
PAGAR ALAM, cimutnews.co.id – Xavalart and Science Competition Pagar Alam akan digelar pada 20–22 Oktober 2026 dengan melibatkan anak-anak TK dan siswa SD se-Kota Pagar Alam. Rencana kegiatan tersebut mendapat dukungan Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, yang menilai kompetisi pendidikan penting untuk memperluas ruang pengembangan bakat generasi muda.
Dukungan itu disampaikan saat Hj. Bertha menerima audiensi Yayasan Xaverius Pagar Alam di ruang kerjanya, Kantor Wali Kota Pagar Alam, Selasa pagi (8/9/2026).
Xaverius Siapkan Kompetisi Seni, Sains hingga Bahasa Besemah
Kepala Sekolah Xaverius Pagar Alam, Yohanes Puji Ismanto, dalam audiensi tersebut menjelaskan rencana pelaksanaan kompetisi sekaligus meminta dukungan Pemerintah Kota Pagar Alam.
Xavalart and Science Competition Pagar Alam dirancang bukan hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan akademik, seni, kreativitas, serta keterampilan.
Peserta akan berasal dari jenjang TK dan SD se-Kota Pagar Alam dengan sejumlah kategori perlombaan.
Tujuh kategori perlombaan
Beberapa perlombaan yang disiapkan antara lain:
- Lomba Mewarnai untuk TK.
- Lomba Tari Kreasi untuk TK dan SD.
- Lomba Cerdas Cermat untuk SD.
- Lomba Vokal Solo untuk SD.
- Lomba Membuat Poster untuk SD.
- Lomba Keterampilan Baris Berbaris untuk SD.
- Lomba Bercerita Bahasa Besemah untuk SD.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yakni 20 hingga 22 Oktober 2026.
Komposisi lomba tersebut memperlihatkan upaya penyelenggara menggabungkan kemampuan akademik dengan ekspresi seni dan pengenalan budaya lokal. Kehadiran kategori bercerita menggunakan Bahasa Besemah juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengenal sekaligus mempertahankan unsur kebudayaan daerah.
Pemkot Pagar Alam Sambut Kompetisi Pendidikan
Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, menyambut baik rencana kegiatan tersebut. Menurut dia, pemerintah daerah memiliki kepentingan untuk mendukung aktivitas yang memberikan ruang positif bagi perkembangan anak dan pelajar.
“Tentunya kami mendukung. Kami sangat antusias, karena lomba ajang sains atau akademis seperti cerdas cermat ini sudah jarang, biasanya lebih banyak ke kegiatan fisik seperti olahraga,” kata Hj. Bertha.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi pendidikan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan di luar sekolah. Ajang seperti cerdas cermat, membuat poster, bercerita, maupun seni dapat menjadi sarana untuk mengukur keberanian, kreativitas, kemampuan berpikir, dan komunikasi peserta didik.
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah juga dapat membantu menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan belajar di ruang kelas.
Dari Kompetisi Konvensional Menuju Era Digital
Hal lain yang menjadi perhatian Hj. Bertha adalah perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Ia mendorong agar kompetisi pendidikan di Pagar Alam pada masa mendatang mulai mempertimbangkan format yang memanfaatkan teknologi digital.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuka peluang munculnya kompetisi dengan bentuk yang berbeda dari perlombaan konvensional.
“Saat ini kita sudah mulai memasuki masa transisi ke digitalisasi. Mungkin kedepannya, akan ada perlombaan-perlombaan yang sifatnya lebih ke digital, virtual, atau memanfaatkan teknologi seperti AI dan coding,” ujarnya.
Gagasan tersebut menjadi konteks penting di tengah perubahan kebutuhan keterampilan peserta didik. Anak-anak tidak hanya dituntut mampu menguasai pengetahuan dasar, tetapi juga semakin perlu diperkenalkan pada kreativitas digital, logika pemrograman, pemecahan masalah, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Kompetisi sebagai ruang pembentukan karakter
Kompetisi pendidikan juga memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menentukan pemenang. Anak belajar mempersiapkan diri, mengikuti aturan, bekerja keras, menerima hasil, serta berinteraksi dengan peserta lain.
Dalam konteks tersebut, kegiatan seperti Xavalart and Science Competition dapat menjadi salah satu pelengkap proses pendidikan formal. Sekolah dan penyelenggara memiliki ruang untuk menanamkan semangat berprestasi sekaligus menjaga agar kompetisi tetap sehat dan sesuai usia peserta.
Bahasa Besemah dan Identitas Lokal Mendapat Ruang
Salah satu kategori yang menarik perhatian adalah lomba bercerita Bahasa Besemah untuk siswa SD. Materi lomba ini membawa dimensi berbeda karena memasukkan unsur bahasa dan budaya lokal ke dalam kompetisi pendidikan.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin luas, pengenalan budaya lokal kepada generasi muda menjadi bagian penting dari pendidikan karakter. Anak-anak dapat mengenal identitas daerah bukan hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga lewat aktivitas kreatif dan kompetitif.
tantangan berikutnya bukan sekadar menggelar lomba
Rencana kompetisi ini memperlihatkan bahwa ruang prestasi siswa di daerah dapat dibangun melalui pendekatan yang beragam. Namun, keberhasilan sebuah kompetisi pendidikan pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau banyaknya kategori lomba, melainkan dari pengalaman belajar yang diperoleh anak setelah kegiatan selesai.
Dalam jangka pendek, kegiatan tersebut dapat membuka kesempatan bagi siswa TK dan SD untuk tampil, berkompetisi, serta menemukan potensi yang mungkin belum terlihat dalam kegiatan belajar sehari-hari. Dalam jangka panjang, pola kompetisi semacam ini dapat menjadi bagian dari ekosistem pencarian dan pengembangan bakat di tingkat daerah.
perpaduan antara cerdas cermat, seni, bahasa Besemah, dan gagasan lomba digital menunjukkan arah yang menarik—kompetisi pendidikan di Pagar Alam berpotensi bergerak dari sekadar mencari juara menuju ruang untuk mempertemukan prestasi akademik, kreativitas, budaya lokal, dan literasi teknologi. (Hafis)

















