Beranda Palembang Pemerataan Pelayanan Kesehatan Jadi Sorotan Herman Deru di Simposium ISICM 2026

Pemerataan Pelayanan Kesehatan Jadi Sorotan Herman Deru di Simposium ISICM 2026

7
0
1. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat memberikan sambutan pada Simposium ISICM 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Jumat (11/9/2026).(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan pemerataan pelayanan kesehatan hingga ke daerah menjadi salah satu kunci meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pesan itu disampaikan dalam Simposium Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM) 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan yang digelar Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) pada 9–13 September 2026 tersebut menjadi momentum untuk melihat tantangan pelayanan medis tidak hanya dari sisi kompetensi dokter, tetapi juga dari perubahan perilaku dan ekspektasi masyarakat di era digital.

Herman Deru Soroti Tantangan Tenaga Kesehatan di Era Digital

Dalam sambutannya, Herman Deru mengatakan perkembangan teknologi informasi telah mengubah hubungan antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Telepon pintar membuat informasi kesehatan dapat diakses dengan cepat, sekaligus memberi masyarakat ruang lebih besar untuk menyampaikan kritik dan tuntutan terhadap pelayanan.

Menurut Herman Deru, kondisi tersebut membuat profesi dokter dan tenaga kesehatan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kompetensi medis tetap menjadi fondasi, tetapi kemampuan berkomunikasi dan memahami kondisi sosial masyarakat juga semakin penting.

“Sekarang masyarakat memiliki senjata ampuh berupa layar handphone Android. Dari situ dia bisa menjadi penuntut, bisa menjadi hakim, bahkan bisa menjadi jurnalis,” ujar Herman Deru.

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan lanskap pelayanan publik. Pengalaman pasien di fasilitas kesehatan kini dapat dengan cepat diketahui masyarakat luas, terutama ketika informasi atau keluhan disebarkan melalui platform digital.

Kompetensi Medis Harus Berjalan dengan Kemampuan Komunikasi

Perubahan itu membuat tenaga kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan keahlian klinis. Dokter juga perlu menjelaskan kondisi pasien, pilihan penanganan, risiko tindakan, serta alasan medis di balik suatu keputusan secara mudah dipahami.

Baca juga  Liga Top Skor Palembang 2026: PSS U16 Ditahan SAS 1-1 Usai Kebobolan Injury Time

Dalam konteks pelayanan intensif, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif berada dalam kondisi yang membutuhkan penanganan cepat dan kompleks, sementara keluarga pasien juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai perkembangan kondisi serta tindakan medis.

Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan perlu ditempatkan sebagai proses yang mencakup kemampuan klinis, komunikasi, tata kelola, dan kesiapan fasilitas.

Pemerataan Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Berhenti di Perkotaan

Pesan utama Herman Deru juga berkaitan dengan kesenjangan akses pelayanan kesehatan antara pusat perkotaan dan daerah. Pemerataan bukan sekadar menghadirkan fasilitas kesehatan, tetapi memastikan masyarakat di wilayah berbeda memiliki kesempatan memperoleh layanan yang layak sesuai kebutuhannya.

Bagi Sumatera Selatan, persoalan ini memiliki dimensi geografis yang penting. Karakter wilayah dan persebaran penduduk membuat penguatan pelayanan kesehatan daerah membutuhkan dukungan tenaga medis, fasilitas, peralatan, sistem rujukan, serta konektivitas antarfasilitas.

Layanan Intensif Membutuhkan Sistem yang Terhubung

Pelayanan intensive care merupakan salah satu bidang yang menunjukkan pentingnya sistem kesehatan yang terintegrasi. Penanganan pasien kritis tidak hanya bergantung pada keberadaan dokter spesialis, tetapi juga kesiapan rumah sakit dan mekanisme rujukan ketika pasien membutuhkan layanan dengan tingkat kemampuan lebih tinggi.

Simposium ISICM 2026 yang berlangsung lima hari menjadi relevan dalam konteks tersebut. Forum ilmiah semacam ini dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi kasus-kasus kritis.

Namun, peningkatan kapasitas SDM perlu diikuti dengan distribusi tenaga dan fasilitas yang lebih merata. Tanpa itu, peningkatan kualitas layanan berpotensi terkonsentrasi di wilayah yang sejak awal memiliki infrastruktur kesehatan lebih lengkap.

Tantangan Kesehatan Kini Bukan Hanya Persoalan Dokter dan Rumah Sakit

Baca juga  Pemkot Palembang Perkuat Pengendalian Inflasi, Sinergikan Langkah dengan Pemerintah Pusat

Ada perubahan mendasar dalam pola hubungan antara fasilitas kesehatan dan masyarakat. Pasien kini lebih mudah membandingkan layanan, mencari informasi medis, serta menyampaikan pengalaman mereka secara terbuka. Kondisi tersebut dapat menjadi instrumen pengawasan publik, tetapi sekaligus menuntut tenaga kesehatan semakin cermat dalam memberikan informasi yang akurat.

Dalam jangka panjang, pemerataan pelayanan kesehatan juga perlu dipandang sebagai bagian dari pembangunan manusia. Ketimpangan akses terhadap layanan medis dapat berdampak pada keterlambatan diagnosis, penanganan, hingga peluang pemulihan pasien. Sebaliknya, sistem layanan yang lebih merata dapat memperpendek jarak antara kebutuhan masyarakat dan kapasitas pelayanan yang tersedia.

Teknologi Bisa Menjadi Pengawas Sekaligus Penguat Layanan

Ada satu perubahan yang sering luput dalam pembahasan pemerataan kesehatan: teknologi tidak hanya mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga mengubah standar yang digunakan masyarakat untuk menilai pelayanan.

Artinya, semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, semakin besar pula kebutuhan pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk membangun layanan yang transparan, responsif, dan konsisten. Dalam konteks ini, pemerataan pelayanan kesehatan bukan hanya persoalan membangun fasilitas di daerah, melainkan memastikan kualitas pengalaman pasien tidak terlalu ditentukan oleh lokasi tempat mereka tinggal.

Simposium ISICM 2026 Digelar hingga 13 September

Simposium ISICM 2026 diselenggarakan PERDICI di Hotel Aryaduta Palembang pada 9–13 September 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan kalangan profesional di bidang intensive care dalam agenda ilmiah dan pertukaran pengetahuan.

Kehadiran Gubernur Sumatera Selatan dalam forum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan layanan medis membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Pemerintah daerah memiliki peran dalam kebijakan dan dukungan sistem, sementara tenaga kesehatan menjadi ujung tombak pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat.

Ke depan, tantangan pelayanan kesehatan Sumatera Selatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologi medis yang tersedia, tetapi juga seberapa merata teknologi, tenaga profesional, dan akses layanan tersebut dapat dirasakan masyarakat di berbagai daerah.

Baca juga  Warga Geger, Temukan Sesosok Mayat Mr X Ngambang di Bawah Jembatan Ampera

Dengan tuntutan publik yang semakin tinggi dan arus informasi yang semakin cepat, peningkatan kualitas layanan kesehatan harus berjalan beriringan dengan pemerataan. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan akhirnya sederhana: layanan yang dibutuhkan tersedia, dapat dijangkau, dan diberikan dengan standar yang dapat dipertanggungjawabkan.(Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here