Beranda Palembang Apel Akbar Satlinmas Digelar, Peran di Tengah Ancaman Karhutla Disorot

Apel Akbar Satlinmas Digelar, Peran di Tengah Ancaman Karhutla Disorot

6
0
Bupati Musi Rawas Utara H. Devi Suhartoni menghadiri Apel Akbar Satlinmas di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City, Palembang. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

Palembang, cimutnews.co.id — Ribuan anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dari berbagai daerah berkumpul di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City, Palembang, Jumat (28/8/2026). Apel Akbar tersebut menjadi momentum memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus memperkuat kembali posisi Satlinmas di tengah masyarakat.

Sekitar 3.000 anggota Satlinmas hadir dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan Deklarasi, Pelantikan, dan Pengukuhan DPP serta DPD Aslinmas se-Indonesia.

Namun, di balik apel yang berlangsung dalam skala besar itu, ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: sejauh mana Satlinmas benar-benar mampu menjalankan peran perlindungan masyarakat ketika persoalan muncul di lapangan?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena ancaman yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ketertiban lingkungan, tetapi juga bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Satlinmas Diminta Tak Sekadar Hadir dalam Seremoni

Bupati Musi Rawas Utara (Muratara) H. Devi Suhartoni turut menghadiri Apel Akbar Satlinmas tersebut.

Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah, Satlinmas, dan masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Tetapi, tantangan Satlinmas sebenarnya tidak berhenti pada apel atau kegiatan organisasi.

Peran mereka justru diuji ketika terjadi persoalan di lingkungan masyarakat—mulai dari gangguan ketertiban, kondisi darurat, hingga bencana yang membutuhkan respons cepat.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Komjen (P) Dr. Akhmad Wiyagus dalam amanatnya menekankan pentingnya peran Satlinmas dalam membantu pemerintah daerah menghadapi berbagai persoalan masyarakat.

Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah penanggulangan karhutla.

Satlinmas diharapkan dapat mengambil bagian dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla, terutama ketika potensi bencana tersebut meluas dan berdampak terhadap masyarakat maupun lingkungan.

Baca juga  Digital Kito Galo Ditutup Meriah, Namun Digitalisasi UMKM Masih Menyisakan Tantangan

Karhutla Jadi Ujian Nyata di Lapangan

Pesan tersebut menjadi penting bagi daerah-daerah yang memiliki kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Karhutla bukan sekadar persoalan api yang harus dipadamkan. Ketika kebakaran meluas, dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, termasuk lingkungan, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga mobilitas warga.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh banyaknya personel yang tersedia.

Kesiapan peralatan, kemampuan koordinasi, kecepatan informasi, akses menuju lokasi kejadian, serta pembagian tugas antarlembaga menjadi faktor yang ikut menentukan.

Di sinilah peran Satlinmas berpotensi menjadi penting.

Mereka berada dekat dengan masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Posisi tersebut memungkinkan Satlinmas menjadi salah satu unsur awal yang mengetahui adanya persoalan di wilayah masing-masing.

Namun, efektivitas peran tersebut tentu membutuhkan dukungan yang memadai.

Hingga kini, belum semua persoalan terkait kapasitas, sarana, pelatihan, serta pola koordinasi Satlinmas di setiap daerah terjawab secara rinci dalam momentum apel akbar tersebut.

Bukan Hanya Soal Keamanan

Akhmad Wiyagus juga menyoroti keberadaan Aslinmas sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Sinergi dinilai penting untuk mendukung berbagai program pemerintah sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Semangat gotong royong juga menjadi bagian yang ditekankan.

Gagasan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar ketika diterapkan di lapangan.

Sebab, masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan terbiasa saling membantu dapat menjadi kekuatan sosial ketika menghadapi persoalan bersama.

Di sisi lain, kondisi berbeda dapat dirasakan apabila koordinasi antara masyarakat, pemerintah dan unsur perlindungan masyarakat tidak berjalan dengan baik.

Karena itu, penguatan Satlinmas tidak cukup hanya berbicara mengenai struktur organisasi.

Baca juga  Bunda PAUD Palembang Tinjau MPLS TK Negeri Pembina 2, Tekankan Sekolah Ramah Anak dan Bebas Bullying

Yang lebih penting adalah bagaimana struktur tersebut bekerja ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

Maruli Simanjuntak Tekankan Kolaborasi

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) sekaligus Ketua Pembina Teknis Aslinmas, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antarelemen masyarakat.

Kolaborasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk menciptakan kondisi masyarakat yang aman, tertib dan damai.

Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perlindungan masyarakat bukan pekerjaan satu institusi.

Pemerintah daerah, aparat, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat di tingkat lingkungan memiliki peran yang saling berkaitan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah sinergi tersebut akan terus berjalan setelah apel dan pelantikan berakhir?

Sebab, tantangan sesungguhnya bukan berada di panggung acara, melainkan ketika personel kembali ke wilayah masing-masing dan berhadapan dengan persoalan nyata.

5.000 Paket Beras dan Satu Mobil Operasional

Apel Akbar Satlinmas juga diwarnai dengan penyerahan bantuan kepada anggota Satlinmas.

Sebanyak 5.000 paket beras diserahkan kepada perwakilan Satlinmas yang hadir.

Selain itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyerahkan satu unit mobil operasional kepada DPD Aslinmas Sumatera Selatan.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas dan operasional organisasi dalam menjalankan tugas serta fungsinya.

Namun, bantuan logistik dan kendaraan operasional pada akhirnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Apakah dukungan tersebut cukup untuk menjawab kebutuhan Satlinmas di lapangan?

Atau masih diperlukan penguatan lain seperti pelatihan, sistem komunikasi, perlengkapan pendukung, serta pola koordinasi yang lebih terukur?

Jawabannya tentu membutuhkan evaluasi secara berkelanjutan.

Muratara dan Tantangan Membangun Sinergi

Bagi Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara, kehadiran Bupati Devi Suhartoni dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Baca juga  Kemiskinan Sumsel Tembus Satu Digit 9,85 Persen, Herman Deru Apresiasi Peran Kepala Daerah

Penguatan Satlinmas dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga kondisi lingkungan tetap aman dan kondusif.

Namun, efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh implementasi setelah kegiatan berlangsung.

Terungkap dalam apel tersebut bahwa ekspektasi terhadap Satlinmas semakin luas. Mereka tidak hanya diharapkan membantu menjaga ketertiban, tetapi juga ikut berperan dalam menghadapi bencana, membangun kepedulian sosial dan memperkuat gotong royong.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana harapan tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata di setiap daerah.

Apakah penguatan organisasi, bantuan operasional dan sinergi antarlembaga mampu membuat Satlinmas semakin responsif ketika masyarakat menghadapi persoalan?

Atau masih ada pekerjaan rumah yang belum terlihat dari besarnya sebuah apel?

Hingga kini, pertanyaan itu masih membutuhkan jawaban dari pelaksanaan di lapangan. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here