
Palembang, cimutnews.co.id – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru mengapresiasi kehadiran Kelopak Lapan, pusat kuliner baru yang resmi dibuka di kawasan Seduduk Putih, Kota Palembang, Sabtu (12/9/2026). Kehadiran destinasi kuliner tersebut dinilai bukan sekadar menambah pilihan tempat makan, tetapi juga membuka ruang baru bagi aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Herman Deru hadir dalam Grand Opening Kelopak Lapan dan menilai konsep serta bangunan yang ditawarkan berada di luar ekspektasinya. Menurut dia, karakter masyarakat Palembang yang memiliki minat tinggi terhadap kuliner menjadi modal penting bagi pusat kuliner tersebut untuk berkembang.
“Bangunannya luar biasa. Saya yakin akan menarik perhatian warga Palembang yang memang hobi kulineran. Ini juga memberikan kesempatan membuka lapangan pekerjaan, karena lapangan kerja sangat dibutuhkan untuk mengurangi angka pengangguran,” kata Herman Deru.
Kelopak Lapan dan Peluang Ekonomi Baru di Palembang
Kehadiran Kelopak Lapan berlangsung ketika sektor penyediaan akomodasi dan makan minum masih menunjukkan pertumbuhan penting dalam perekonomian Sumatera Selatan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan menunjukkan ekonomi provinsi ini tumbuh 5,20 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif hingga triwulan II, ekonomi Sumsel tumbuh 5,27 persen, dengan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tercatat sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 10,10 persen.
Angka tersebut memberi konteks bahwa bisnis kuliner tidak berdiri sendiri. Perkembangan restoran, kafe, dan pusat kuliner dapat berkaitan dengan aktivitas konsumsi masyarakat, rantai pasok bahan pangan, distribusi, hingga kebutuhan tenaga kerja.
Karena itu, kehadiran Kelopak Lapan berpotensi memberi efek ekonomi yang lebih luas apabila mampu menjaga tingkat kunjungan dan membangun keterhubungan dengan pelaku usaha lokal.
Tantangan Lapangan Kerja Masih Menjadi Perhatian
Pernyataan Herman Deru mengenai lapangan pekerjaan juga memiliki konteks yang cukup kuat.
BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatera Selatan pada Mei 2026 sebesar 3,60 persen. Angka tersebut sedikit meningkat dibanding Februari 2026 yang berada di level 3,59 persen.
Pada Mei 2026, jumlah penduduk bekerja di Sumatera Selatan mencapai 4,42 juta orang. Namun, struktur ketenagakerjaan juga menunjukkan bahwa pekerjaan formal masih menjadi bagian yang perlu terus diperkuat.
Kondisi itu membuat setiap ekspansi usaha yang mampu menciptakan pekerjaan memiliki arti ekonomi, meski kontribusi satu pusat usaha tentu tidak dapat langsung disamakan dengan penyelesaian persoalan pengangguran secara keseluruhan.
Di sinilah keberadaan pusat kuliner seperti Kelopak Lapan perlu dilihat secara realistis: bukan hanya dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari keberlanjutan usaha, kualitas pekerjaan, penggunaan produk lokal, serta kemampuan menciptakan ekosistem ekonomi di sekitarnya.
Herman Deru Dorong Kuliner Lokal Tetap Dipertahankan
Selain mengapresiasi konsep bangunan dan potensi ekonomi, Herman Deru juga mengingatkan pentingnya mempertahankan menu tradisional khas daerah di tengah berkembangnya kuliner modern.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi Palembang yang memiliki kekayaan kuliner dengan identitas kuat. Pempek, tekwan, model, pindang, dan berbagai makanan khas Sumatera Selatan memiliki peluang untuk terus diperkenalkan melalui ruang kuliner modern.
Dengan demikian, pusat kuliner tidak hanya menjadi tempat transaksi makanan dan minuman, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang promosi budaya kuliner daerah.
Bukan Sekadar Tempat Makan
Bagi sebuah pusat kuliner baru, tantangan setelah seremoni pembukaan justru lebih menentukan dibanding momentum grand opening.
Kelopak Lapan perlu membuktikan apakah daya tarik arsitektur dan konsep yang mendapat apresiasi gubernur dapat diterjemahkan menjadi kunjungan konsumen yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, pengelola harus menjaga kualitas pelayanan, harga, kebersihan, variasi menu, serta konsistensi pengalaman pengunjung.
Jika seluruh unsur tersebut dapat dipertahankan, pusat kuliner semacam ini berpotensi menjadi salah satu simpul baru aktivitas ekonomi masyarakat Palembang.
Sebaliknya, jika pertumbuhan hanya bertumpu pada efek pembukaan dan rasa penasaran konsumen, daya tahan bisnis akan menjadi tantangan tersendiri.
Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Ramainya Pengunjung
Ada satu hal penting yang perlu dilihat setelah Kelopak Lapan resmi beroperasi. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata seberapa ramai tempat tersebut pada masa awal pembukaan, tetapi seberapa besar aktivitas ekonominya mampu bertahan dalam jangka panjang.
Pusat kuliner yang berkelanjutan dapat menciptakan rantai ekonomi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemasok bahan makanan, pekerja dapur dan pelayanan, pelaku UMKM, jasa distribusi, hingga sektor pendukung lainnya dapat memperoleh manfaat apabila aktivitas usaha berlangsung stabil.
Dalam konteks Sumatera Selatan, peluang itu sejalan dengan pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum yang pada semester I 2026 menjadi salah satu lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan sektor tersebut menghasilkan aktivitas ekonomi yang produktif dan pekerjaan yang berkelanjutan.
Setelah Grand Opening, Pembuktian Dimulai
Pemprov Sumatera Selatan memiliki kepentingan untuk mendorong tumbuhnya sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja sekaligus memperkuat aktivitas usaha masyarakat.
Kehadiran Kelopak Lapan dapat menjadi bagian dari dinamika tersebut, terutama karena Palembang merupakan pusat ekonomi dan konsumsi terbesar di Sumatera Selatan.
Namun, dampak ekonominya membutuhkan waktu untuk diukur. Jumlah tenaga kerja yang terserap, keberlanjutan usaha, kontribusi terhadap pemasok lokal, serta kemampuan menarik konsumen secara konsisten menjadi indikator yang lebih penting daripada sekadar seremoni pembukaan.
Pada akhirnya, apresiasi pemerintah terhadap investasi baru akan memiliki makna lebih besar apabila diikuti pembuktian di lapangan. Kelopak Lapan kini menghadapi tahap berikutnya: mempertahankan daya tarik, mengembangkan bisnis, dan membuktikan bahwa pusat kuliner baru tersebut benar-benar mampu memberi nilai tambah bagi ekonomi Palembang.
Kehadiran Kelopak Lapan dengan demikian tidak hanya menambah daftar destinasi kuliner di Kota Palembang. Jika dikelola secara berkelanjutan, ruang usaha seperti ini dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang mempertemukan konsumsi, tenaga kerja, pelaku usaha lokal, dan kekayaan kuliner Sumatera Selatan. (Poerba)

















