: jamaah yang memilih tetap duduk bersama setelah ibadah selesai.

Tradisi sarapan dan ngopi yang dilakukan setiap Jumat dan Minggu menjadi contoh bahwa membangun kebersamaan tidak selalu membutuhkan program besar.

Pertanyaannya, mampukah tradisi kecil seperti ini terus dipertahankan dan berkembang menjadi kekuatan sosial masyarakat OKU di tengah perubahan zaman?

Jawabannya masih akan terlihat dari perjalanan tradisi tersebut di lingkungan warga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here